DETEKSI STRATEGI GERILYA RADEN MATTAHER DALAM PERLAWANAN TERHADAP BELANDA DI JAMBI (1904–1907)

Penulis

  • Yuli Aulia Universitas Jambi
  • Dita Septianingrum Universitas Jambi
  • Tasya Enggelika Simbolon Universitas Jambi
  • Fitria Barokah Universitas Jambi
  • Zhaira Burma Universitas Jambi
  • Fatonah Nurdin Universitas Jambi
  • Nirwan II Yasin Universitas Jambi

Kata Kunci:

Raden Mattaher, Perang Gerilya, Jambi, Kolonialisme Belanda, Perlawanan Lokal

Abstrak

Perlawanan rakyat Jambi terhadap kolonialisme Belanda pada awal abad ke-20 merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan lokal di Nusantara, tetapi kajian yang menelaah strategi militer Raden Mattaher secara khusus masih terbatas dan sering tersebar dalam narasi umum. Penelitian ini bertujuan menjelaskan strategi gerilya yang diterapkan Raden Mattaher dalam melawan Belanda di Jambi pada 1904–1907 serta faktor-faktor yang mendukung dan membatasinya. Periode ini dimulai pada 1904 karena wafatnya Sultan Thaha Syaifuddin pada tahun tersebut membuat perlawanan kehilangan pemimpin utamanya dan komando beralih kepada Raden Mattaher, serta berakhir pada 1907 karena Raden Mattaher gugur pada September tahun itu sehingga kepemimpinannya dalam perang gerilya berhenti. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber dikumpulkan melalui pencarian di internet dan penelusuran artikel jurnal yang relevan, kemudian diseleksi melalui kritik ekstern dan intern untuk menilai keaslian dan kredibilitasnya, ditafsirkan secara analitis, dan disusun dalam narasi historis yang kronologis. Temuan utama menunjukkan bahwa Raden Mattaher menerapkan perang gerilya dengan memanfaatkan medan hutan dan sungai di wilayah Jambi, melancarkan serangan mendadak terhadap pos dan patroli Belanda, serta menghindari pertempuran terbuka yang tidak seimbang dari segi persenjataan. Strategi tersebut ditopang oleh dukungan masyarakat setempat, ikatan kekerabatan, dan semangat mempertahankan wilayah dari campur tangan kolonial. Namun, keterbatasan senjata, tekanan militer Belanda yang berkelanjutan, dan menyempitnya ruang gerak pasukan menjadi kendala bagi keberlanjutan perlawanan. Dapat disimpulkan bahwa gerilya Raden Mattaher merupakan bentuk adaptasi rasional perlawanan lokal terhadap kekuatan kolonial yang lebih unggul, sekaligus menunjukkan bahwa perlawanan di Jambi berlangsung terorganisasi dan berakar kuat pada dukungan rakyat.

The resistance of the people of Jambi against Dutch colonialism in the early 20th century constitutes a significant chapter in the history of local struggles across the Indonesian archipelago; however, specific studies examining Raden Mattaher’s military strategies remain limited, with details often confined to generalized narratives. This study aims to elucidate the guerrilla strategies employed by Raden Mattaher against the Dutch in Jambi between 1904 and 1907, as well as the factors that both facilitated and constrained his efforts. The period begins in 1904 because the death of Sultan Thaha Syaifuddin that year left the resistance without its main leader and passed the command to Raden Mattaher, and it ends in 1907 because Raden Mattaher was killed in September of that year, which ended his leadership of the guerrilla campaign. The research employs a historical method comprising four stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Sources were gathered through online searches and the review of relevant journal articles, then subjected to external and internal criticism to assess their authenticity and credibility, analytically documented, and synthesized into a chronological historical narrative. The primary findings indicate that Raden Mattaher waged guerrilla warfare by leveraging the forest and river terrain of Jambi, launching surprise attacks on Dutch outposts and patrols, and avoiding open combat where the disparity in weaponry would have been disadvantageous. This strategy was underpinned by local community support, kinship ties, and a resolute spirit to defend the territory against colonial encroachment. Conversely, limitations in weaponry, sustained Dutch military pressure, and restricted freedom of movement for his forces posed significant obstacles to the resistance. It can be concluded that Raden Mattaher’s guerrilla campaign represented a rational form of local resistance against a superior colonial power, demonstrating that the resistance in Jambi was well-organized and deeply rooted in popular support.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-31