ORIENTALISME DAN STUDI ISLAM: ANTARA BIAS EPISTEMOLOGIS DAN KONTRIBUSI AKADEMIK
Kata Kunci:
Pendekatan Orientalis, Keilmuan Islam Kontemporer, Bias Epistemologi-Ideologis, Paradigma Integratif-InterkonektifAbstrak
Kajian tentang orientalisme memiliki posisi penting dalam memahami hubungan intelektual antara Barat dan Islam. Orientalisme pada dasarnya merupakan upaya ilmiah untuk meneliti Islam melalui pendekatan historis, filologis, dan antropologis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis metodologi dan pendekatan orientalis terhadap berbagai bidang keilmuan Islam—meliputi sejarah, tafsir-hadis, dan tasawuf—serta mengkaji kritik dan relevansinya terhadap studi keislaman kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan menelaah karya dan pemikiran tokoh-tokoh seperti H.A.R. Gibb, Ignaz Goldziher, Reynold A. Nicholson, Azyumardi Azra, Fazlur Rahman, dan M. Amin Abdullah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa orientalisme memiliki dua sisi: di satu pihak mengandung bias epistemologis dan ideologis, namun di pihak lain turut berkontribusi pada pengembangan ilmu-ilmu keislaman secara akademik. Kritik para pemikir Muslim terhadap orientalisme justru melahirkan paradigma integratif-interkonektif yang mempertemukan rasionalitas Barat dan spiritualitas Islam. Dengan demikian, orientalisme dapat menjadi sarana reflektif bagi penguatan epistemologi Islam yang terbuka, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan.



