HUBUNGAN ORANG TUA DAN REMAJA DALAM KELUARGA: DINAMIKA, FAKTOR YANG MEMENGARUHI, DAN STRATEGI PENGUATAN
Kata Kunci:
Hubungan Orang Tua-Remaja, Pola Asuh, Kelekatan, Regulasi Emosi, Komunikasi Keluarga, Remaja IndonesiaAbstrak
Masa remaja merupakan periode perkembangan yang krusial dan penuh tantangan. Hubungan antara orang tua dan remaja memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk kesehatan mental, regulasi emosi, identitas diri, serta perilaku adaptif remaja. Artikel tinjauan literatur ini bertujuan untuk menggambarkan dinamika hubungan orang tua-remaja, mengidentifikasi faktor- faktor yang memengaruhinya, menganalisis tantangan di era digital, serta menyusun strategi penguatan hubungan keluarga. Melalui analisis terhadap berbagai studi empiris baik nasional maupun internasional, hasil tinjauan menunjukkan bahwa pola asuh autoritatif, kelekatan aman, dan komunikasi terbuka merupakan faktor protektif utama. Tantangan utama yang dihadapi adalah pengaruh media sosial, tekanan akademik, perbedaan generasi, dan perubahan struktur keluarga. Artikel ini menyimpulkan pentingnya penguatan hubungan orang tua- remaja yang hangat dan suportif untuk mendukung perkembangan remaja yang resilien di Indonesia. Implikasi praktis bagi orang tua, pendidik, dan konselor juga disajikan.
Adolescence is a critical and challenging developmental period. The parent-adolescent relationship plays a vital role in shaping mental health, emotion regulation, self-identity, and adaptive behavior. This literature review article aims to describe the dynamics of parent-adolescent relationships, identify influencing factors, analyze challenges in the digital era, and formulate family relationship strengthening strategies. Through analysis of various national and international empirical studies, the review shows that authoritative parenting, secure attachment, and open communication are the main protective factors. The main challenges faced are the influence of social media, academic pressure, generation gap, and changes in family structure. This article concludes the importance of warm and supportive parent-adolescent relationship strengthening to support resilient adolescent development in Indonesia. Practical implications for parents, educators, and counselors are also presented.




