STRUKTUR KALIMAT SYARTHIYYAH DALAM SURAH AL-KAHFI: PERSPEKTIF ILMU NAHWU

Penulis

  • Aang Saeful Milah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Muhamad Surya Maulana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Muhamad Raissa Evwira Akmal UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Abdul Muiz UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Hayuni UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Kata Kunci:

Nahwu, Jumlah Syarṭiyyah, Surah Al-Kahfi, Sintaksis, Tafsir

Abstrak

Penelitian ini mengkaji jumlah syarṭiyyah (kalimat bersyarat) dalam Surah Al-Kahfi melalui perspektif sintaksis bahasa Arab (nahwu). Latar belakang penelitian ini bermula dari kebutuhan mendasar akan ketepatan gramatikal dalam memahami linguistik Al-Qur'an, guna mengisi kekosongan literatur terdahulu terkait analisis sintaksis integratif pada struktur kondisional tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi partikel syarat, mengklasifikasikannya secara taksonomis, menganalisis relasi dependensi antara prasyarat dan konsekuensi, serta menyintesiskan mekanika tata bahasa tersebut dengan implikasi tafsirnya. Menggunakan metode penelitian kepustakaan kualitatif, studi ini menerapkan pendekatan deskriptif-analitis yang berlandaskan pada epistemologi nahwu klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalimat bersyarat bukan sekadar sisipan retoris, melainkan berfungsi sebagai tulang punggung argumentatif yang menggerakkan narasi epik surah tersebut, dengan memanfaatkan partikel jāzimah dan ghair jāzimah secara strategis. Kesimpulannya, nahwu bertindak sebagai fondasi absolut dalam interpretasi teks, di mana modifikasi tata bahasa sekecil apa pun, seperti perubahan harakat atau pembuangan klausa, memicu dampak semantis mendalam yang mengonstruksi makna teologis secara presisi

This study examines the jumlah syarṭiyyah (conditional sentences) in Surah Al-Kahfi through the lens of Arabic syntax (nahwu). The background stems from the fundamental need for grammatical precision in understanding Qur'anic linguistics, addressing a clear gap in previous literature concerning integrative syntactic analyses of these conditional structures. The research aims to identify conditional particles, classify them taxonomically, analyze structural dependencies between conditions and consequences, and synthesize these grammatical mechanics with their exegetical implications. Employing a qualitative library research method, this study utilizes a descriptive-analytical approach grounded in classical nahwu epistemology. The results demonstrate that conditional sentences are not mere rhetorical insertions but serve as the argumentative backbone driving the surah's epic narratives, strategically utilizing both jāzimah and ghair jāzimah particles. In conclusion, nahwu serves as the absolute foundation for textual interpretation, where even minor grammatical modifications, such as vowel shifts or clause omissions, trigger profound semantic impacts that construct precise theological meanings.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29