CAMPUR KODE DALAM RAPAT SEKAA TRUNA JAYA PARANDHITA BANJAR BANDUNG, DESA GUNAKSA, DAWAN, KLUNGKUNG
Kata Kunci:
Campur Kode, Bahasa Bali, Sekaa Truna Truni, Pemuda Bali, Rapat OrganisasiAbstrak
Campur kode adalah penggunaan bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain yang menghasilkan variasi gaya bahasa dengan memanfaatkan kata, klausa, idiom, sapaan, dan lainnya. Seiring perkembangan zaman, fenomena ini semakin sering muncul di kalangan anak muda, baik di media sosial maupun dalam kegiatan organisasi. Penelitian ini dilakukan pada sekaa truna truni Jaya Parandhita Banjar Bandung, Desa Gunaksa, Dawan, Klungkung. Rapat pengurus dan anggota sekaa truna truni dipilih sebagai lokasi penelitian karena ditemukan banyak penggunaan campur kode dalam komunikasi. Anggota dan pengurus merasa lebih nyaman menggunakan bahasa campuran, sehingga jarang sekali menggunakan bahasa Bali secara penuh dalam rapat. Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah yang diangkat meliputi, Bagaimana bentuk campur kode yang muncul dalam rapat sekaa truna Jaya Parandhita Banjar Bandung, Desa Gunaksa, Dawan, Klungkung? Apa faktor penyebab campur kode yang ditemukan dalam rapat sekaa truna Jaya Parandhita Banjar Bandung, Desa Gunaksa, Dawan, Klungkung? Apa fungsi penggunaan campur kode dalam rapat di lingkungan sekaa truna Jaya Parandhita Banjar Bandung, Desa Gunaksa, Dawan, Klungkung? Teori yang digunakan Adalah teori campur kode, teori sosiolinguistik, dan teori pemertahanan Bahasa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Kulatiatif dengan jenis penelitian Deskritif Kualitatif. Data diperoleh menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah bentuk campur kode yang muncul adalah bentuk campur kode dalam tataran kata, frasa, dan klausa. Faktor penyebabnya adalah (1) faktor usia, (2) faktor Pendidikan, dan (3) faktor pergaulan. Fungsi dari campur kode adalah (1) fungsi keakraban, (2) fungsi identitas kelompok, dan (3) fungsi praktis.
Code-switching is the use of elements from one language to another, producing variations in linguistic style through words, clauses, idioms, greetings, and other forms. Along with the development of modern communication, this phenomenon has become increasingly common among young people, both in social media and organizational activities. This study was conducted at Sekaa Truna Truni Jaya Parandhita, Banjar Bandung, Gunaksa Village, Dawan District, Klungkung Regency. Meetings of the youth organization were chosen as the research setting because code-switching was frequently observed in communication. Members and administrators felt more comfortable using mixed language, which resulted in the limited use of Balinese language during formal meetings. This research raises three main questions: What forms of code-switching appear in organizational meetings? What factors cause the occurrence of code-switching? And what functions does code-switching serve in the meetings of Sekaa Truna Truni Jaya Parandhita? The theories applied include code-switching theory, sociolinguistics theory, and language maintenance theory. The study uses a qualitative descriptive approach, with data collected through observation, interviews, documentation, and literature review. The findings show that the forms of code-switching identified include word-level, phrase-level, and clause-level code-switching. The factors causing code-switching are (1) age, (2) education, and (3) social interaction. The functions of code-switching are (1) fostering familiarity, (2) strengthening group identity, and (3) practical communication.




