EKSISTENSI TARI TANGGAI SEBAGAI TARIAN TRADISIONAL SUMATERA SELATAN DALAM PERSPEKTIF PERADABAN ISLAM, HUKUM DAN PSIKOLOGI

Penulis

  • Heny Kurniati UIN Raden Fatah Palembang
  • Rivardi Dwi Putra UIN Raden Fatah Palembang
  • Syarkoni UIN Raden Fatah Palembang
  • Herwandi UIN Raden Fatah Palembang
  • Munir UIN Raden Fatah Palembang

Kata Kunci:

Tari Tanggai, Tarian Tradisional, Sumatera Selatan, Peradaban Islam, Hukum Kebudayaan, Psikologi Budaya, Pelestarian Warisan

Abstrak

Tari Tanggai merupakan warisan budaya takbenda khas Sumatera Selatan yang mengandung nilai estetika, sosial, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan menganalisis eksistensi Tari Tanggai dari tiga perspektif interdisipliner: peradaban Islam, hukum kebudayaan, dan psikologi budaya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur, wawancara semi-struktural (10 informan), dan analisis konten, data dikumpul dari sumber primer (praktisi dan ulama) serta sekunder (dokumen hukum, teks Islam, jurnal psikologi). Analisis dilakukan melalui model Miles & Huberman dengan triangulasi untuk validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif peradaban Islam, Tari Tanggai selaras dengan tasawuf Nusantara melalui gerakan ritualis yang mencerminkan zikir dan tawaf, meskipun dihadapkan pada perdebatan syariah kontemporer. Dari sisi hukum, tarian ini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda berdasarkan UU No. 5 Tahun 2017, tetapi implementasi pelestariannya lemah akibat minimnya regulasi pendanaan dan pengakuan hak adat. Secara psikologi, Tari Tanggai berfungsi sebagai terapi kultural yang meningkatkan resiliensi dan flow experience, terutama bagi generasi muda di tengah globalisasi.

Tari Tanggai is an intangible cultural heritage typical of South Sumatra that embodies aesthetic, social, and spiritual values. This study aims to analyze the existence of Tari Tanggai from three interdisciplinary perspectives: Islamic civilization, cultural law, and cultural psychology. Employing a qualitative descriptive approach through literature review, semi-structured interviews (10 informants), and content analysis, data were gathered from primary sources (practitioners and clerics) and secondary sources (legal documents, Islamic texts, psychology journals). Analysis followed the Miles & Huberman model with triangulation for validity. Findings reveal that from an Islamic civilization perspective, Tari Tanggai aligns with Nusantara Sufism through ritualistic movements reflecting dhikr and tawaf, despite contemporary sharia debates. From a legal viewpoint, it is recognized as Intangible Cultural Heritage under Law No. 5/2017, but preservation implementation is weak due to inadequate funding regulations and adat rights recognition. In terms of psychology, Tari Tanggai serves as cultural therapy enhancing resilience and flow experience, particularly for youth amid globalization.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-30