INTEGRASI ISLAM DALAM BUDAYA MELAYU KOTA JAMBI MELALUI SELOKO ADAT TAHUN 1991–2020
Kata Kunci:
Seloko Adat, Melayu Jambi, Islam, Budaya Lokal, Kota JambiAbstrak
Artikel ini mengkaji integrasi nilai-nilai Islam dalam budaya Melayu Kota Jambi melalui tradisi seloko adat pada periode 1991–2020. Periode tersebut dipilih karena 1991 berkaitan dengan pembentukan Lembaga Adat Kota Jambi, sedangkan 2020 menjadi batas akhir ketika seloko masih ditemukan sebagai bagian dari praktik adat masyarakat. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif dan studi pustaka. Sumber yang digunakan meliputi penelitian Universitas Jambi mengenai tradisi seloko Kota Jambi 1991–2020, artikel jurnal tentang hukum adat Melayu Jambi, penelitian mengenai fungsi seloko, serta publikasi kelembagaan dan dokumentasi kebudayaan. Analisis diarahkan pada bentuk nilai Islam yang hadir dalam seloko, ruang penggunaannya, fungsi sosialnya, serta perubahan dan keberlanjutannya dalam masyarakat Kota Jambi. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi Islam tidak menghapus bentuk budaya lokal, tetapi memberi orientasi normatif terhadap isi dan fungsi seloko. Prinsip adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah menjadi kerangka penting yang menghubungkan adat dengan keimanan, akhlak, tanggung jawab, musyawarah, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama. Seloko juga berfungsi sebagai media komunikasi adat, pendidikan nilai, kontrol sosial, penyelesaian persoalan, dan penguatan identitas Melayu. Pada saat yang sama, modernisasi menghadirkan tantangan berupa berkurangnya penguasaan generasi muda terhadap bentuk dan makna seloko. Karena itu, keberlanjutan seloko bergantung pada kemampuan masyarakat mempertahankan nilai dasarnya sambil menyesuaikan cara pewarisannya dengan konteks sosial yang berubah.
This article examines the integration of Islamic values into Jambi Malay culture through the traditional oral practice of seloko adat during 1991–2020. The period is selected because 1991 is associated with the establishment of the Jambi City Customary Institution, while 2020 marks the end of a period in which seloko remained present in customary practices. The study employs a historical method with a qualitative and literature-based approach. Its sources include a Universitas Jambi study of seloko in Jambi City from 1991 to 2020, journal articles on Jambi Malay customary law, studies of the social functions of seloko, and institutional cultural documentation. The analysis focuses on Islamic values expressed in seloko, its social settings, its functions, and its continuity and transformation in Jambi City. The findings indicate that Islam did not erase local cultural forms. Instead, Islamic values provided a normative orientation for the content and social functions of seloko. The principle of adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah connects customary life with faith, morality, responsibility, deliberation, justice, and respect for others. Seloko also functions as a medium of customary communication, moral education, social control, conflict management, and Malay identity formation. Modernization, however, creates challenges because younger generations may have limited familiarity with the form and meaning of seloko. Its continuity therefore depends on preserving its core values while adapting its transmission to changing social conditions.




