PERLAWANAN DAN KEKUASAAN BAYANGAN: SULTAN THAHA SAIFUDDIN DAN SULTAN BAYANGAN DALAM RELASI KOLONIAL BELANDA DI JAMBI, 1858–1904

Penulis

  • Ilmi Hayyu Dina Universitas Jambi
  • Abelya Niken Dwi Oktafia Universitas Jambi
  • Muhammad Haekal Nugroho Universitas Jambi
  • Khaliisha Nurul Aqila Universitas Jambi
  • Afta Khusnul Khotimah Universitas Jambi
  • Fatonah Universitas Jambi
  • Nirwan II Yasin Universitas Jambi

Kata Kunci:

Sultan Thaha Saifuddin, Sultan Bayang, Kolonialisme Belanda, Kesultanan Jambi

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan Sultan Thaha Saifuddin sebagai simbol perlawanan Kesultanan Jambi terhadap kolonialisme Belanda pada periode 1858–1904 serta fenomena “sultan bayang”, yaitu sultan tandingan yang diangkat atau didukung pemerintah Hindia Belanda setelah Sultan Thaha meninggalkan pusat pemerintahan dan melanjutkan perlawanan dari pedalaman. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa setelah naik takhta pada 1855, Sultan Thaha menolak memperbarui perjanjian yang memperkuat campur tangan Belanda di Jambi. Konflik terbuka terjadi pada 1858 dan mendorong Sultan Thaha memindahkan pusat pemerintahannya ke pedalaman. Belanda kemudian mengangkat sultan tandingan, antara lain Sultan Ahmad Nazaruddin, Sultan Muhammad Muhieddin, dan Sultan Ahmad Zainuddin. Keberadaan dua pusat kekuasaan tersebut menunjukkan adanya persaingan antara legitimasi kolonial dan legitimasi yang diperoleh Sultan Thaha dari para pengikutnya. Sultan Thaha gugur pada 27 April 1904, sedangkan Kesultanan Jambi kemudian ditempatkan dalam struktur pemerintahan kolonial dan Keresidenan Jambi dibentuk pada 1906. Kajian ini menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi juga berupaya membangun legitimasi politik tandingan untuk melemahkan perlawanan lokal.

This study examines the position of Sultan Thaha Saifuddin as a symbol of resistance by the Jambi Sultanate against Dutch colonialism during 1858–1904, as well as the phenomenon of “shadow sultans” supported by the Dutch East Indies government after Sultan Thaha left the political center and continued the resistance from the interior. This study employs the historical method, consisting of four stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings show that after ascending the throne in 1855, Sultan Thaha refused to renew agreements that strengthened Dutch intervention in Jambi. Open conflict occurred in 1858, forcing Sultan Thaha to move his center of government to the interior. The Dutch subsequently supported rival sultans, including Sultan Ahmad Nazaruddin, Sultan Muhammad Muhieddin, and Sultan Ahmad Zainuddin. The coexistence of two centers of authority demonstrates the competition between colonial legitimacy and the legitimacy maintained by Sultan Thaha among his followers. Sultan Thaha died in battle on 27 April 1904, while the Jambi Sultanate was subsequently incorporated into the colonial administrative structure, with the Residency of Jambi established in 1906. This study demonstrates that colonialism relied not only on military force but also on the construction of rival political legitimacy to weaken local resistance.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-31