ANALISIS PENENTUAN HARGA PRODUK MENGGUNAKAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING PADA PERUSAHAAN SUKU CADANG SEPEDA

Penulis

  • Ardin Dolok Saribu Universitas HKBP Nommensen Medan
  • Yeni Friska Silalahi Universitas HKBP Nommensen Medan
  • Tiara Nabilah Sijabat Universitas HKBP Nommensen Medan
  • Rachel Vita Adelia Silitonga Universitas HKBP Nommensen Medan
  • Anastasya Indriani Pasaribu Universitas HKBP Nommensen Medan
  • Daniel Partogi Simanjuntak Universitas HKBP Nommensen Medan
  • Lewi Eva Boangmanalu Universitas HKBP Nommensen Medan

Kata Kunci:

Activity-Based Costing (ABC), Volume-Based Costing (VBC), Penentuan Harga Produk, Overhead Manufaktur, dan Cost-Plus Pricing

Abstrak

Dalam makalah ini, , “Competitive Pricing Strategy with Activity-Based Costing”, A Case Study of a Bicycle Component Company”, diterbitkan dalam Procedia CIRP Volume 63. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana perusahaan suku cadang sepeda menggunakan metode Activity-Based Costing (ABC) untuk menentukan harga produk. Studi ini juga mengevaluasi kelebihan dan kekurangan metode yang digunakan dalam jurnal utama tersebut. Dengan tekanan harga yang kuat dari produsen berbiaya rendah seperti Tiongkok dan Vietnam, industri suku cadang sepeda sangat kompetitif di seluruh dunia. Perusahaan yang menjadi subjek penelitian ini adalah perusahaan suku cadang sepeda di Taiwan yang mengalami distorsi biaya sebagai akibat dari penggunaan sistem biaya berbasis volume (VBC) yang hanya mengandalkan satu pemicu biaya, yaitu jam kerja langsung. Untuk menyelesaikan masalah ini, metode Activity-Based Costing (ABC) diterapkan secara sistematis melalui sebelas langkah yang terorganisir. Langkah-langkah ini meliputi penetapan tujuan, pembentukan tim lintas departemen, analisis alur produksi, pembagian aktivitas ke dalam lima tingkat hierarki (unit, batch, produk, pelanggan, dan fasilitas), pemilihan penggerak sumber daya dan penggerak biaya aktivitas, pembuatan basis data biaya, dan perbandingan hasil perhitungan biaya antara sistem VBC. Dalam penelitian ini, sembilan produk utama dalam tiga kategori: garpu depan (F1, F2, F3), tabung kursi (P1, P2, P3) dan peredam kejut belakang (R1, R2, R3), dibuat menggunakan sembilan kluster mesin CNC dan proses perakitan. Hasil analisis menunjukkan distorsi biaya yang signifikan. Dalam sistem VBC, produk F1, P1, P3, dan R1 mengalami overcosting, yang menyebabkan harga jualnya tidak kompetitif di pasar. Sebaliknya, produk F2 mengalami undercosting sebesar NT$153 per unit dan produk F3 mengalami overcosting sebesar NT$274 per unit. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem VBC secara inheren menyebabkan distorsi informasi biaya pada perusahaan dengan struktur overhead yang tinggi dan banyak produk yang berbeda. Sebaliknya, informasi biaya per unit yang jauh lebih akurat dapat dihasilkan oleh sistem ABC, yang menggunakan tujuh hingga sembilan penggerak biaya yang berbeda dan relevan. Hal ini memungkinkan manajemen untuk membuat strategi harga yang bergantung pada metode cost-plus yang lebih proporsional dan kompetitif. Studi krisis ini menemukan lima kekuatan utama jurnal Lu et al. (2017): pertama, struktur implementasi ABC yang terstruktur dalam sebelas langkah yang dapat dipratikkan secara langsung; kedua, bukti empiris tentang distorsi biaya yang diukur dengan angka konkret; tiga, penggunaan berbagai penggerak biaya aktivitas yang memenuhi empat kriteria Cooper dan Kaplan; empat, relevansi yang signifikan terhadap kondisi industri manufaktur modern dengan dominasi overhead akibat otomatisasi; dan kelima, database ABC yang dapat diperbarui dan bertahan lama . Sebaliknya, penelitian ini menemukan lima kelemahan utama. Kelemahan pertama adalah bahwa penelitian tersebut hanya membahas satu divisi dari satu perusahaan di Taiwan, sehingga tidak dapat digeneralisasikan. Yang kedua adalah bahwa tidak ada diskusi tentang biaya dan kesulitan implementasi ABC, dan yang ketiga adalah bahwa tidak ada evalusi dampak keuangan jangka panjang pascaimplementasi. Yang keempat adalah tidak membahas apakah ABC dapat diterapkan pada UMKM manufaktur. Yang kelima adalah bahwa penelitian tersebut tidak mengintegrasikan sistem ABC dengan platform digital atau ERP.

 

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29