Jurnal Studi Multidisipliner
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm
id-IDJurnal Studi MultidisiplinerPENGARUH TERAPI MUSIK TRADISIONAL TERHADAP PERUBAHAN PADA PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN DI UPT BINA LARAS
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20401
<p>Halusinasi pendengaran merupakan gejala positif skizofrenia yang paling dominan, ditandai dengan persepsi sensori palsu tanpa stimulus eksternal yang nyata. Jika tidak ditangani, halusinasi dapat mengakibatkan kehilangan kontrol diri hingga perilaku kekerasan. Terapi musik tradisional sebagai intervensi non-farmakologi diketahui mampu menstimulasi pengeluaran endorfin dan menciptakan efek relaksasi yang dapat mengalihkan fokus pasien dari suara halusinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik tradisional terhadap perubahan skor halusinasi pendengaran pada pasien di UPT Bina Laras. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain Quasy Experiment menggunakan pendekatan One Group Pre-test and Post-test without Control Design. Populasi penelitian adalah pasien halusinasi pendengaran di UPT Bina Laras tahun 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 10 orang laki-laki. Instrumen pengukuran menggunakan kuesioner Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired T-Test setelah data dinyatakan berdistribusi normal melalui uji Shapiro-Wilk. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata (mean) skor halusinasi sebelum intervensi (pre-test) adalah 24,60 (SD = 6,415) dan menurun menjadi 21,20 (SD = 4,417) setelah intervensi (post-test). Analisis bivariat menunjukkan nilai p-value sebesar 0,009 (< 0,05) dengan mean difference sebesar 3,400 (95% CI: 1,083 – 5,717). Terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian terapi musik tradisional terhadap penurunan skor halusinasi pendengaran pada pasien di UPT Bina Laras. Terapi ini direkomendasikan sebagai salah satu bentuk rehabilitasi mandiri bagi pasien untuk membantu mengontrol gejala halusinasi secara terjadwal.</p> <p><em>Auditory hallucinations are the most dominant positive symptom of schizophrenia, characterized by false sensory perceptions without real external stimuli. If left untreated, hallucinations can lead to a loss of self-control and violent behavior. Traditional music therapy, as a non-pharmacological intervention, is known to stimulate endorphin release and create a relaxation effect that can divert a patient's focus from hallucinatory voices. This study aims to determine the effect of traditional music therapy on changes in auditory hallucination scores among patients at UPT Bina Laras. This quantitative study utilized a quasi-experimental design with a one-group pre-test and post-test without control group approach. The study population consisted of auditory hallucination patients at UPT Bina Laras in 2025. The sampling technique used was total sampling, involving 10 male respondents. The measurement instrument employed was the Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS) questionnaire. Data analysis was conducted using the Paired T-Test after the data were confirmed to be normally distributed via the Shapiro-Wilk test. The results showed that the mean hallucination score before the intervention (pre-test) was 24.60 (SD = 6.415) and decreased to 21.20 (SD = 4.417) after the intervention (post-test). Bivariate analysis revealed a p-value of 0.009 (< 0.05) with a mean difference of 3.400 (95% CI: 1.083 – 5.717). In conclusion, there is a significant effect of traditional music therapy on reducing auditory hallucination scores in patients at UPT Bina Laras. This therapy is recommended as a form of independent rehabilitation for patients to help control hallucinatory symptoms on a scheduled basis.</em></p>Nur Ismi RianiRina HerniyantiGita AdeliaYeni Devita
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103PEMANFAATAN JERUK NIPIS (Citrus Aurantifolia Swingle) SEBAGAI ZAT ANTISEPTIK PADA CUCI TANGAN DI DESA MUHAJIRIN DUSUN 10A KABUPATEN MUARO JAMBI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20349
<p>Tangan merupakan salah satu media utama penularan penyakit infeksi akibat kontak langsung dengan mikroorganisme. Upaya menjaga kebersihan tangan dapat dilakukan melalui penggunaan hand sanitizer yang mengandung bahan antiseptik. Namun, penggunaan antiseptik berbasis alkohol secara terus-menerus dapat menyebabkan iritasi kulit. Oleh karena itu, diperlukan alternatif bahan alami yang aman dan efektif, salah satunya adalah jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) yang mengandung senyawa antibakteri seperti flavonoid, tanin, dan asam sitrat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pembuatan hand sanitizer alami dari jeruk nipis dan efektivitasnya sebagai antiseptik. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, demonstrasi pembuatan hand sanitizer jeruk nipis, dan praktik cuci tangan bersama siswa Madrasah Raudhatusshalihat Desa Muhajirin Dusun 10A. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta dan peningkatan pemahaman tentang pentingnya cuci tangan serta manfaat jeruk nipis sebagai antiseptik alami. Produk hand sanitizer yang dihasilkan juga menunjukkan efektivitas dalam mengurangi jumlah kuman pada tangan berdasarkan uji sederhana menggunakan media agar. Kegiatan ini dapat menjadi alternatif edukasi kesehatan berbasis bahan alam lokal yang mudah diterapkan di masyarakat.</p> <p><em>Hands are one of the primary vehicles for transmitting infectious diseases due to direct contact with microorganisms. Hand hygiene can be achieved through the use of hand sanitizers containing antiseptic ingredients. However, continued use of alcohol-based antiseptics can cause skin irritation. Therefore, safe and effective alternative natural ingredients are needed, one of which is lime (Citrus aurantifolia Swingle), which contains antibacterial compounds such as flavonoids, tannins, and citric acid. This activity aims to increase public knowledge about making natural hand sanitizer from lime and its effectiveness as an antiseptic. The activity methods included counseling, a demonstration of lime hand sanitizer production, and handwashing practice with students from the Raudhatusshalihat Madrasah in Muhajirin Village, Hamlet 10A. The activity demonstrated high enthusiasm from participants and an increased understanding of the importance of handwashing and the benefits of lime as a natural antiseptic. The resulting hand sanitizer also demonstrated effectiveness in reducing the number of germs on hands based on a simple test using agar media. This activity can be an alternative health education program based on local natural ingredients that is easy to implement in the community.</em></p>Armini HadriyatiMuhamamd HaikalAuliah Naida FitriFariza Amanda PutriNur Ayu Agus TianaNurmadinaAzizah UlyaSelviaFaizza Azakiya Putri
