HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BORU KABUPATEN FLORES TIMUR

Penulis

  • Philomena Leni Marlina Poltekkes Kemenkes Denpasar
  • Listina Ade Widya Ningtyas Poltekkes Kemenkes Denpasar
  • Gusti Ayu Tirtawati Poltekkes Kemenkes Denpasar

Kata Kunci:

Sosial Ekonomi, Stunting, Balita

Abstrak

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang serius di Indonesia, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Prevalensi stunting balita di Kecamatan Wulanggitang menunjukan fluktuasi dari bulan ke bulan. Kondisi ini menunjukan bahwa sebagian balita di Kecamatan Wulanggitang masih mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara sosial ekonomi dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan wilayah kerja Puskesmas Boru Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah 474 balita usia 24-59 bulan yang tercatat di wilayah kerja puskesmas Boru, dengan jumlah sampel sebanyak 83 orang dengan menggunakan rumus slovin. Lokasi penelitian di 11 desa wilayah kerja Puskesmas Boru Kabupaten Flores Timur. Waktu penelitian dari Bulan Maret sampai April 2026. Teknik pengambilan sampel di setiap desa menggunakan simple random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Chi- Square dengan tingkat kemaknaan yang ditetapkan sebesar α=0,05. Hasil uji Chi Square menunjukan p-value 0,03 < 0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Boru Kabupaten Flores Timur. Bagi tenaga kesehatan agar memberikan edukasi yang lebih efektif bagi masyarakat terkait persiapan sosial ekonomi keluarga yang baik untuk mencegah terjadinya stunting pada anak.

Stunting remains a serious health problem in Indonesia, including in East Nusa Tenggara (NTT) Province. The prevalence of stunting in toddlers in Wulanggitang District fluctuates from month to month. This condition indicates that some toddlers in Wulanggitang District still experience growth disorders due to chronic malnutrition. The purpose of this study was to determine the relationship between socioeconomic status and the incidence of stunting in toddlers aged 24-59 months in the working area of the Boru Community Health Center, East Flores Regency. This study was a quantitative study with a cross-sectional study design. The population in the study was 474 toddlers aged 24-59 months registered in the working area of the Boru Community Health Center, with a sample size of 83 people using the Slovin formula. The study location was in 11 villages within the working area of the Boru Community Health Center, East Flores Regency. The study period was from March to April 2026. The sampling technique in each village used simple random sampling. Data analysis was carried out using the Chi-Square Test with a significance level set at α = 0.05. The Chi-Square test results showed a p-value of 0.03 < 0.05, indicating a significant relationship between socioeconomic status and stunting incidence in the Boru Community Health Center, East Flores Regency. Health workers are advised to provide more effective education to the community regarding good family socioeconomic preparation to prevent stunting in children.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-31