PENGARUH TERAPI MUSIK TRADISIONAL TERHADAP PERUBAHAN PADA PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN DI UPT BINA LARAS

Penulis

  • Nur Ismi Riani Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru
  • Rina Herniyanti Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru
  • Gita Adelia Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru
  • Yeni Devita Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru

Kata Kunci:

Halusinasi Pendengaran, Skizofrenia, Terapi Musik Tradisional

Abstrak

Halusinasi pendengaran merupakan gejala positif skizofrenia yang paling dominan, ditandai dengan persepsi sensori palsu tanpa stimulus eksternal yang nyata. Jika tidak ditangani, halusinasi dapat mengakibatkan kehilangan kontrol diri hingga perilaku kekerasan. Terapi musik tradisional sebagai intervensi non-farmakologi diketahui mampu menstimulasi pengeluaran endorfin dan menciptakan efek relaksasi yang dapat mengalihkan fokus pasien dari suara halusinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik tradisional terhadap perubahan skor halusinasi pendengaran pada pasien di UPT Bina Laras. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain Quasy Experiment menggunakan pendekatan One Group Pre-test and Post-test without Control Design. Populasi penelitian adalah pasien halusinasi pendengaran di UPT Bina Laras tahun 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 10 orang laki-laki. Instrumen pengukuran menggunakan kuesioner Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired T-Test setelah data dinyatakan berdistribusi normal melalui uji Shapiro-Wilk.  Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata (mean) skor halusinasi sebelum intervensi (pre-test) adalah 24,60 (SD = 6,415) dan menurun menjadi 21,20 (SD = 4,417) setelah intervensi (post-test). Analisis bivariat menunjukkan nilai p-value sebesar 0,009 (< 0,05) dengan mean difference sebesar 3,400 (95% CI: 1,083 – 5,717). Terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian terapi musik tradisional terhadap penurunan skor halusinasi pendengaran pada pasien di UPT Bina Laras. Terapi ini direkomendasikan sebagai salah satu bentuk rehabilitasi mandiri bagi pasien untuk membantu mengontrol gejala halusinasi secara terjadwal.

Auditory hallucinations are the most dominant positive symptom of schizophrenia, characterized by false sensory perceptions without real external stimuli. If left untreated, hallucinations can lead to a loss of self-control and violent behavior. Traditional music therapy, as a non-pharmacological intervention, is known to stimulate endorphin release and create a relaxation effect that can divert a patient's focus from hallucinatory voices. This study aims to determine the effect of traditional music therapy on changes in auditory hallucination scores among patients at UPT Bina Laras. This quantitative study utilized a quasi-experimental design with a one-group pre-test and post-test without control group approach. The study population consisted of auditory hallucination patients at UPT Bina Laras in 2025. The sampling technique used was total sampling, involving 10 male respondents. The measurement instrument employed was the Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS) questionnaire. Data analysis was conducted using the Paired T-Test after the data were confirmed to be normally distributed via the Shapiro-Wilk test. The results showed that the mean hallucination score before the intervention (pre-test) was 24.60 (SD = 6.415) and decreased to 21.20 (SD = 4.417) after the intervention (post-test). Bivariate analysis revealed a p-value of 0.009 (< 0.05) with a mean difference of 3.400 (95% CI: 1.083 – 5.717). In conclusion, there is a significant effect of traditional music therapy on reducing auditory hallucination scores in patients at UPT Bina Laras. This therapy is recommended as a form of independent rehabilitation for patients to help control hallucinatory symptoms on a scheduled basis.

Unduhan

Diterbitkan

2026-03-30