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103PENYUSUNAN BUKU RESEP OLAHAN LABU SIAM BERBASIS PANGAN LOKAL UNTUK PENCEGAHAN STUNTING
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20696
<p>Penelitian dilatarbelakangi berdasarkanya tingginya kasus stunting di Indonesia serta belum optimalnya pemanfaatan pangan lokal, khususnya labu siam, sebagai sumber gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku resep olahan labu siam berbasis pangan lokal sebagai media edukasi dalam pencegahan stunting serta mengetahui tingkat kelayakannya. Pendekatan metodenya berupa R&D berdasarkan model ADDIE dengan tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, serta evaluasi. Subjek penelitian berupa ahli materi (gizi) serta pengguna yaitu masyarakat atau ibu rumah tangga. Teknik mengumpulkan data dengan wawancara, pengamatan, serta angket, kemudian dianalisis dengan kualitatif. Hasil memperlihatkan buku resep yang dikembangkan memuat variasi menu berbahan dasar labu siam yang mudah diolah, dilengkapi informasi gizi, serta langkah pembuatan yang sederhana. Hasil validasi ahli menyatakan bahwa produk layak dengan beberapa perbaikan, sedangkan respon pengguna menunjukkan bahwa buku resep mudah dipahami, menarik, dan bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan pengolahan pangan lokal. Dengan demikian, buku resep ini layak digunakan sebagai media edukasi dalam upaya pencegahan stunting.</p>Sania Dwi AndiniDiana Pangestu TutiMusdalifahPipin Pintawati Ary Pamungkas
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103ANALISIS PENERAPAN DAN FAKTOR RISIKO SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT TRANSFUSI DARAH (UTD) DAN PEMBANGUNAN GEDUNG CATHLAB DAN CVCU DI RUMAH SAKIT LAKIPADADA KABUPATEN TANA TORAJA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20376
<p>Sektor konstruksi memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi sehingga memerlukan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat penerapan SMK3, mengidentifikasi faktor-faktor risiko, serta menyusun Rencana Tindak Pengendalian (RTP) pada pembangunan Gedung Unit Transfusi Darah (UTD) dan pembangunan Gedung Cathlab dan CVCU di Rumah Sakit Lakipadada Kabupaten Tana Toraja. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui kuesioner kepada 40 responden, observasi lapangan, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan metode pembobotan untuk menilai tingkat penerapan SMK3 serta analisis risiko berdasarkan frekuensi dan keparahan yang mengacu pada Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan SMK3 pada pembangunan Gedung Unit Transfusi Darah (UTD) dan pembangunan Gedung Cathlab dan CVCU di Rumah Sakit Lakipadada Kabupaten Tana Toraja berada dalam kategori Baik. Berdasarkan hasil penelitian penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah berjalan dengan baik, dengan nilai rata-rata pencapaian sebesar 77,18%. Berdasarkan analisis faktor risiko, sebagian besar indikator berada pada kategori risiko sedang, dengan nilai tertinggi terdapat pada faktor manusia sebesar 10,21 dan faktor manajemen sebesar 10,19. Faktor risiko lainnya meliputi faktor organisasi dan budaya sebesar 8,81, lingkungan kerja sebesar 8,50, serta faktor eksternal sebesar 5,02, sedangkan faktor teknis sebesar 3,15 termasuk dalam kategori risiko kecil. Berdasarkan hasil tersebut, disusun Rencana Tindak Pengendalian (RTP) melalui penerapan hirarki pengendalian risiko yang meliputi eliminasi, substitusi, rekayasa teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) guna meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja pada proyek konstruksi.</p> <p><em>The construction sector has a high risk of occupational accidents, making the effective implementation of an Occupational Safety and Health Management System (OSHMS) essential. This study aims to assess the level of OSHMS implementation, identify risk factors, and develop a Risk Control Action Plan (RCAP) for the construction of the Blood Transfusion Unit (UTD) Building and the Cathlab and CVCU Building at Lakipadada Hospital, Tana Toraja Regency. The research employed a descriptive quantitative approach, with data collected through questionnaires distributed to 40 respondents, field observations, and interviews. Data analysis was conducted using a weighting method to evaluate the level of OSHMS implementation, as well as risk analysis based on frequency and severity in accordance with Regulation of the Ministry of Public Works and Housing (Permen PUPR) Number 10 of 2021. The results indicate that the level of OSHMS implementation in the construction of the Blood Transfusion Unit (UTD) Building and the Cathlab and CVCU Building at Lakipadada Hospital, Tana Toraja Regency, is categorized as Good. The results indicate that the implementation of SMK3 in the construction of the UTD Building and the Cathlab and CVCU Building at Lakipadada Hospital falls within the Good category. The average achievement score of SMK3 implementation is 77.18%, Based on the risk factor analysis, most indicators fall within the medium-risk category, with the highest values found in human factors (10.21) and management factors (10.19). Other risk factors include organizational and cultural factors (8.81), work environment factors (8.50), and external factors (5.02), while technical factors (3.15) are classified as low risk. Based on these findings, a Risk Control Action Plan (RCAP) was developed through the application of the hierarchy of risk control, including elimination, substitution, engineering controls, administrative controls, and the use of Personal Protective Equipment (PPE), to improve occupational safety and health performance in construction projects.</em></p>SyariaJamiluddin JabirRusmawati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103UPACARA TOLAK-BALA, MENYAMBUT PEMULIHAN DALAM PERSPEKTIF EKO-ESKATOLOGIS
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20677
