CINTA EROTIS MENURUT ERICH FROMM DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN BERKELUARGA MASA KINI
Kata Kunci:
Kehidupan Keluarga, Cinta Erotis, Empat Unsur MencintaiAbstrak
Erich Fromm memandang cinta bukan sekadar emosi spontan, daya tarik hasrat yang menggebu-gebu, melainkan lebih dari itu cinta merupakan sutau seni yang menuntun pengetahuan, tanggung jawab, dan komitmen. Dalam kerangka pemikiranya, cinta erotis merupakan cinta yang intim dan penuh gairah antara dua pasangan dan mewakili naluri individu untuk bertahan hidup. Cinta Erotis yang otentik berakar pada kematangan pribadi di mana seseorang menempatkan hasrat untuk bersatu sepenuhnya dengan yang lain bukanlah hasrat seksual semata melainkan hasrat untuk bersatu dengan yang lain dengan berdasarkan pada perhatian, tanggung jawab, hormat dan pengenalan. Tanpa dimensi ini, cinta erotis mudah tereduksi menjadi nafsu sesaat, posesivitas, atau hubungan yang bersifat konsumtif. Berkaitan dengan cinta erotis, problematika ini sudah marak terjadi di dalam kehidupan keluarga zaman ini, karena pasangan suami istri salah mengartikan serta salah mengekspresikan cinta yang sesungguhnya. Akibatnya dalam dinamika hubungan suami dan istri, tidak terjadinya keseimbangan dan stabilitas antara kematangan emosional, gairah seksual, serta ikatan cinta yang matang yang mengakibatkan pasangan suami dan istri masuk dalam taraf destruktif dalam hubungan. Relevansi pemikiran Fromm bagi kehidupan keluarga terletak pada pemahamannya bahwa cinta erotis yang matang menjadi fondasi yang penting bagi relasi suami dan istri yang sehat dan berkelanjutan. Dalam konteks kelarga, cinta erotis tidak hanya meneguhkan ikatan emosional dan fisik pasangan, tetapi juga menciptakan ruang bagi pertumbuhan bersama, stabilitas relasi, serta pendidikan nilai cinta bagi anak-anak.
Erich Fromm views love not merely as a spontaneous emotion or a passionate surge of desire, but rather as an art that demands knowledge, responsibility, and commitment. Within his framework of thought, erotic love is an intimate and passionate form of love between two partners, representing the individual’s instinct for survival. Authentic erotic love is rooted in personal maturity, where one’s desire to unite completely with another is not solely sexual but stems from care, responsibility, respect, and recognition. Without these dimensions, erotic love is easily reduced to momentary lust, possessiveness, or a consumptive relationship. Regarding erotic love, this issue has become widespread in contemporary family life, as married couples misunderstand and misexpress true love. Consequently, in marital dynamics, there is a lack of balance and stability between emotional maturity, sexual passion, and a mature bond of love—leading couples into destructive patterns in their relationship. Fromm’s ideas are relevant to family life in that mature erotic love serves as a crucial foundation for a healthy and sustainable marital relationship. In the family context, erotic love not only strengthens the couple’s emotional and physical bond but also creates space for mutual growth, relationship stability, and the teaching of love values to children.




