PENGARUH MEDIA DIGITAL TERHADAP INTEGRITAS PERNIKAHAN KATOLIK DALAM PERSPEKTIF ENSIKLIK AMORIS LAETITIA

Penulis

  • Silfanus Jemadin Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Wilhelmus Benggu Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Henokh Albert Ware Mere Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Maria Claristas Loge Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Kristianus Adrianto Virando Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Kata Kunci:

Media Digital, Pernikahan Katolik, Amoris Laetitia, Keluarga, Cinta Kasih

Abstrak

Di era digital, tampaknya manusia menggunakan media, tetapi sesungguhnya manusialah yang menjadi media itu sendiri. Dalam komunikasi digital, manusia tidak lebih dari sekadar penyalur pesan dari Internet of Things (IoT). Makhluk yang dikendalikan media, berfungsi sebagai media, dan beradaptasi dengan iklim teknologi digital ini dapat disebut sebagai manusia digital. Kini, ketika seseorang membuka telepon pintar di pagi hari dan melihat dirinya muncul di Facebook, Instagram, atau Twitter, ia menemukan personal brand-nya di sana. Hal itu meyakinkan dirinya bahwa ia sungguh ada, bukan ilusi. Buktinya, foto, teks, atau videonya tersedia di ruang digital. Dengan sekali klik, seseorang merasa tetap terkini. Berpikir dianggap tidak terlalu penting lagi; yang utama adalah melakukan klik agar eksistensinya diakui dalam media digital. Manusia digital tidak lagi I think, melainkan I browse. Ia berpikir melalui internet. Identitas “siapa aku” semakin identik dengan “aku-online,” sementara “aku-offline” semakin terpinggirkan. Di satu sisi, media digital sebagai sarana informasi dan komunikasi yang berdampak positif bagi manusia, khususnya bagi pasangan suami istri untuk saling berinteraksi dan menjaga relasi keutuhan sakramen perkawinan. Namun, disisi lain, sebaliknya media digital memiliki dampak negatif. Artikel ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode penelitian tinjauan pustaka. Penulis menggunakan ensiklik Amoris Laetitia sebagai pisau bedah untuk menguliti problem tersebut. Tujuan tulisan ini ialah sebagai tawaran dalam hal penggunaan media sosial secara positif demi mempertahankan cinta kasih dan kesetiaan dalam pernikahan. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah media digital menjadi salah satu tantangan dan akar persoalan dalam relasi keluarga pasca pernikahan. Dalam ajaran Gereja Katolik, pernikahan adalah sakramen yakni tanda keselamatan dan persatuan kekal berkat penyelenggaraan Ilahi. Sakramen pernikahan memiliki beberapa karakteristik seperti sakramental, monogami, dan tak terceraikan.

In the digital age, it seems that humans use media, but in reality, humans themselves have become the media. In digital communication, humans are nothing more than conduits for messages from the Internet of Things (IoT). Creatures controlled by media, functioning as media, and adapting to this digital technological climate can be called digital humans. Now, when someone opens their smartphone in the morning and sees themselves on Facebook, Instagram, or Twitter, they find their personal brand there. This convinces them that they really exist, that they are not an illusion. The proof is that their photos, texts, or videos are available in digital space. With one click, a person feels up to date. Thinking is no longer considered very important; the main thing is to click so that one's existence is recognized in digital media. Digital humans no longer think, but rather browse. They think through the internet. The identity of “who I am” is increasingly synonymous with “online me,” while “offline me” is increasingly marginalized. On one hand, digital media as a means of information and communication has a positive impact on humans, especially for married couples to interact with each other and maintain the integrity of the sacrament of marriage. However, on the other hand, digital media also has a negative impact. his article uses a qualitative research approach with a literature review research method. The author uses the encyclical Amoris Laetitia as a scalpel to dissect the problem. The purpose of this paper is to offer suggestions on the positive use of social media to maintain love and fidelity in marriage. The findings of this study indicate that digital media is one of the challenges and root causes of problems in family relationships after marriage. In Catholic teaching, marriage is a sacrament, a sign of salvation and eternal union through divine providence. The sacrament of marriage has several characteristics, such as being sacramental, monogamous, and indissoluble.

Unduhan

Diterbitkan

2026-02-28