<p>Upacara tolak bala merupakan salah satu ritus adat yang hidup dalam masyarakat NTT. Upacara <br>tolak bala adalah bagian dari ekspresi spiritual dan budaya yang hampir dilakukan oleh setiap <br>masyarakat, secara khusus masyarakat di Kabupataen Sikka. Upacara atau ritus ini, tidak hanya <br>berfungsi sebagai sarana penolakan terhadap malapetaka atau gangguan kosmis, tetapi <br>menggambarkan adanya kesadaran spiritual dan ekologis masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan <br>untuk mengkaji makna dan arti serta struktur yang lebih dalam mengenai upacara tolak bala dalam <br>kerangka eko-eskatologis, yakni pemahaman teologis yang mengaitkan pemulihan ciptaan dengan <br>harapan akan keselarasan akan keseimbangan akhir antara manusia dengan alam, dan yang Ilahi. <br>Hasil tulisan ilmiah ini diperoleh melalui pendekatan kualitatif dan metode wawancara yang <br>mendalam, observasi partisipatif, serta studi pustaka. Penelitian ini, menemukan bahwa upacara <br>tolak bala mengandung tiga dimensi yaitu ritus peralihan, relasi kosmis antara manusia dengan <br>leluhur, serta spiritualitas ekologis yang menempatkan alam sebagai mitra dalam proses pemulihan <br>atau penyembuhan. Simbol-simbol seperti tumbal hewan, doa dalam bahasa adat, dan pelaksanaan <br>ritus di muara sungai atau kali, dan pantai menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya berupaya <br>menolak bala, dan memusnahkan malapetaka, tetapi juga membangun kembali harmoni kosmis <br>yang terganggu. Oleh karena itu, upacara tolak bala bukan hanya semata-mata mengajarkan nilai<br>nilai solidaritas, tetapi sebagai media rekonsiliasi kosmis dan ekologis, serta sebagai bentuk <br>keterikatan spiritualitas yang mendalam, dan dapat direfleksikan secara teologis maupun ekologis <br>dalam konteks zaman ini. Dengan demikian, upacara tolak bala dapat dipahami sebagai bentuk <br>spiritualitas kontekstual yang menyatukan iman, budaya, dan ekologi dalam kerangka harapan <br>akan pemulihan yang utuh.</p>Stefania Afiarti Yelita UsbokoMaria Suwasti Nona ErvinRemigius OpatYohanes DjuVenantius Mario Sasi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103PENERAPAN GAYA SELF CHECK PADA PEMBELAJARAN ROLL DEPAN SENAM LANTAI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20361
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan gaya Self Check dalam pembelajaran roll depan senam lantai pada siswa Sekolah Menengah Atas serta mengkaji pengaruhnya terhadap peningkatan keterampilan gerak dan kemampuan evaluasi diri siswa. Permasalahan yang sering muncul dalam pembelajaran senam lantai adalah rendahnya kesadaran teknik dan ketergantungan siswa terhadap umpan balik guru. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental melalui model one group pretest-posttest. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI yang mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi keterampilan roll depan dan lembar evaluasi diri berbasis kriteria gerak. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kualitas teknik roll depan setelah penerapan gaya Self Check. Selain itu, siswa menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengidentifikasi kesalahan gerak secara mandiri. Temuan ini mengindikasikan bahwa gaya Self Check efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik sekaligus membangun tanggung jawab belajar siswa pada materi senam lantai.</p> <p><em>This study aims to analyze the application of the Self-Check style in learning front rolls in floor gymnastics for high school students and examine its effect on improving students' motor skills and self-evaluation abilities. Problems that often arise in floor gymnastics learning are low technical awareness and students' dependence on teacher feedback. The approach used in this study is a quantitative method with a pre-experimental design through a one-group pretest-posttest model. The subjects were grade 11 students who participated in physical education lessons. The instruments used were a front roll skill observation sheet and a self-evaluation sheet based on movement criteria. The results showed a significant increase in the quality of front roll technique after the application of the Self-Check style. In addition, students showed an increase in their ability to identify movement errors independently. These findings indicate that the Self-Check style is effective in improving motor skills while building students' learning responsibility in floor gymnastics material.</em></p>Thesa Lorika Casanova PurbaMila LumbangaolRuth Novita SimangunsongAnnisah HarahapMael Steven SihombingAyub Maruli SitumorangIndana ZulfaNur Kholilah Harahap
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103HUBUNGAN ANTARA OLAHRAGA TERATUR DENGAN KESEHATAN MENTAL MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20623
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara olahraga teratur dengan kesehatan mental mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Latar belakang penelitian didasarkan pada meningkatnya permasalahan kesehatan mental di kalangan mahasiswa akibat tekanan akademik, sosial, dan tuntutan perkuliahan, meskipun mahasiswa ilmu keolahragaan memiliki kedekatan dengan aktivitas fisik. Olahraga teratur dipandang sebagai salah satu faktor gaya hidup yang berpotensi berperan dalam menjaga stabilitas kesehatan mental mahasiswa. Kondisi ini menjadi penting karena mahasiswa sering menghadapi stres akademik, kecemasan, serta tekanan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus. Oleh sebab itu, aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi strategi sederhana namun efektif dalam membantu mahasiswa menjaga keseimbangan emosional dan psikologis selama menjalani masa perkuliahan. Penelitian ini juga difokuskan pada konteks mahasiswa Ilmu Keolahragaan yang memiliki karakteristik perkuliahan berbasis praktik fisik, sehingga menarik untuk dikaji lebih spesifik.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa aktif Program Studi Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang angkatan 2022–2025, dengan sampel sebanyak 100 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner olahraga teratur yang mengukur frekuensi, durasi, dan intensitas olahraga, serta kuesioner kesehatan mental yang mencakup aspek gejala psikis, somatik, afektif, dan kesejahteraan emosional. Pengukuran olahraga teratur dilakukan untuk mengetahui tingkat keteraturan aktivitas fisik mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan pengukuran kesehatan mental digunakan untuk menggambarkan kondisi psikologis mahasiswa dalam menghadapi tekanan akademik maupun sosial. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment setelah memenuhi uji normalitas dan linearitas. Analisis ini dipilih karena penelitian bertujuan melihat keeratan hubungan antara dua variabel tanpa memberikan perlakuan khusus pada responden, sehingga data yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata mahasiswa secara objektif dan terukur.Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara olahraga teratur dengan kesehatan mental mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (p < 0,05). Mahasiswa yang melakukan olahraga secara teratur cenderung memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang kurang teratur berolahraga. Temuan ini menunjukkan bahwa olahraga teratur berperan sebagai faktor pendukung dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mental mahasiswa. Hubungan positif ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi keteraturan mahasiswa dalam berolahraga, maka semakin baik pula kondisi emosional dan psikologis yang dimiliki. