https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpr/issue/feedJurnal Psikologi Revolusioner2026-06-29T18:44:55+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpr/article/view/22515FAKTOR PSIKOLOGIS YANG MEMENGARUHI KEJUJURAN ASESMEN KLINIS Universitas Negeri Gorontalo2026-06-04T02:34:47+00:00Fatwa Ananta Putri Dwiani Lamusu171424056@mahasiswaung.ac.idMuzwar Nawawi171424073@mahasiswaung.ac.idNabila A. Dani171424055@mahasiswaung.ac.idIsniarty Gintulangiisniarty.gintulangi@ung.ac.id<p>Kejujuran klien dalam asesmen klinis merupakan komponen fundamental yang menentukan validitas diagnosis dan efektivitas intervensi psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor psikologis yang memengaruhi kejujuran dalam proses asesmen klinis. Metode yang digunakan adalah literature review sistematis terhadap 25 artikel ilmiah nasional dan internasional yang diterbitkan dalam rentang waktu 2021–2026. Hasil tinjauan literatur menunjukkan bahwa kejujuran dalam asesmen klinis dipengaruhi oleh empat kelompok faktor utama: (1) social desirability bias, yang meliputi self-deception dan impression management; (2) karakteristik kepribadian, terutama dimensi Honesty-Humility dan dark personality traits; (3) faktor emosional dan stigma, seperti rasa malu, kecemasan, ketakutan terhadap konsekuensi sosial, serta stigma terhadap gangguan mental yang mendorong selective disclosure; dan (4) kondisi psikopatologi dan dinamika hubungan terapeutik. Ketidakjujuran dalam asesmen berdampak pada penurunan validitas data klinis, kesalahan diagnosis, dan ketidaktepatan intervensi yang diberikan. Upaya peningkatan kejujuran dapat dilakukan melalui penciptaan lingkungan asesmen yang suportif, bebas stigma, dan menjamin kerahasiaan, serta penggunaan pendekatan integratif yang menggabungkan self-report, observasi klinis, instrumen validitas jawaban, dan pemanfaatan teknologi seperti artificial intelligence.</p> <p><em>Client honesty in clinical assessment is a fundamental component that determines the validity of diagnosis and the effectiveness of psychological intervention. This study aims to identify and analyze the psychological factors that influence honesty in the clinical assessment process. A systematic literature review method was employed, examining 25 national and international scientific articles published between 2021 and 2026. The findings reveal that honesty in clinical assessment is influenced by four major factor clusters: (1) social desirability bias, encompassing self-deception and impression management; (2) personality characteristics, particularly the Honesty-Humility dimension and dark personality traits; (3) emotional factors and stigma, including shame, anxiety, fear of social consequences, and stigma surrounding mental disorders that drive selective disclosure; and (4) psychopathological conditions and the dynamics of the therapeutic relationship. Dishonesty in assessment results in reduced clinical data validity, diagnostic errors, and inappropriate interventions. Efforts to enhance honesty can be made by creating a supportive, stigma-free assessment environment that guarantees confidentiality, alongside the use of integrative approaches combining self-report, clinical observation, response validity instruments, and emerging technologies such as artificial intelligence.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpr/article/view/22902KONSEP-KONSEP DASAR FISIKA2026-06-11T10:02:49+00:00Nur Hikmah Alfianinurhikmahalfiani@icloud.comNur Fatimahnurfatimah43000@gmail.comMustika Sari’ah Siagianhananmustikasariahsiagian@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran terhadap hasil belajar siswa di Madrasah Ibtidaiyah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Populasi penelitian adalah seluruh siswa Madrasah Ibtidaiyah, sedangkan sampel penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, tes, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Siswa yang belajar menggunakan media pembelajaran memperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar menggunakan metode konvensional. Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah.</p> <p><em>This study aims to determine the effect of learning media on students' learning outcomes in Islamic Elementary Schools (Madrasah Ibtidaiyah). The research employed a quantitative approach with an experimental method. The population consisted of all students of Madrasah Ibtidaiyah, while the sample was selected using purposive sampling techniques. Data were collected through observation, tests, and documentation. The data were analyzed using descriptive and inferential statistical analysis. The findings revealed that the use of learning media had a positive effect on students' learning outcomes. Students who learned through learning media achieved better learning outcomes compared to those who learned through conventional methods. Therefore, learning media can be considered an effective alternative to improve the quality of teaching and learning processes in Madrasah Ibtidaiyah</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpr/article/view/22605EVALUASI ASESMEN JARAK JAUH: TINJAUAN EVALUASI LAYANAN PSIKOLOGI ONLINE MELALUI WAWANCARAA2026-06-06T03:06:44+00:00Devy Sekar Ayu Ningrumdevysekar@ung.ac.idSitti Rahma Zuleykha Aven Hinelosittirahmazuleykhaavenhinelo@gmail.comNazwa Rizkia Ismailnazwaismail22@gmail.comHusnul Marhamah Ifka MShusnulmarhamah44@gmail.comIndah khairunnisa Pakayaririna.pakaya@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi asesmen jarak jauh yakni evaluasi layanan psikologis online. Dimana metode dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara kepada mahasiswa dan mahasiswi yang ada di Universitas Negeri Gorontalo dan sudah pernah melakukan asesmen psikologis secara online. