AKUNTANSI PERNIKAHAN ADAT SASAK STUDI ETNOGRAFI DI DESA EYAT MAYANG
Kata Kunci:
Akuntansi Pernikahan, Budaya Nikah, Etnografi, Suku SasakAbstrak
Di dalam realitas sosial yang ada, akuntansi itu sendiri sebenarnya tidaklah hanya berputar pada soal bisnis. tetapi juga hadir di dalam ruang lingkup kehidupan yang lebih kecil. Pembahasan tentang akuntansi tidak selalu berkaitan dengan kinerja keuangan Perusahaan akan tetapi juga dapat dihubungkan dengan nilai kehidupan Masyarakat. Kehidupan Masyarakat Indonesia sangat lekat dengan budaya dan adat istiadat. Ilmu akuntansi dan adat istiadat menjadi suatu hal yang dapat dikaitkan secara indah, adat istiadat menjadi aturan dan norma yang harus dipatuhi dan juga memiliki sanksi hukum tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat, sehingga adat menjadi sesuatu yang penting. Di sinilah ilmu akuntansi dapat berperan, yaitu dalam pencatatan, pengklasifikasian, dan pelaporan penggunaan dana selama prosesi adat berlangsung. Penerapan prinsip akuntansi, meskipun sederhana, membantu keluarga dan masyarakat adat untuk mengetahui besarnya pengeluaran, sumber pemasukan, serta bentuk pertanggungjawaban kepada para pihak yang terlibat. Terdapat permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan Masyarakat yakni tingginya angka Merarik Kode (Menikah di bawah umur) yang berdampak pada angka kemiskinan masyarakat semakin meningkat. Untuk itulah penelitian ini coba untuk dilakukan guna sebagai gambaran bagi calon pengantin bahwa menikah itu tidak mudah dan ada banyak biaya yang harus dikeluarkan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan metode Etnografi. Untuki mengumpulkan data dilapangan selain melakukan observasi secara langsung, peneliti melakukan wawancara langsung kepada pihak pengantin, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat urutan pernikahan yang melekat yaitu dari peroses melaik, selabar, bait wali, admin KUA, akad nikah, sorong serah, begawe, dan bejango. Biaya pengeluaran yang di tanggung oleh pihak laki-laki adalah berkisar Rp. 36.000.000 – Rp. 60.000.000. Taksiran biaya yang dikeluarka merupakan hasil temuan dari pihak laki-laki, peneliti tidak dapat memperoleh kesimpulan berkaitan biaya keseluruhan dari proses adat pernikahan suku sasak.
In the existing social reality, accounting itself is not solely limited to business matters.It is also present within the smaller spheres of everyday life. Discussions about accounting are not always related to corporate financial performance, but can also be connected to the values and dynamics of community life. The lives of Indonesian people are closely intertwined with culture and traditional customs. Accounting and traditional customs can be beautifully interconnected. Customs serve as rules and norms that must be followed and also carry their own legal and social sanctions, making them an important aspect of community life. This is where accounting can play a role- through the recording, classification, and reporting of financial expenditures during traditional ceremonies. The application of basic accounting principles, even in a simplified form, helps families and indigenous communities track expenses, identify sources of income, and fulfill accountability to all parties involved. One social issue faced by the community is the high rate of Merarik Kode (underage marriage), which contributes to increasing poverty levels. Therefore, this study aims to provide insight to prospective brides and grooms that marriage is not a simple matter, and that it involves significant financial costs. This research was conducted using a qualitative method with an ethnographic approach. To collect data in the field, the researcher not only conducted direct observations but also interviewed the bride and groom, community leaders, religious leaders, and youth figures. Based on the findings, there is a sequence of traditional wedding ceremonies, including melaik, selabar, bait wali, civil registry at the Office of Religious Affairs (KUA), the marriage contract (akad nikah), sorong serah, begawi, and bejango. The financial burden borne by the groom's family ranges from IDR 36,000,000 to IDR 60,000,000. These estimated costs were obtained from the groom’s side; the researcher was unable to conclude the total cost for the entire traditional wedding process of the Sasak ethnic group.



