Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsi id-ID Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam TINJAUAN LITERATUR TENTANG ILMU MENURUT IMAM AL-GHAZALI DALAM KITAB AYYUHAL WALAD https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsi/article/view/21458 <p class="TableParagraph">Islam adalah sebuah agama yang memosisikan ilmu dalam posisi mulia. Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang berpikir. Manusia dianugerahi akal dan pikiran yang menjadikan dia lebih unggul dari makhluk yang lain dan disebut sebagai khalifah di bumi. Sebagai khalifah tugas utama menjaga dan memakmurkan bumi beserta isinya. Ilmu merupakan hal penting dalam Islam. Ia merupakan kebutuhan utama bagi manusia dalam mengemban peran sebagai khilafah di bumi ini. Tanpa ilmu pengetahuan mustahil seorang manusia mampu melangsungkan kehidupan. Ilmu, menurut Imam Al-Ghazali, merupakan sarana untuk mencapai hakikat.Ini berarti bahwa untuk memahami hakikat tersebut, seseorang perlu memiliki pengetahuan atau ilmu tentangnya. Imam al-Ghazali menulis kitab Ayyuhal Walad, yang juga disebut "ar-Risalah al-Waladiyah". Diterjemahkan dari bahasa parsi ke dalam bahasa Arab oleh sejumlah ulama. kitab ayyuhal walad melarang untuk tidak boleh menjadi orang yang bangkrut. Artian orang yang bangkrut ini adalah orang yang mempunyai ilmu namun tidak mengamalkannya. Memahami dan mengamalkan ilmu adalah dua hal yang tak terpisahkan. Hanya dengan mempraktikkan apa yang telah dipelajari, seseorang dapat meraih rahmat dan berkah dari Allah. Oleh karena itu, marilah kita berkomitmen untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga pelaku yang aktif dalam menerapkan ilmu pengetahuan demi kesejahteraan diri dan masyarakat</p> <p class="TableParagraph">Islam is a religion that places knowledge in a noble position. Humans were created by Allah as thinking beings. Humans have been gifted with intellect and reason, which make them superior to other creatures and designated as khalifah (stewards) on Earth. As khalifah, the primary task is to protect and prosper the Earth and all that is within it.Knowledge is essential in Islam; it is the primary necessity for humans in carrying out their role as khalifah on this Earth. Without knowledge, it is impossible for a human to conduct a meaningful life. According to Imam Al-Ghazali, knowledge is a means to achieve the haqiqah (the ultimate truth). This means that to understand this truth, one must possess knowledge about it.Imam Al-Ghazali wrote the book Ayyuhal Walad, also known as "ar-Risalah al-Waladiyah," which was translated from Persian into Arabic by several scholars. The book Ayyuhal Walad warns against becoming a "bankrupt" person. A "bankrupt" person, in this context, is defined as someone who possesses knowledge but fails to practice it. Understanding and practicing knowledge are two inseparable things. Only by practicing what one has learned can a person attain mercy and blessings from Allah. Therefore, let us commit ourselves to not just being observers, but also active practitioners in applying knowledge for the well-being of ourselves and society.</p> Mir'atul Azizah H. Mudzakkir Ali Nurul Azizah Hak Cipta (c) 2026 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam 2026-05-30 2026-05-30 7 5 PENGUATAN KARAKTER SANTRI MELALUI INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KITAB TA’LIMUL MUTA’ALLIM https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsi/article/view/21769 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguatan karakter santri melalui internalisasi nilai-nilai Pendidikan Agama Islam (PAI) yang terkandung dalam Kitab&nbsp;<em>Ta'limul Muta'allim</em>&nbsp;karya Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji. Krisis moral di kalangan santri menjadi latar belakang utama, di mana pesantren dituntut berperan optimal sebagai lembaga pembentukan karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis kepustakaan (<em>library research</em>). Sumber data primer adalah kitab&nbsp;<em>Ta'limul Muta'allim</em>, sedangkan sumber data sekunder meliputi buku, jurnal ilmiah, dan literatur terkait. Teknik analisis data menggunakan&nbsp;<em>content analysis</em>&nbsp;(analisis isi) dengan tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi nilai-nilai PAI serta proses internalisasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai PAI dalam kitab&nbsp;<em>Ta'limul Muta'allim</em>&nbsp;meliputi niat ikhlas, menghormati guru, kesungguhan belajar, tawakkal dan sabar, serta manajemen waktu. Proses internalisasi nilai di pesantren dilakukan melalui metode keteladanan (<em>uswah hasanah</em>), pembiasaan (<em>habit formation</em>), nasihat dan mau'idzah, serta pengawasan dan disiplin. Penguatan karakter santri yang dihasilkan mencakup karakter religius, disiplin dan tanggung jawab, tawadhu' dan adab, serta kemandirian. Penelitian ini menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai&nbsp;<em>Ta'limul Muta'allim</em>&nbsp;sangat penting untuk membentuk kepribadian santri yang berakhlak mulia dan berorientasi pada ridha Allah.</p> Moh. Anas Iskandar Edy Murdani Z Hak Cipta (c) 2026 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam 2026-05-30 2026-05-30 7 5 ANALISIS PERNIKAHAN DIBAWAH UMUR (DINI) PERSPEKTIF HUKUM ISLAM https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsi/article/view/21575 <p class="TableParagraph">Perkawinan adalah sebuah komitmen yang serius antar mempelai dan pesta pernikahan merupakan sebuah pertanda peresmian hubungan mereka sebagai suami istri yang secara sosial diakui oleh masyarakat. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis budaya pernikahan anak dibawah umur (dini) dalam perspektif Hukum Islam, Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum yuridis sosiologis, yang mana berbasis hukum normatif/peraturan untuk mengamati reaksi atau interaksi yang terjadi ketika norma itu bekerja dimasyarakat. Disebutkan dalam bahasa lain bahwa penelitian hukum empiris yuridis sosiologis adalah meneliti bekerjanya hukum di masyarakat terkait dengan aturan tersebut. Hasil dari penelitian ini menujukan bahwa budaya pernikahan anak diabawah umur seringkali berujung pada kesulitan-kesulitan sosial, seperti meningkatnya angka perceraian atau ketidakstabilan keluarga. Solusi dari permasalahan ini dapat kita seleseaikan dengan prinsip maslahah prinsip yang mengedepankan kebaikan umum dan kesejahteraan masyarakat, yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara lima hal pokok agama yakni (aqidah), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasl), dan harta (mal).</p> Mohammad Khayun Muta'al Achmad Rahmani M. Rullyan Surachman Hak Cipta (c) 2026 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam 2026-05-30 2026-05-30 7 5 IMPLEMENTASI BUDAYA 5S (SENYUM, SAPA, SALAM, SOPAN, SANTUN) SEBAGAI STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER DI SMA IT DAR EL IMAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsi/article/view/22155 <p>Budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) merupakan strategi pembiasaan adab Islam yang diterapkan di SMA IT Dar el Iman. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi implementasi budaya 5S dan dampaknya terhadap komunikasi serta sikap hormat siswa kepada guru. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam terhadap 9 informan: pimpinan, guru, karyawan, dan siswa kelas XI. Hasil menunjukkan tiga strategi utama: keteladanan (uswah), pembiasaan (ta’wid), dan penguatan nilai ibadah. Implementasi berdampak positif pada komunikasi dan sikap hormat siswa ketika dilakukan secara ikhlas. Triangulasi sumber mengonfirmasi konsistensi temuan, meski sebagian siswa masih bersikap acuh. Temuan mengonfirmasi relevansi teori Lickona dan prinsip Ki Hajar Dewantara dalam konteks sekolah Islam Terpadu.</p> <p>The 5S culture (Smile, Greet, Salutation, Politeness, Courtesy) is an Islamic adab habituation strategy implemented at SMA IT Dar el Iman. This study aims to analyze the implementation strategies of 5S culture and its impact on student communication and respect for teachers. A qualitative descriptive method was used with in-depth interviews of 9 informants: school leaders, teachers, staff, and grade XI students. Results reveal three main strategies: role modeling (uswah), habituation (ta’wid), and reinforcement of worship values. Implementation positively impacts student communication and respect when practiced sincerely. Source triangulation confirms the consistency of findings, though some students remain indifferent. The findings confirm the relevance of Lickona’s theory and Ki Hajar Dewantara’s principles in Islamic Integrated School contexts.</p> M. Iqbal Hawwin Huda Yana Hak Cipta (c) 2026 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam 2026-05-30 2026-05-30 7 5 EKSISTENSI TARI TANGGAI SEBAGAI TARIAN TRADISIONAL SUMATERA SELATAN DALAM PERSPEKTIF PERADABAN ISLAM, HUKUM DAN PSIKOLOGI https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsi/article/view/21668 <p class="TableParagraph">Tari Tanggai merupakan warisan budaya takbenda khas Sumatera Selatan yang mengandung nilai estetika, sosial, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan menganalisis eksistensi Tari Tanggai dari tiga perspektif interdisipliner: peradaban Islam, hukum kebudayaan, dan psikologi budaya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur, wawancara semi-struktural (10 informan), dan analisis konten, data dikumpul dari sumber primer (praktisi dan ulama) serta sekunder (dokumen hukum, teks Islam, jurnal psikologi). Analisis dilakukan melalui model Miles &amp; Huberman dengan triangulasi untuk validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif peradaban Islam, Tari Tanggai selaras dengan tasawuf Nusantara melalui gerakan ritualis yang mencerminkan zikir dan tawaf, meskipun dihadapkan pada perdebatan syariah kontemporer. Dari sisi hukum, tarian ini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda berdasarkan UU No. 5 Tahun 2017, tetapi implementasi pelestariannya lemah akibat minimnya regulasi pendanaan dan pengakuan hak adat. Secara psikologi, Tari Tanggai berfungsi sebagai terapi kultural yang meningkatkan resiliensi dan flow experience, terutama bagi generasi muda di tengah globalisasi.</p> <p class="TableParagraph"><em>Tari Tanggai is an intangible cultural heritage typical of South Sumatra that embodies aesthetic, social, and spiritual values. This study aims to analyze the existence of Tari Tanggai from three interdisciplinary perspectives: Islamic civilization, cultural law, and cultural psychology. Employing a qualitative descriptive approach through literature review, semi-structured interviews (10 informants), and content analysis, data were gathered from primary sources (practitioners and clerics) and secondary sources (legal documents, Islamic texts, psychology journals). Analysis followed the Miles &amp; Huberman model with triangulation for validity. Findings reveal that from an Islamic civilization perspective, Tari Tanggai aligns with Nusantara Sufism through ritualistic movements reflecting dhikr and tawaf, despite contemporary sharia debates. From a legal viewpoint, it is recognized as Intangible Cultural Heritage under Law No. 5/2017, but preservation implementation is weak due to inadequate funding regulations and adat rights recognition. In terms of psychology, Tari Tanggai serves as cultural therapy enhancing resilience and flow experience, particularly for youth amid globalization.</em></p> Heny Kurniati Rivardi Dwi Putra Syarkoni Herwandi Munir Hak Cipta (c) 2026 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam 2026-05-30 2026-05-30 7 5