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu mahasiswa mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, serta memperkuat ketahanan mental dalam menghadapi dinamika kehidupan akademik. Dengan demikian, olahraga tidak hanya bermanfaat bagi kebugaran jasmani, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa olahraga teratur memiliki hubungan yang signifikan dengan kesehatan mental mahasiswa. Oleh karena itu, olahraga teratur disarankan untuk dijadikan bagian dari gaya hidup mahasiswa, serta dapat dimanfaatkan oleh program studi sebagai salah satu upaya pendukung dalam meningkatkan kesejahteraan mental mahasiswa. Selain itu, mahasiswa diharapkan mampu mempertahankan rutinitas olahraga secara konsisten sebagai bentuk upaya preventif dalam menjaga kesehatan mental. Program studi juga dapat mengembangkan kegiatan yang mendukung mahasiswa tetap aktif secara fisik, sehingga tercipta lingkungan akademik yang lebih sehat, seimbang, dan suportif. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan program pembinaan mahasiswa berbasis aktivitas fisik dan kesehatan mental di lingkungan pendidikan tinggi.</p> <p><em>This study aims to determine the relationship between regular exercise and the mental health of students in the Sports Science Study Program at Malang State University. The background of this study is based on the increasing mental health problems among students due to academic, social, and lecture demands, even though sports science students are closely related to physical activities. Regular exercise is seen as one of the lifestyle factors that has the potential to play a role in maintaining the stability of students' mental health. Furthermore, previous studies have suggested that physical activity not only contributes to physiological fitness but also provides psychological benefits, such as reducing stress levels and enhancing emotional balance among university students.This study uses a quantitative approach with a correlational research design. The research population consists of all active students in the Sports Science Study Program at Malang State University from the 2022–2025 cohorts, with a sample of 100 students selected using purposive sampling. The research instruments consisted of a regular exercise questionnaire that measured the frequency, duration, and intensity of exercise, as well as a mental health questionnaire that covered aspects of psychological, somatic, affective, and emotional well-being symptoms. The data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation test after meeting the normality and linearity tests. This methodological approach was chosen because it allows the researcher to objectively examine the degree of association between two measurable variables without providing any intervention to the participants.The results of the analysis showed that there was a significant relationship between regular exercise and the mental health of students in the Sports Science Study Program at Malang State University (p < 0.05). Students who exercised regularly demonstrated better mental health conditions than students who exercised less regularly. These findings indicate that regular exercise plays a supporting role in maintaining and improving students' mental health. In this context, regular physical activity may serve as an adaptive strategy for students in coping with academic pressures and emotional challenges during their university life.Based on these research results, it can be concluded that regular exercise has a significant relationship with students' mental health. Therefore, regular exercise is recommended to be made part of students' lifestyles and can be utilized by study programs as one of the supporting efforts in improving students' mental well-being. In addition, the findings of this study are expected to provide scientific contributions for the development of student welfare programs that integrate physical activity as a key component in promoting mental health within higher education settings.</em></p>Adityawan Putra Raffi'ul Ramadhan
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103SYSTEMATIC LITERATUR REVIU: PENGENDALIAN BIAYA OVERHEAD PADA PROYEK INFRASTRUKTUR DESA BERBASIS SWAKELOLA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20357
<p>Proyek infrastruktur desa berbasis swakelola yang dikelola oleh kelompok masyarakat (Pokmas) sering dipilih karena dinilai lebih efisien dan mendorong pemanfaatan sumber daya lokal. Namun, dalam praktiknya biaya overhead seperti administrasi, pengawasan, operasional lapangan, dan biaya pendukun sering sulit dipetakan dan dikendalikan sehingga berpotensi memicu pembengkakan anggaran. Studi ini menyajikan tinjauan literatur sistematis (Systematic Literature Review) untuk memetakan faktor, tantangan, serta strategi pengendalian biaya overhead pada proyek infrastruktur desa berbasis swakelola. Pencarian literatur dilakukan pada basis data Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, Portal Garuda, dan SINTA dengan rentang publikasi 2019–2024 serta kata kunci yang relevan. Seleksi studi mengikuti PRISMA dan penyaringan berbasis PICOS hingga diperoleh 7 artikel yang memenuhi kriteria. Sintesis tematik menunjukkan bahwa overhead cenderung meningkat seiring durasi proyek, dipengaruhi faktor eksternal (misalnya perubahan kebijakan dan kondisi sosial), serta diperparah keterbatasan kapasitas manajerial pelaksana di tingkat desa. Strategi yang paling konsisten direkomendasikan meliputi penyediaan pos kontinjensi atau biaya tidak terduga, penguatan pengawasan lapangan, serta penerapan pendekatan berbasis kinerja seperti Earned Value Management (EVM) dan alokasi berbasis aktivitas seperti Activity-Based Costing (ABC). Kajian ini menawarkan implikasi praktis berupa kerangka rekomendasi pengendalian overhead yang lebih terukur bagi Pokmas dan pemangku kebijakan desa, sekaligus menegaskan kebutuhan riset lanjutan terkait standar perhitungan overhead pada proyek swakelola</p> <p><em>Community-based self-managed village infrastructure projects implemented by local community groups (Pokmas) are often adopted due to their perceived efficiency and their potential to promote the use of local resources. However, in practice, overhead costs—such as administrative expenses, supervision, field operations, and supporting costs—are often difficult to identify and control, which may lead to budget overruns. This study presents a Systematic Literature Review (SLR) aimed at identifying the key factors, challenges, and strategies for controlling