BENTUK VARIASI BAHASA PENUTUR PADA PERISTIWA TUTUR MASYARAKAT MULTI ETNIK DI PASAR OESAPA KOTA KUPANG

Penulis

  • Yudit Yudiarson Sabuna Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • Arnot A. Kolnel Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • Sanhedri Boimau Universitas Persatuan Guru 1945 NTT

Kata Kunci:

Variasi Bahasa, Peristiwa Tutur, Masyarakat Multi Etnik

Abstrak

Skripsi berjudul, “Bentuk Variasi Bahasa Penutur Pada Peristiwa Tutur Masyarakat Multi Etnik di Pasar Oesapa Kota Kupang”, Oleh Yudit Yudiarson Sabuna, NIM. 2288201073. Dibimbing oleh Arnot A. Kolnel, S.Pd., M.Hum., Selaku pembimbing I dan Sanhedri Boimau, S.Pd., M.Hum., Selaku pembimbing II. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja jenis variasi bahasa yang terjadi pada peristiwa tutur di Pasar Oesapa-Kota Kupang, dengan tujuan penelitian untuk mendeskripsikan jenis variasi bahasa yang terjadi pada peristiwa di Pasar Oesapa-Kota Kupang. Manfaat dari penelitian ini, diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dalam penelitian bidang kebahasaan khususnya variasi bahasa. Teori yang digunakan adalah teori sosiolinguistik dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik penggumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, perekaman, dan dokumentasi. Teknik Analisa data yang digunakan adalah transkripsi, penerjemahan, reduksi, penyajian, analisis, dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis variasi bahasa dalam peristiwa tutur di Pasar Oesapa Kota Kupang yakni: 1) variasi idiolek : kata dramatis (manyala, bagarak); sapaan sayang (oma, kak sayang), dan ada yang kreatif dengan metafora (harga bersahabat); 2) Variasi dialek yang ditemukan dalam kosakata dan partikel khas Melayu Kupang (beta, pung, sa, ko, dong, sonde, beta) serta sapaan daerah (kaka tana, bo’i, oma, bae’ dan umbu); 3) variasi kronolek terlihat bahwa  generasi tua cenderung mempertahankan bentuk dialek tradisional (ondersup), sedangkan generasi muda mencampurkan istilah asing (fresh, skip); 4) Variasi sosiolek di temukan pada  perbedaan pilihan kata dan tingkat keformalan antara penjual (cenderung menggunakan Melayu Kupang kasar/akrab) dan pembeli (kadang menggunakan Bahasa Indonesia baku atau sapaan hormat) yang menunjukkan adanya stratifikasi sosial. Selain itu, komunitas pedagang memiliki kode tersendiri (bos, ma, harga pas) yang berbeda dengan masyarakat umum; 5) Selain variasi bahasa juga di temukan register berupa strategi negosiasi yang di pakai oleh penjual untuk mempengaruhi pembeli dengan menggunakan gaya bahasa persuasif.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29