KLASIFIKASI HADITS (SAHIH, HASAN, DHAIF, MAUDHU’)

Penulis

  • Ahmad Nurqurbani Institut Agama Kristen Negri Kupang
  • Ahmad Fauzi Tidjani Institut Agama Kristen Negri Kupang
  • Ghina Shafiyyah Institut Agama Kristen Negri Kupang

Kata Kunci:

Hadits, Islam, Perawi

Abstrak

Hadits merupakan sumber utama ajaran Islam setelah Al-Quran, namun keotentikan dan kesahihannya seringkali menjadi perdebatan. Oleh karena itu, klasifikasi hadits menjadi sangat penting untuk menentukan kesahihan dan keotentikan hadits. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kriteria klasifikasi hadits, yaitu sahih, hasan, dhaif, dan maudhu', serta menganalisis kelebihan dan kekurangan masing-masing kriteria.Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria sahih didasarkan pada kontinuitas sanad, kejujuran dan keadilan perawi, serta tidak adanya cacat pada hadits. Kriteria hasan didasarkan pada adanya beberapa jalur sanad yang mendukung, namun masih terdapat kelemahan pada perawi. Kriteria dhaif didasarkan pada kelemahan pada sanad atau matan hadits, sedangkan kriteria maudhu' didasarkan pada kepalsuan hadits yang disengaja.Penelitian ini menyimpulkan bahwa klasifikasi hadits memerlukan analisis yang kritis dan teliti terhadap sanad dan matan hadits, serta mempertimbangkan konteks sejarah dan sosial budaya. Selain itu, penelitian ini juga menyarankan agar para ulama dan peneliti hadits terus melakukan kajian dan penelitian untuk meningkatkan kesahihan dan keotentikan hadits.

Hadith is the primary source of Islamic teachings after the Quran, but its authenticity and validity are often debated. Therefore, hadith classification is crucial for determining its validity and authenticity. This study aims to examine the criteria for hadith classification: sahih, hasan, daif, and maudhu', and to analyze the strengths and weaknesses of each criterion.This research method uses a qualitative approach with literature analysis and case studies. The results show that the criteria for sahih are based on the continuity of the sanad (chain of narrators), the honesty and fairness of the narrators, and the absence of flaws in the hadith. The criteria for hasan are based on the existence of several supporting chains of narrators, but with weaknesses in the narrators. The criteria for daif are based on weaknesses in the sanad or the text of the hadith, while the criteria for maudhu' are based on deliberate falsification of the hadith.This study concludes that hadith classification requires a critical and thorough analysis of the sanad and text of the hadith, as well as consideration of the historical and sociocultural context. In addition, this study also suggests that scholars and hadith researchers continue to conduct studies and research to increase the validity and authenticity of hadith.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-30