FUNGSI SOSIAL TRADISI YASINAN PENGGUNAAN KEMENYAN OLEH MASYARAKAT JORONG SARIK LAWEH NAGARI NAN LIMO KECAMATAN PALUPUH
Kata Kunci:
Fungsi Sosial, Tradisi Yasinan, Kemenyan, SimbolAbstrak
Penelitian ini di latarbelakangi dari tradisi yasinan dengan penggunaan kemenyan di Jorong Sarik Laweh bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang mempererat hubungan antarwarga dan melestarikan nilai-nilai budaya. Kemenyan dalam tradisi ini dipandang memiliki makna simbolik sebagai penghubung spiritual dan penanda kekhusyukan, sehingga menarik untuk diteliti dalam konteks fungsi sosial dan simbolisme budaya masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menekankan pada berbagai aspek kedalaman informasi yang di peroleh melalui wawancara dan didukung oleh metode observasi lapangan dan dokumentasi. Lokasi penelitian ini di Jorong Sarik Laweh Nagari Nan Limo Kecamatan Palupuh. Dalam pengumpulan data penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah 2 orang tokoh masyarakat, dan informan pendukung 4 orang masyarakat Jorong Sarik Laweh. Teori yang digunakan adalah teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi yasinan dengan penggunaan kemenyan di Jorong Sarik Laweh memiliki fungsi sosial yang kuat, seperti mempererat hubungan antarwarga, memperkuat nilai gotong royong, serta menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan dan budaya lokal. Kemenyan dimaknai sebagai simbol kekhusyukan, penghormatan terhadap arwah leluhur, dan sarana penghubung spiritual yang menciptakan suasana sakral. Tradisi ini terus dilestarikan karena memiliki nilai penting dalam membentuk identitas dan keharmonisan.
This research is motivated by the Yasinan tradition involving the use of incense (kemenyan) in Jorong Sarik Laweh, which is not only a religious ritual but also serves a social function by strengthening relationships among residents and preserving cultural values. The incense in this tradition is viewed as having symbolic meaning as a spiritual connector and a marker of solemnity, making it an interesting subject for study in the context of social function and cultural symbolism within the local community. The method used in this research is a qualitative approach that emphasizes the depth of information obtained through interviews, supported by field observations and documentation. The research was conducted in Jorong Sarik Laweh, Nagari Nan Limo, Palupuh Subdistrict. Data collection involved two key informants from community leaders and four supporting informants from the local residents of Jorong Sarik Laweh. The theoretical framework employed in this study is the Symbolic Interactionism theory by George Herbert Mead. The findings show that the Yasinan tradition using incense in Jorong Sarik Laweh holds strong social functions, such as strengthening social bonds among residents, reinforcing the value of communal cooperation (gotong royong), and preserving both religious and local cultural traditions. Incense is interpreted as a symbol of solemnity, respect for ancestral spirits, and a medium for spiritual connection that creates a sacred atmosphere. This tradition continues to be preserved because it holds significant value in shaping communal identity and social harmony.