overhead costs in self-managed village infrastructure projects. The literature search was conducted across Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, Portal Garuda, and SINTA databases, covering publications from 2019 to 2024 using relevant keywords. Study selection followed the PRISMA protocol and PICOS-based screening, resulting in seven articles that met the inclusion criteria. Thematic synthesis indicates that overhead costs tend to increase with project duration, are influenced by external factors (such as policy changes and social conditions), and are further exacerbated by limited managerial capacity at the village level. The most consistently recommended strategies include the provision of contingency allowances, strengthened field supervision, and the application of performance-based approaches such as Earned Value Management (EVM) and activity-based allocation methods such as Activity-Based Costing (ABC). This review offers practical implications in the form of a more structured framework for overhead cost control for community groups and village policymakers, while also highlighting the need for further research on standardized overhead cost calculation in self-managed projects.</em></p>SalehJamiluddin JabirInarmiwati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103IMPLEMENTASI ASAS KEADILAN DAN PEMERATAAN DALAM PEMBAGIAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DI DESA PASEBAN TEBO
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20403
<p>Data penerima bantuan yang tidak akurat menjadi masalah besar dalam penyaluran bantuan pemerintah. Sering kali, data yang digunakan tidak terintegrasi antar instansi atau tidak diperbarui dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi asas keadilan dan pemerataan dalam pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Desa Paseban, mengetahui dampak ekonomi penerimaan bantuan terhadap masyarakat, serta merumuskan cara menanggulangi ketidakmerataan dalam penyaluran BLT berdasarkan perspektif Ekonomi Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai instrumen pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi asas keadilan dan pemerataan dalam penyaluran BLT di Desa Paseban sudah berjalan sesuai prinsip yang ditetapkan pemerintah, meskipun masih terdapat kendala berupa ketidakakuratan data penerima dan persepsi subjektif masyarakat mengenai keadilan distribusi. Dampak ekonomi dari penerimaan BLT cukup signifikan bagi masyarakat penerima, terutama dalam meningkatkan daya beli dan pemenuhan kebutuhan pokok, namun manfaatnya bersifat sementara dan belum mampu menciptakan kemandirian ekonomi. Dalam perspektif Ekonomi Islam, penanggulangan ketidakmerataan penyaluran BLT dapat dilakukan melalui penerapan prinsip keadilan (al-‘adl), amanah (al-amānah), dan musyawarah (asy-syūrā), dengan menekankan transparansi dan keterlibatan masyarakat dalam proses pendataan serta pengawasan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyaluran BLT di Desa Paseban telah berjalan, namun belum sepenuhnya optimal. Optimalisasi dapat dicapai melalui perbaikan sistem pendataan, peningkatan transparansi, serta penerapan nilai-nilai Ekonomi Islam sebagai landasan etis dalam distribusi bantuan.</p> <p><em>Inaccurate recipient data is a major problem in the distribution of government aid. Often, the data used is not integrated across agencies or is not properly updated. This research aims to analyze the implementation of the principles of justice and equity in the distribution of Direct Cash Assistance (BLT) in Paseban Village, to examine the economic impact of receiving the assistance on the community, and to formulate ways to overcome inequality in its distribution from the perspective of Islamic Economics. The research method used is qualitative with a descriptive approach, employing interviews, observations, and documentation as data collection instruments. The findings show that the implementation of justice and equity in the distribution of BLT in Paseban Village has generally followed the principles set by the government, although some challenges remain, such as inaccurate recipient data and subjective perceptions of fairness among the community. The economic impact of BLT is relatively positive, as it improves the purchasing power of beneficiary households and helps meet their basic needs. However, its benefits are temporary and insufficient to create long-term economic independence. From the perspective of Islamic Economics, inequality in BLT distribution can be addressed by applying the principles of justice (al-‘adl), trustworthiness (al-amānah), and consultation (asy-shūrā), emphasizing transparency and community involvement in the verification and monitoring processes. In conclusion, the distribution of BLT in Paseban Village has been implemented but has not yet achieved optimal results. Optimization can be realized through improvements in data accuracy, increased transparency, and the application of Islamic economic values as an ethical foundation for fair distribution.</em></p>Dinda AfrianiPutri Apria NingsihRabiyatul Alawiyah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103ASUHAN KEPERAWATAN PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI GENGGAM JARI TERHADAP NYERI PADA REMAJA YANG MENGALAMI DISMENORE DIDESA PANCURAN GADING
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20352
<p>Dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Nyeri haid yang tidak ditangani dengan baik dapat menurunkan konsentrasi belajar, kualitas tidur, serta produktivitas remaja. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri dismenore adalah teknik relaksasi genggam jari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada remaja yang mengalami dismenore di Desa Pancuran Gading. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif pada dua responden remaja putri yang mengalami nyeri dismenore. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Intervensi diberikan selama tiga hari, dua kali sehari, dengan durasi 15–20 menit setiap sesi. Hasil menunjukkan adanya penurunan skala nyeri pada kedua responden setelah dilakukan terapi relaksasi genggam jari. Selain itu, responden tampak lebih rileks, ekspresi wajah lebih tenang, dan aktivitas ringan dapat dilakukan tanpa gangguan berarti. Kesimpulannya, teknik relaksasi genggam jari efektif sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam membantu menurunkan nyeri dismenore pada remaja.