EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM DI WILAYAH BATANG HARI JAMBI PADA MASA KOLONIAL BELANDA (1922-1942)
Kata Kunci:
Pemanfaatan, Penjajahan, Batang HariAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan sumber daya alam di Batang Hari, Jambi, selama periode penjajahan Belanda dari tahun 1922 hingga 1942 serta efeknya terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan sejarah dengan cara deskriptif-kualitatif melalui pengkajian literatur. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa Belanda mengeksploitasi kekayaan alam Jambi, terutama hasil hutan, tanaman karet, dan minyak bumi, untuk kepentingan ekonomi mereka. Perkebunan karet mengalami perkembangan yang pesat dan menjadi produk utama untuk ekspor, sedangkan penambangan minyak bumi dilakukan oleh perusahaan asing seperti NV NIAM di Bajubang sejak tahun 1922. Sungai Batang Hari memiliki peran yang krusial sebagai jalur perdagangan dan transportasi hasil dari kebun serta tambang. Eksploitasi ini mengakibatkan dampak negatif seperti kerusakan lingkungan, perubahan dalam pola ekonomi masyarakat, dan ketidakadilan sosial akibat sistem kerja kolonial. Meskipun sektor karet memberikan dorongan bagi ekonomi masyarakat, sebagian besar keuntungan masih dikuasai oleh pemerintah kolonial dan perusahaan dari luar negeri. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa exploitasi sumber daya alam pada masa penjajahan meninggalkan dampak pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan yang masih terasa hingga kini.
This study aims to examine the use of natural resources in Batang Hari, Jambi, during the Dutch colonial period from 1922 to 1942 and its impact on the environment, society, and local economy. The method used is a historical approach with a descriptive-qualitative approach through a literature review. The research findings indicate that the Dutch exploited Jambi's natural resources, particularly forest products, rubber plants, and petroleum, for their economic interests. Rubber plantations experienced rapid growth and became a primary export product, while petroleum mining was carried out by foreign companies such as NV NIAM in Bajubang starting in 1922. The Batang Hari River played a crucial role as a trade route and transportation route for plantation and mining products. This exploitation resulted in negative impacts such as environmental damage, changes in community economic patterns, and social injustice due to the colonial labor system. Although the rubber sector provided a boost to the community's economy, the majority of profits were still controlled by the colonial government and foreign companies. This study underscores that the exploitation of natural resources during the colonial period left economic, social, and environmental impacts that are still felt today.