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa asesmen psikologis online cukup efektif untuk menjadi sarana deteksi dini. Namun, berdasarkan hasil wawancara, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas asesmen klinis online sangat bergantung pada stabilitas teknologi dan kemampuan subjek dalam mengekspresikan diri secara verbal. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya perkembangan layanan psikologi online dapat mendukung perkembangan pelayanan kesehatan mental berbasis digital atau jarak jauh dalam bidang psikologi klinis.</p> <p><em>This study aims to evaluate remote assessment, specifically online psychological services. The research method involved conducting interviews with male and female students at Gorontalo State University who had previously undergone online psychological assessments. The results of the study indicate that online psychological assessments are quite effective as a tool for early detection. However, based on the interview results, this study suggests that the effectiveness of online clinical assessments is highly dependent on technological stability and the subject’s ability to express themselves verbally. Therefore, this indicates that the development of online psychological services can support the advancement of digital or remote mental health services in the field of clinical psychology.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpr/article/view/22553MANAJEMEN STRES UNTUK MENURUNKAN STRES AKADEMIK MAHASISWA: LITERATURE REVIEW2026-06-04T11:54:11+00:00Azmi Fauziah F. Lambauseazmifauziah442@gmail.comAgung Rai Naila Sariagungrainailasari@gmail.comNabilla Syahrani Walangadi171424035@mahasiswa.ung.ac.idNabila Mamontonabilamamonto9@gmail.comDevy Sekar Ayu Ningrumdevysekar@ung.ac.id<p>Stres akademik merupakan tantangan signifikan bagi mahasiswa yang menghambat prestasi dan kesejahteraan mental. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi manajemen stres efektif melalui tinjauan literatur terhadap artikel ilmiah (2021–2026). Kajian didasarkan pada Teori Stres dan Coping Lazarus dan Folkman, yang menekankan interaksi individu dengan tuntutan lingkungan serta proses penilaian terhadap tekanan tersebut. Hasil analisis menunjukkan stres dipengaruhi faktor internal seperti regulasi diri dan manajemen waktu, serta faktor eksternal berupa tekanan akademik dan dukungan sosial. Intervensi yang terbukti efektif meliputi pelatihan manajemen waktu, dukungan teman sebaya, strategi koping adaptif, teknik relaksasi, hingga pendekatan inovatif seperti art therapy dan teknologi kecerdasan buatan. Temuan ini selaras dengan konsep Self-Regulated Learning yang menonjolkan peran aktif mahasiswa dalam mengelola beban belajar. Kesimpulannya, manajemen stres terintegrasi yang mengombinasikan strategi internal, dukungan eksternal, dan pendekatan kreatif sangat esensial untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis serta resiliensi mahasiswa dalam jangka panjang.</p> <p><em>Academic stress significantly hinders students' achievement and mental well-being. This literature review (2021–2026) aims to identify effective stress management strategies based on Lazarus and Folkman’s Stress and Coping Theory, focusing on individual-environment interactions and pressure appraisal. Analysis reveals that stress is influenced by internal factors (self-regulation, time management) and external factors (academic pressure, social support). Effective interventions include time management training, peer support, adaptive coping, relaxation techniques, and innovative approaches like art therapy and AI technology. These findings align with Self-Regulated Learning, emphasizing students' active roles in managing academic loads. In conclusion, integrated stress management combining internal strategies, external support, and creative approaches is essential for enhancing psychological well-being and long-term resilience.