GAMBARAN UMUM TOLERANSI DISTRES DAN BURNOUT PADA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMK DI KABUPATEN DAN KOTA TASIKMALAYA
Kata Kunci:
Toleransi Distress, Burnout, Guru Bimbingan Dan KonselingAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh toleransi distress terhadap burnout pada Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMK di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Subjek penelitian berjumlah 94 Guru BK SMK. Data dikumpulkan menggunakan skala toleransi distress dan skala burnout, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara toleransi distress dan burnout (r = −0,497; p < 0,01). Toleransi distress memberikan kontribusi sebesar 24,7% terhadap burnout. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi toleransi distress, semakin rendah tingkat burnout guru BK. Oleh karena itu, toleransi distress berperan sebagai faktor protektif dalam menekan burnout pada guru BK.
This study aimed to examine the effect of distress tolerance on burnout among vocational high school guidance and counseling teachers in Tasikmalaya Regency and City. A quantitative approach with a correlational predictive design was employed. The participants were 94 guidance and counseling teachers selected using total sampling. Data were collected using distress tolerance and burnout scales and analyzed through Pearson correlation and simple linear regression. The results indicated a significant negative relationship between distress tolerance and burnout (r = −0.497, p < 0.01). Distress tolerance contributed 24.7% to the variance in burnout. These findings suggest that higher distress tolerance is associated with lower burnout levels. Therefore, distress tolerance plays a protective role in reducing burnout among guidance and counseling teachers.