</p> <p><em>Dysmenorrhea is one of the most common reproductive health problems experienced by adolescent girls and can interfere with daily activities. Poorly managed menstrual pain may decrease concentration, disrupt sleep quality, and reduce overall productivity. One non-pharmacological intervention that can be used to relieve dysmenorrhea pain is the finger hold relaxation technique. This study aimed to analyze the effect of the finger hold relaxation technique on reducing pain intensity among adolescents experiencing dysmenorrhea in Pancuran Gading Village. The method used was a case study with a descriptive approach involving two adolescent female respondents who experienced dysmenorrhea. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention. The intervention was administered for three consecutive days, twice daily, with a duration of 15–20 minutes per session. The results showed a decrease in pain scale scores in both respondents after the application of the finger hold relaxation technique. In addition, the respondents appeared more relaxed, their facial expressions became calmer, and they were able to perform light activities without significant discomfort. In conclusion, the finger hold relaxation technique is effective as a non-pharmacological nursing intervention in reducing dysmenorrhea pain among adolescents.</em></p>Cucu Putri CahyaniYureya NitaGita AdeliaIfon Driposwana Putra
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR/FISIK DI DESA LUSIDUAWUTUN KECAMATAN NAGAWUTUN KABUPATEN LEMBATA (STUDI KASUS PEMBANGUNAN JALAN DAN AIR BERSIH)
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20394
<p>Pembangunan infrastruktur desa membutuhkan keterlibatan masyarakat agar hasil pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan dapat berkelanjutan. Namun, dalam praktiknya tingkat partisipasi masyarakat sering kali tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan infrastruktur jalan dan penyediaan air bersih di Desa Lusiduawutun, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, menganalisis mekanisme komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi masyarakat, serta mengkaji dampak partisipasi tersebut terhadap keberhasilan dan keberlanjutan pembangunan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan aparat pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta warga yang terlibat aktif maupun pasif dalam pembangunan, observasi lapangan, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan infrastruktur bervariasi. Masyarakat yang merasakan manfaat langsung cenderung aktif mengikuti musyawarah desa dan kegiatan pembangunan, sedangkan masyarakat yang memiliki kesibukan kerja dan keterbatasan informasi cenderung kurang terlibat. Mekanisme komunikasi pemerintah desa dilakukan melalui musyawarah desa dan peran tokoh masyarakat, namun belum sepenuhnya menjangkau seluruh warga. Faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi meliputi kesadaran masyarakat, kepentingan langsung, kesibukan pekerjaan, serta peran tokoh masyarakat sebagai penggerak. Partisipasi masyarakat memberikan dampak positif terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan, menumbuhkan rasa memiliki, dan mendukung keberlanjutan hasil pembangunan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat merupakan unsur penting dalam keberhasilan perencanaan pembangunan infrastruktur desa. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah desa meningkatkan sosialisasi, memperkuat peran tokoh masyarakat, serta melibatkan warga secara lebih merata dalam setiap tahapan perencanaan pembangunan.</p> <p><em>Village infrastructure development requires community involvement so that the results of development are in line with needs and are sustainable. However, in practice, the level of community participation is often uneven. This study aims to determine the level of community participation in the planning of road infrastructure development and clean water supply in Lusiduawutun Village, Nagawutun District, Lembata Regency, analyze the communication mechanisms between the village government and the community, identify factors that influence community participation, and assess the impact of such participation on the success and sustainability of development. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data were obtained through in-depth interviews with village government officials, community leaders, and residents who were actively or passively involved in development, field observations, and documentation. The data were analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that the level of community participation in infrastructure development planning varies. Communities that feel the direct benefits tend to actively participate in village deliberations and development activities, while communities that are busy with work and have limited information tend to be less involved. The village government’s communication mechanism is carried out through village deliberations and the role of community leaders, but it has not fully reached all residents. Factors that influence participation include community awareness, direct interests, work commitments, and the role of community leaders as motivators. Community participation has a positive impact on the smooth implementation of development, fosters a sense of ownership, and supports the sustainability of development outcomes. The conclusion of this study shows that community participation is an important element in the success of rural infrastructure development planning. Therefore, tis recommended that village governments increase socialization, strengthen the role of community leaders, and involve residents more evenly in every stage of development planning.</em></p>Laurentius Bisa LazarenUrbanus Ola Hurek
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103ANALISIS YURIDIS TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2004 (Studi Putusan Perkara Nomor 03/Pid.Sus/2025/PN Pdp)
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20682
<p>Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan tindak pidana yang tidak hanya menimbulkan penderitaan fisik, tetapi juga mengancam harkat, martabat, serta ketenteraman keluarga. Negara kemudian mengesahkan Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sebagai dasar hukum untuk melindungi korban sekaligus menegakkan pertanggungjawaban pidana pelaku. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan menitikberatkan pada kajian peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, dan yurisprudensi, yang kemudian dikaitkan dengan fakta hukum dalam Putusan Pengadilan Negeri Padang Panjang Nomor 03/Pid.Sus/2025/PNPdp. Data diperoleh melalui studi kepustakaan, analisis putusan, serta wawancara dengan hakim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku terbukti memenuhi unsur delik Pasal 44 UU No. 23 Tahun 2004 dan dijatuhi pidana penjara selama 1 (satu) bulan 15 (lima belas) hari. Penerapan undang-undang tersebut dinilai sesuai ketentuan, namun vonis yang relatif ringan menimbulkan kritik terkait perlindungan korban, efek jera, dan tujuan pemidanaan.