UPACARA TOLAK-BALA, MENYAMBUT PEMULIHAN DALAM PERSPEKTIF EKO-ESKATOLOGIS

Penulis

  • Stefania Afiarti Yelita Usboko Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Maria Suwasti Nona Ervin Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Remigius Opat Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Yohanes Dju Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Venantius Mario Sasi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Kata Kunci:

Tolak Bala, Eko-Eskatologi, Ritus Adat, Spiritualitas Ekologis, Pemulihan

Abstrak

Upacara tolak bala merupakan salah satu ritus adat yang hidup dalam masyarakat NTT. Upacara
tolak bala adalah bagian dari ekspresi spiritual dan budaya yang hampir dilakukan oleh setiap
masyarakat, secara khusus masyarakat di Kabupataen Sikka. Upacara atau ritus ini, tidak hanya
berfungsi sebagai sarana penolakan terhadap malapetaka atau gangguan kosmis, tetapi
menggambarkan adanya kesadaran spiritual dan ekologis masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan
untuk mengkaji makna dan arti serta struktur yang lebih dalam mengenai upacara tolak bala dalam
kerangka eko-eskatologis, yakni pemahaman teologis yang mengaitkan pemulihan ciptaan dengan
harapan akan keselarasan akan keseimbangan akhir antara manusia dengan alam, dan yang Ilahi.
Hasil tulisan ilmiah ini diperoleh melalui pendekatan kualitatif dan metode wawancara yang
mendalam, observasi partisipatif, serta studi pustaka. Penelitian ini, menemukan bahwa upacara
tolak bala mengandung tiga dimensi yaitu ritus peralihan, relasi kosmis antara manusia dengan
leluhur, serta spiritualitas ekologis yang menempatkan alam sebagai mitra dalam proses pemulihan
atau penyembuhan. Simbol-simbol seperti tumbal hewan, doa dalam bahasa adat, dan pelaksanaan
ritus di muara sungai atau kali, dan pantai menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya berupaya
menolak bala, dan memusnahkan malapetaka, tetapi juga membangun kembali harmoni kosmis
yang terganggu. Oleh karena itu, upacara tolak bala bukan hanya semata-mata mengajarkan nilai
nilai solidaritas, tetapi sebagai media rekonsiliasi kosmis dan ekologis, serta sebagai bentuk
keterikatan spiritualitas yang mendalam, dan dapat direfleksikan secara teologis maupun ekologis
dalam konteks zaman ini. Dengan demikian, upacara tolak bala dapat dipahami sebagai bentuk
spiritualitas kontekstual yang menyatukan iman, budaya, dan ekologi dalam kerangka harapan
akan pemulihan yang utuh.

Unduhan

Diterbitkan

2026-03-30