REPRESENTASI PENINDASAN PEREMPUAN DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER ANALISIS WACANA KRITIS FAIRCLOUGH

Penulis

  • Delvina Yanti Siahaan Universitas HKBP Nomensen Medan
  • Bindu Ri Magdalena Sihombing Universitas HKBP Nomensen Medan
  • Samuel Pangihutan Banjarnahor Universitas HKBP Nomensen Medan
  • Laura Junima Silalahi Universitas HKBP Nomensen Medan

Kata Kunci:

Penindasan Perempuan, Gadis Pantai, Pramoedya Ananta Toer, Analisis Wacana Kritis, Fairclough, Patriarki

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi penindasan perempuan dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Novel ini merepresentasikan realitas sosial masyarakat Jawa pada masa kolonial yang sarat dengan ideologi patriarki dan ketimpangan kelas sosial. Metode penelitian menggunakan analisis kualitatif deskriptif dengan tiga dimensi analisis wacana Fairclough, yaitu: (1) analisis teks, yang mengkaji struktur bahasa, pilihan diksi, serta narasi yang membangun gambaran ketidakadilan gender; (2) praktik wacana, yang menelaah bagaimana wacana penindasan perempuan diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi melalui relasi tokoh; serta (3) praktik sosial-budaya, yang menyingkap ideologi patriarki dan hegemoni kelas dalam struktur masyarakat feodal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Gadis Pantai digambarkan sebagai korban subordinasi, marginalisasi, dan eksploitasi oleh sistem sosial yang menempatkan perempuan sebagai objek kekuasaan laki-laki. Wacana dalam novel ini sekaligus merefleksikan kritik Pramoedya terhadap praktik feodalisme dan patriarki yang menindas perempuan. Penelitian ini menegaskan bahwa karya sastra dapat menjadi medium untuk mengungkap dan mengkritisi relasi kuasa gender dalam masyarakat.

This study aims to reveal the representation of women's oppression in Pramoedya Ananta Toer's novel Gadis Pantai (Beach Girl) through Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) approach. This novel represents the social reality of Javanese society during the colonial period, which is rife with patriarchal ideology and social class inequality. The research method uses descriptive qualitative analysis with three dimensions of Fairclough's discourse analysis, namely: (1) text analysis, which examines language structure, diction choices, and narratives that construct a picture of gender injustice; (2) discourse practice, which examines how discourses of women's oppression are produced, distributed, and consumed through character relationships; and (3) socio-cultural practices, which reveal patriarchal ideology and class hegemony in a feudal society. The results of the study show that the character Gadis Pantai is depicted as a victim of subordination, marginalization, and exploitation by a social system that positions women as objects of male power. The discourse in this novel also reflects Pramoedya's criticism of feudal and patriarchal practices that oppress women. This study confirms that literary works can be a medium for revealing and criticizing gender power relations in society.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-30