</p> <p><em>Domestic violence is a criminal act that not only causes physical harm but also threatens the dignity, integrity, and harmony of the family. To address this issue, the state enacted Law Number 23 of 2004 on the Elimination of Domestic Violence, which provides a legal basis for protecting victims and holding perpetrators accountable. This research applies a normative juridical method, emphasizing the study of legislation, legal doctrines, and jurisprudence, and linking them to the legal facts in Decision of the Padang Panjang District Court Number 03/Pid.Sus/2025/PNPdp. Data were obtained through library research, court decision analysis, and interviews with judges. The findings show that the perpetrator was proven to have fulfilled the elements of Article 44 of Law No. 23 of 2004 and was sentenced to imprisonment of 1 (one) month and 15 (fifteen) days. The application of the law has been in accordance with its provisions; however, the relatively light sentence raised criticism regarding victim protection, deterrence, and the objectives of punishment.</em></p>Chelsi AmraniMuhammad Daniel ArifinDio Prasetyo Budi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103PENYULUHAN DAN EDUKASI PEMANFAATAN BLACK GARLIC SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA MUHAJIRIN DUSUN SUKO RAME KABUPATEN MUARO JAMBI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20374
<p>Desa Muhajirin berada di Kecamatan Jaluko, Kabupaten Muaro Jambi yang memiliki penduduk Desa sebanyak ± 3209 jiwa. Mata pencaharian masyarakat yaitu petani. Menurut data Puskesmas Desa Muhajirin riwayat 10 penyakit tertinggi yang dialami oleh Masyarakat Desa Muhajirin Kecamatan Jaluko diantaranya ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), Hipertensi, Diabetes Melitus, Demam Tanpa Sebab, Gastritis, Dermatitis, Dispepsia, Rhematoid Artritis, Diare dan Myalgia. Maka dari itu dalam kegiatan KKN ini kami akan melakukan upaya untuk mencegah dan mengobati penyakit tersebut dalam bentuk penyuluhan serta edukasi mengenai tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai alternatif obat tradisional. Adapun tujuan dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini yaitu meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Muhajirin untuk menjaga kesehatan, mengetahui pemanfaatan bahan alam yang dapat dijadikan sebagai alternatif alami pengobatan penyakit serta publikasi artikel ilmiah.</p> <p><em>Muhajirin Village is located in Jaluko District, Muaro Jambi Regency, which has a village population of approximately 3209 people. The community's livelihood is farming. According to data from the Muhajirin Village Health Center, the history of the 10 highest diseases experienced by the Muhajirin Village Community in Jaluko District includes ISPA (Acute Respiratory Tract Infection), Hypertension, Diabetes Mellitus, Fever Without Cause, Gastritis, Dermatitis, Dyspepsia, Rheumatoid Arthritis, Diarrhea and Myalgia. Therefore, in this KKN activity we will make efforts to prevent and treat these diseases in the form of counseling and education about herbal plants that can be used as alternatives to traditional medicine. The purpose of this Community Service Lecture (KKN) is to increase the knowledge of the Muhajirin Village community to maintain health, learn about the use of natural ingredients that can be used as natural alternatives for treating diseases and publish scientific articles..</em></p>Mukhlis SanuddinNadya Ingrida PanjaitanSecio LovellyaRosa Tri SesarSuci Indah UntariLara Oki YunistiaTiara Nanda KusnadiNabilatul Fitrah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103URGENSI PEMBUDAYAAN PANCASILA DALAM MEREDAM FUNDAMENTALISME AGAMA DI INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20676
<p>Eksistensi Pancasila terancam memudar oleh adanya fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama sebagai akar dari radikalisme, mewujudkan diri dalam tindakan terorisme dan kekerasan, dan ingin mencabut akar dari warna keberagaman yang berusaha dirangkul oleh pancasila. fundamentalisme Islam bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap sila Pancasila. Dalam artikel ini, penulis akan menjelaskan akar lahirnya fundamentalisme agama hingga bertumbuh di Indonesia. Kemudian, akan diuraikan pertentangan nilai-nilai yang diantut oleh Pancasila dan paham yang dianut kaum fundamentalisme agama. Dari situ, penulis menarik kesimpulan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk meredam menyebarnya fundamentalisme agama di Indonesia dengan pembudayaan Pancasila. Pembudayaaan ini mencakup beberap upaya: perbaikan pendidikan pancasila, dialog antar agama, suku, budaya, dan golongan, internalisasi nilai-nilai pancasila, dan mengupayakan keteladan para pemimpin dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Hemat penulis, pembudayaan Pancasila mampu meredam paham tersebut dan mengamankan bangsa ini dari dampak buruk yang disebabkannya bagi kebaikan bangsa Indonesia.</p>Apolonaris Ola SuanGeoferi Letsoin HamanIdelfonsius DatungVinsensius Saban
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103ANALISIS YURIDIS KONSEP TINDAK PIDANA KOHABITASI DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2023 TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20359
<p>Kohabitasi atau hidup bersama tanpa ikatan perkawinan yang sah, yang populer dengan istilah “kumpul kebo”, menjadi isu hukum dan sosial yang kontroversial di Indonesia. Dalam KUHP lama, tidak ditemukan pengaturan eksplisit mengenai kohabitasi, namun praktik ini dianggap bertentangan dengan norma kesusilaan dan nilai moral masyarakat. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, kohabitasi secara tegas diatur dalam Pasal 412 sebagai delik aduan terbatas. Hal ini berarti penegakan hukum hanya dapat dilakukan jika terdapat pengaduan dari pihak yang dirugikan secara langsung. Fenomena ini menimbulkan perdebatan mengenai sejauh mana negara berhak mengkriminalisasi hubungan privat yang dilakukan oleh dua orang dewasa atas dasar suka sama suka. Dari sisi sosiologis, kohabitasi mencerminkan pergeseran nilai sosial generasi muda yang memandang pernikahan sebagai hal normatif dan rumit, sehingga memilih kohabitasi sebagai alternatif. Namun, mayoritas masyarakat Indonesia masih berpijak pada nilai agama, budaya, dan kesusilaan yang menolak praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan doktrinal dan perbandingan. Analisis difokuskan pada struktur norma Pasal 412 KUHP 2023, unsur tindak pidana kohabitasi, serta bentuk pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku. Penelitian ini juga membandingkan pengaturan kohabitasi di beberapa negara lain guna memperluas perspektif hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan kohabitasi dalam KUHP 2023 mencerminkan penerapan teori moralitas hukum (legal moralism), yang menempatkan moralitas publik sebagai dasar kriminalisasi. Namun, penerapannya masih menghadapi tantangan, baik dalam aspek efektivitas penegakan hukum maupun potensi benturan dengan hak privasi individu. Oleh karena itu, diperlukan formulasi hukum yang lebih proporsional agar perlindungan nilai moral masyarakat tetap sejalan dengan prinsip keadilan dan hak asasi manusia dalam hukum pidana modern.