PELESTARIAN TENUN IKAT BAGI GENERASI MUDA DI DESA BALAWELING KECAMATAN WITIHAMA KABUPATEN FLORES TIMIUR

Penulis

  • Elisabet Ose Roman Unwira Kupang
  • Urbanus Ola Unwira Kupang

Kata Kunci:

upaya pelestarian, tenun ikat adonara, generasi muda

Abstrak

Indonesia memiliki kekayaan berbagai jenis kain tradisional yang begitu indah dan unik. Salah satunya adalah kain tenun ikat lamaholot yang memiliki corak tertentu yang menghasilkan motif khas untuk keperluan tradisional. Seiring dengan dinamika zaman dan selera fashion yang berubah-ubah, maka perlu dikembangkan desain motif baru sesuai dengan tuntutan zaman. Tenun ikat juga merupakan cita-cita untuk mendorong terwujudnya perubahan sosial dimulai dari diri sendiri. Tenun ikat bagi wanita lamaholot memiliki arti tradisional bahwa seorang wanita lamaholot dapat dikatakan dewasa dan dapat menikah jika dia dapat menenun dengan baik Karena menenun membutuhkan waktu yang lama dan penuh kesabaran dan di situlah kedewasaan dan kesabaran seorang wanita dihargai. Bagi masyarakat lamaholot pada umumnya, menenun adalah kekuatan keterampilan yang telah diwariskan sejak dahulu kala. Keterampilan menenun di masa lalu menjadi ukuran harga diri dan martabat serta menjadi bekal wajib untuk  seorang wanita lamaholot Flores Timur.   Selain itu, juga dapat membantu suami memenuhi kebutuhan baik secara finansial. Seiring dengan perkembangan zaman para orangtua  di Desa Balaweling mulai ada rasa ketakutan di karenakan tidak ada penerus atau anak muda yang tertarik dalam menenun. mereka menganggap bahwa menenun hanya di lakukan oleh orangtua saja tetapi pada kenyataanya anak muda bias belajar agar bias menenun. untuk itu, mahasiswa MBKM FISIP UNWIRA mengajak para kaum muda dan peserta didik SMPN Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur untuk menggali dan menjaga serta mempertahankan kekayaan nilai budaya lamaholot Flores Timur. Dengan adanya kegiatan ini di harapkan dapat membantu permasalahan yang di hadapi di Desa Balaweling, dan untuk selanjutnya di harapkan ada kegiatan lanjutan yang biasa di laksanakan di program selanjutnya.

Indonesia has a wealth of various types of traditional fabrics that are so beautiful and unique. One of them is the lamaholot ikat woven cloth which has a certain pattern which produces a distinctive motif for traditional purposes. Along with the dynamics of the times and changing fashion tastes, it is necessary to develop new motif designs in accordance with the demands of the times. Ikat weaving is also an aspiration to encourage the realization of social change starting from oneself. Ikat weaving for lamaholot women has the traditional meaning that a lamaholot woman can be said to be mature and can marry if she can weave well because weaving takes a long time and is full of patience and that is where a woman's maturity and patience are appreciated. For the Lamaholot community in general, weaving is a skill that has been passed down since time immemorial. In the past, weaving skills were a measure of self-esteem and dignity and were mandatory provisions for an East Flores lamaholot woman. Apart from that, it can also help your husband meet his needs financially. As time progressed, parents in Balaweling Village began to feel afraid because there were no successors or young people who were interested in weaving. They think that weaving is only done by parents, but in reality young people can learn to weave. For this reason, MBKM FISIP UNWIRA students invite young people and students of Balaweling Middle School, Witihama District, East Flores Regency to explore, protect and maintain the rich cultural values ​​of East Flores lamaholot. With this activity, it is hoped that it can help with the problems faced in Balaweling Village, and in the future it is hoped that there will be follow-up activities that are usually carried out in subsequent programs..

Unduhan

Diterbitkan

2026-08-27