ANALISIS PARTISIPASI MASYARAKAT DAN HAMBATAN DALAM PROSES PEMBANGUNAN DESA

(Studi Kasus Desa Kalabeso, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, 2025–2026)

Penulis

  • Aji Portuna Universitas Teknologi Sumbawa

Kata Kunci:

Partisipasi Masyarakat, Pembangunan Desa, Hambatan Partisipasi, Fungsionalisme Struktural, Skema AGIL

Abstrak

Partisipasi masyarakat merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan desa, namun di Desa Kalabeso, Kecamatan Buer, tingkat partisipasi tersebut belum berjalan optimal. Warga banyak terlibat pada tahap pelaksanaan fisik (gotong royong), sementara keterlibatan dalam perencanaan (Musrenbangdes) dan evaluasi masih bersifat simbolik, terutama bagi perempuan dan pemuda. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan tingkat partisipasi masyarakat serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam dengan tujuh kelompok narasumber, observasi, dan kajian dokumen, yang dianalisis menggunakan teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons dengan skema AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi Integrasi berjalan paling baik karena ditopang nilai gotong royong dan ajaran Islam. Fungsi Adaptasi dan Pencapaian Tujuan tergolong cukup baik, dengan realisasi 80% target RPJMDes, meskipun aspirasi perempuan dan pemuda belum sepenuhnya terakomodasi. Fungsi Pemeliharaan Pola merupakan fungsi yang paling terancam akibat pergeseran nilai generasi muda ke arah individualistis dan ketergantungan pada bantuan sosial instan. Hambatan utama partisipasi meliputi orientasi manfaat jangka pendek, tekanan ekonomi sektor pertanian, norma gender, serta kebiasaan menyalurkan aspirasi melalui RT/RW. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan pembangunan yang lebih inklusif, berbasis kearifan lokal, dan berkeadilan gender untuk memperkuat partisipasi masyarakat.

Community participation is a key determinant of successful village development, yet in Kalabeso Village, Buer District, participation remains suboptimal. Residents are mostly involved in physical implementation (mutual cooperation), while involvement in planning (Musrenbangdes) and evaluation remains largely symbolic, especially among women and youth. This study describes the forms and levels of community participation and identifies its barriers using a qualitative descriptive approach, with in-depth interviews of seven informant groups, field observation, and document review, analyzed through Talcott Parsons' Structural Functionalism and the AGIL scheme (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency). Results show that the Integration function works best, sustained by mutual-cooperation values and Islamic teachings. Adaptation and Goal Attainment perform fairly well, with 80% of RPJMDes targets achieved, though women's and youth's aspirations remain under-represented. The Latency function faces the greatest threat from the younger generation's shift toward individualism and dependence on instant social aid. Main barriers include short-term benefit orientation, agricultural economic pressure, gender norms, and reliance on RT/RW intermediaries. An inclusive, locally grounded, and gender-equitable development approach is needed to strengthen participation.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-30