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpr/article/view/22648DEPRESI PADA REMAJA: FAKTOR PENYEBAB, DAMPAK, DAN PERAN SELF-DIAGNOSIS DI MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF PSIKOPATOLOGI2026-06-07T06:58:24+00:00Anggun Khairun Nisa Tolinggianggunnangun@gmail.comTisha Azzahra Kusumatishaazzahrak23@gmail.comRubiana Mugniah Jusufrubianamjusuf@gmail.comDevy Sekar Ayu Ningrumdevysekarayuningrum89@gmail.com<p>Depresi pada remaja menjadi salah satu persoalan kesehatan mental yang semakin memperoleh perhatian, khususnya pada era perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat pesat. Tulisan ini bertujuan mengkaji depresi pada remaja dalam perspektif psikopatologi melalui pembahasan mengenai faktor-faktor penyebab, dampak yang ditimbulkan, serta fenomena self-diagnosis di media sosial. Penelitian disusun menggunakan metode literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari artikel ilmiah yang ditelusuri melalui Google Scholar, PubMed, dan SINTA pada rentang tahun 2020–2026. Data dianalisis menggunakan teknik content analysis terhadap lima belas artikel yang sesuai dengan fokus penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa depresi pada remaja dipengaruhi oleh keterkaitan berbagai faktor, antara lain kondisi biologis, aspek psikologis, lingkungan keluarga, hubungan sosial, tekanan akademik, serta intensitas penggunaan media sosial. Kondisi depresi memberikan dampak terhadap aspek emosional, kemampuan kognitif, interaksi sosial, dan prestasi akademik remaja. Selain itu, kemudahan akses informasi kesehatan mental di media sosial turut mendorong munculnya perilaku self-diagnosis pada remaja. Fenomena tersebut dapat meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental, namun juga berpotensi menimbulkan kesalahan pemahaman mengenai kondisi psikologis yang dialami dan menghambat pencarian bantuan profesional. Oleh sebab itu, penguatan literasi kesehatan mental dan pendampingan lingkungan sosial yang suportif menjadi hal yang penting dalam upaya pencegahan dan penanganan depresi pada remaja.</p> <p><em>Adolescent depression has become one of the mental health issues that has received increasing attention, particularly amid the rapid development of digital technology. This article aims to examine adolescent depression from a psychopathological perspective by discussing its causal factors, impacts, and the phenomenon of self-diagnosis on social media. The study employed a literature review method with a qualitative descriptive approach. Data were obtained from scientific articles indexed in Google Scholar, PubMed, and SINTA published between 2020 and 2026. The data were analyzed using content analysis techniques on fifteen articles relevant to the research focus. The findings indicate that adolescent depression is influenced by the interaction of various factors, including biological conditions, psychological aspects, family environment, social relationships, academic pressure, and excessive use of social media. Depression affects adolescents’ emotional conditions, cognitive functioning, social interactions, and academic performance. In addition, easy access to mental health information on social media has contributed to the emergence of self-diagnosis behavior among adolescents. Although this phenomenon may increase awareness of mental health issues, it also has the potential to create misunderstandings regarding psychological conditions and delay professional help-seeking. Therefore, strengthening mental health literacy and supportive social environments is essential in preventing and addressing adolescent depression. </em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jpr/article/view/22568PENGARUH BODY IMAGE TERHADAP ANOREXIA NERVOSA: TINJAUAN NARATIF2026-06-05T05:47:25+00:00Wafa Huurina Sholihahwafaahuurina@gmail.comSuci Nurillahi Amran Sugehasucinurilahi6@gmail.com<p>Standar kecantikan yang mengidealkan tubuh kurus dapat memengaruhi cara individu memandang dirinya sendiri, yang sering kali menyebabkan ketidakpuasan terhadap tubuh dan citra tubuh (body image) yang negatif. Citra tubuh negatif berkaitan erat dengan perilaku diet yang tidak sehat seperti pembatasan makan dan kelaparan yang disengaja, yang dapat meningkatkan risiko berkembangnya anoreksia nervosa, yaitu gangguan makan yang ditandai dengan ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan dan penolakan terhadap bentuk tubuh sendiri. Tinjauan naratif ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara body image dan munculnya kecenderungan anoreksia nervosa, khususnya pada remaja perempuan. Kajian dilakukan dengan menelusuri literatur ilmiah yang relevan dari berbagai basis data, termasuk Google Scholar, PubMed, GARUDA, dan sumber akademik lainnya, yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Sebanyak 14 artikel dipilih berdasarkan relevansi topik dan kontribusinya dalam memahami pengaruh body image terhadap anoreksia nervosa. Hasil kajian menunjukkan bahwa citra tubuh negatif memiliki hubungan yang kuat dengan kecenderungan anoreksia nervosa. Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh mendorong individu untuk melakukan diet ketat, membatasi asupan makanan, dan mengembangkan perilaku makan yang tidak sehat. Faktor-faktor seperti paparan media sosial, body shaming, stres psikologis, dan tekanan teman sebaya semakin memperkuat persepsi negatif terhadap tubuh serta meningkatkan risiko anoreksia nervosa. Namun, body image bukan satu-satunya faktor penyebab, karena gangguan ini berkembang melalui interaksi antara faktor psikologis, sosial, dan biologis. Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu difokuskan pada penguatan penerimaan diri, pembentukan citra tubuh yang positif, promosi pola makan sehat, serta pengurangan tekanan sosial terkait standar tubuh ideal yang tidak realistis.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Psikologi Revolusioner