CANCEL CULTURE DALAM FENOMENA BULLYING DIGITAL: STUDI LITERATUR KUALITATIF TENTANG PRAKTIK CYBERBULLYING PADA KASUS PERSELINGKUHAN JULIA PRASTINI DI PLATFORM TIKTOK

Penulis

  • Dinda Rizkie Azzahara Universitas Sebelas Maret
  • Athallariqa Yusrasendria Hafidzah Universitas Sebelas Maret
  • Meidina Imawan Universitas Sebelas Maret
  • Muhammad Irwan Radianto Universitas Sebelas Maret
  • Sholahudin Rozzaq Universitas Sebelas Maret
  • Amalia Solechah Universitas Sebelas Maret
  • Suryo Ediyono Universitas Sebelas Maret

Kata Kunci:

Cancel Culture, Cyberbullying, Tiktok, Online Mobbing

Abstrak

Penelitian ini mengkaji fenomena bullying digital yang terjadi di platform TikTok pada peristiwa perselingkuhan salah satu figur publik, Julia Prastini (Jule), dengan menitikberatkan pada dinamika budaya cancel culture dan pola penggunaan bahasa yang memperkuat praktik perundungan online. Dengan menggunakan metode studi literatur kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi pola bahasa, gaya komentar, bentuk ekspresi verbal, dan strategi komunikasi tertentu dapat memicu gelombang penolakan publik dan sanksi sosial terhadap pengguna TikTok. Objek penelitian mencakup berbagai bentuk serangan berbasis bahasa seperti cemoohan, sarkasme, labeling, eufemisasi yang menyamarkan agresi, serta pola komentar yang berulang dan bersifat kolektif. Selain itu, penelitian juga menelaah peran anonimitas, efek massa, dan mekanisme algoritmik TikTok dalam memperluas sebaran komentar negatif dan memfasilitasi munculnya tren cancel culture. Dampak psikologis dan sosial terhadap korban, khususnya dalam konteks tekanan publik, stigma sosial, dan gangguan kesehatan mental, menjadi salah satu aspek penting yang diperhatikan. Signifikansi penelitian ini terletak pada pemahaman komprehensif mengenai bagaimana bahasa dan interaksi komunikatif di ruang digital dapat berubah menjadi praktik perundungan. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pembuat kebijakan, platform media sosial, pendidik dan orang tua dalam merumuskan strategi pencegahan cyberbullying berbasis kesadaran berbahasa, serta membangun ekosistem digital yang lebih etis dan inklusif untuk melindungi kesejahteraan mental pengguna dalam ekosistem media sosial saat ini.

 

This study examines the phenomenon of digital bullying on the TikTok platform in the affair of a public figure, Julia Prastini (Jule), focusing on the dynamics of culture and language patterns that reinforce online bullying practices. Using qualitative literature review methods, this study explores how word choice, commenting styles, verbal expressions, and certain communication strategies can trigger waves of public rejection and social sanctions against TikTok users. The research objects include various forms of language-based attacks such as ridicule, sarcasm, labeling, euphemisms that disguise aggression, and repetitive and collective comment patterns. In addition, the study examines the role of anonymity, mass effects, and TikTok's algorithmic mechanisms in expanding the spread of negative comments and facilitating the emergence of cancel culture trends. The psychological and social impact on victims, especially in the context of public pressure, social stigma, and mental health disorders, is one of the important aspects considered. The significance of this research lies in a comprehensive understanding of how language and communicative interactions in digital spaces can turn into bullying practices and how cancel culture emerges and is normalized as a form of social control on TikTok. The findings of this research are expected to contribute to policymakers, social media platforms, educators, and parents in formulating cyberbullying prevention strategies to improving language-based digital literacy, and building a more ethical and inclusive digital ecosystem to protect the mental well-being of users in the rapidly growing social media ecosystem.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-30