</p> <p><em>Cohabitation, or living together without a legal marriage, popularly known as “kumpul kebo”, has become a controversial legal and social issue in Indonesia. The old Criminal Code did not explicitly regulate cohabitation, although the practice was considered contrary to morality and prevailing social norms. With the enactment of Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code, cohabitation is expressly regulated under Article 412 as a limited complaint offense. This means that legal enforcement can only proceed if there is a complaint from a directly aggrieved party. This provision raises debate about the extent to which the state may criminalize private relationships carried out voluntarily by two adults. From a sociological perspective, cohabitation reflects a shift in social values, particularly among younger generations who perceive marriage as normative yet complicated, thus preferring cohabitation as an alternative. However, the majority of Indonesian society, rooted in religious, cultural, and moral values, continues to reject such practices. This study employs normative legal research with doctrinal and comparative approaches. The analysis focuses on the normative structure of Article 412 of the 2023 Criminal Code, the elements of the cohabitation offense, and the forms of criminal liability imposed on perpetrators. The study also compares cohabitation regulations in other countries to broaden the legal perspective. The findings indicate that the regulation of cohabitation in the 2023 Criminal Code reflects the application of legal moralism theory, which upholds public morality as the basis of criminalization. However, its enforcement still faces challenges in terms of effectiveness and potential conflicts with individual privacy rights. Therefore, a more proportional legal formulation is needed to ensure that the protection of societal moral values aligns with the principles of justice and human rights in modern criminal law. </em></p>Putriana Paulina DheriAgustina WatiNur Aripkah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103GERAKAN GEREJA BERSIH DAN PEDULI LINGKUNGAN DI HKBP IMMANUEL RESORT PATUMBAK
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20429
<p>Perubahan lingkungan hidup yang semakin kompleks menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamazakebersihan dan kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan, menganalisis peran gereja, serta mengetahui dampak Gerakan Gereja Bersih dan Peduli Lingkungan di HKBP Immanuel Resort Patumbak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara terhadap pendeta, pengurus gereja, dan jemaat yang terlibat aktif dalam kegiatan kebersihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan ini dilaksanakan secara rutin melalui kegiatan gotong royong, pengelolaan dan pemilahan sampah, serta penghijauan lingkungan gereja. Partisipasi jemaat dari berbagai kelompok usia menunjukkan adanya kesadaran kolektif dan rasa memiliki terhadap gereja sebagai ruang bersama. Gerakan ini tidak hanya berdampak pada terciptanya lingkungan gereja yang bersih dan asri, tetapi juga membentuk sikap tanggung jawab, disiplin, kerja sama, dan kepedulian ekologis jemaat. Secara teologis, gerakan ini mencerminkan implementasi tanggung jawab manusia sebagai penatalayan ciptaan Tuhan, sedangkan secara sosial gerakan ini menjadi bentuk kesaksian gereja dalam menghadirkan perubahan positif di tengah masyarakat. Dengan demikian, Gerakan Gereja Bersih dan Peduli Lingkungan merupakan integrasi antara iman, pendidikan karakter, dan tanggung jawab ekologis yang berkelanjutan.</p>Justinos Ray NainggolanBoy Florentius SinagaElis Ermawati PasaribuRida Exaulina NainggolanNatasya Vany
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103ASUHAN KEPERAWATAN PENERAPAN TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF DALAM MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR DAN ISTIRAHAT PADA LANSIA DENGAN INSOMNIA DI DESA PANCURAN GADING
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jsm/article/view/20355
<p>Gangguan pola tidur merupakan masalah umum pada lansia dan dapat memengaruhi kualitas hidup serta fungsi sehari-hari. Studi kasus ini bertujuan menilai efektivitas intervensi teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan insomnia pada lansia. Metode penelitian : Desain penelitian menggunakan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi kuisioner ISI (Insomnia Severity Index). Intervensi dilakukan pada 4 Agustus hingga 6 Agustus di Desa Pancuran Gading dengan Jumlah Responden 2 orang. Hasil : Terdapat Penurunan gangguan pola tidur pada lansia setelah diberikan penerapan teknik relaksasi otot progresif selama 3 hari sebanyak 2 sesi setiap harinya, dengan durasi 15 menit pada setiap sesi. Kesimpulan: Terdapat perbedaan hasil skor ISI d setelah penerapan teknik relaksasi otot progresif ini. Dengan skor ISI pada responden pertama 26 turun menjadi 4, pada responden kedua 22 turun menjadi 5 dengan kategori tidak insomnia.</p> <p><em>Sleep pattern disturbances are a common problem in the elderly and can affect quality of life and daily functioning. This case study aims to assess the effectiveness of progressive muscle relaxation therapy interventions on reducing insomnia in the elderly. Research Methods: The research design used a case study. Data were collected through interviews and observations using the ISI (Insomnia Severity Index) questionnaire. The intervention was conducted from August 4 to 6 in Pancuran Gading Village with two respondents. Results: There was a decrease in sleep pattern disturbances in the elderly after receiving progressive muscle relaxation therapy for 3 days, with two sessions each day, lasting 15 minutes each session. Conclusion: There was a difference in ISI scores after the implementation of progressive muscle relaxation therapy. The first patient's ISI score dropped from 26 to 4, and the second patient's score dropped from 22 to 5, categorizing her as having no insomnia.</em></p>Jesica Erlisa SianturiYureya NitaGita AdeliaIfon Driposwana Putra
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Studi Multidisipliner
2026-03-302026-03-30103