https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/issue/feed Perspektif Agama dan Identitas 2026-06-29T18:50:33+00:00 Open Journal Systems https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22815 INTERNALISASI NILAI BIRRUL WALIDAIN DALAM PENGUATAN KARAKTER ISLAMI SISWA: PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 2026-06-10T05:49:35+00:00 Nadhila Nur Amrina 23051070374@radenfatah.ac.id Tazkia Quro'atul A'yun 23051070355@radenfatah.ac.id Putri Andriani andrianip125@gmail.com Nanda Kasella nandakasella730@gmail.com M. Arif Nurdin Wijaya 23051070380@radenfatah.ac.id Alihan Satra alihansatra_uin@radenfatah.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis internalisasi nilai birrul walidain dalam penguatan karakter Islami siswa melalui perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI). Birrul walidain merupakan ajaran fundamental dalam Islam yang menekankan sikap hormat, taat, dan berbakti kepada orang tua sebagai bagian dari pembentukan akhlak mulia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai sumber primer dan sekunder yang relevan, meliputi Al-Qur’an, hadis, buku, serta artikel ilmiah terkait pendidikan karakter dan PAI. Hasil kajian menunjukkan bahwa internalisasi nilai birrul walidain dapat dilakukan melalui proses pembelajaran, keteladanan, pembiasaan, dan penguatan budaya religius di lingkungan sekolah maupun keluarga. Nilai-nilai tersebut berkontribusi dalam membentuk karakter Islami siswa, seperti sikap hormat, tanggung jawab, disiplin, empati, dan kepedulian sosial. Selain itu, sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan penanaman nilai birrul walidain. Dengan demikian, integrasi nilai birrul walidain dalam Pendidikan Agama Islam dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat karakter Islami siswa di tengah tantangan perkembangan zaman.</p> <p><em>This study aims to analyze the internalization of the value of birrul walidain in strengthening students’ Islamic character through the perspective of Islamic Religious Education (IRE). Birrul walidain is a fundamental teaching in Islam that emphasizes respect, obedience, and devotion to parents as part of the development of noble character. The research method used is a literature review (library research) by examining various relevant primary and secondary sources, including the Qur’an, hadith, books, and scientific articles related to character education and PAI. The results of the study indicate that the internalization of the value of birrul walidain can be achieved through the learning process, modeling, habit formation, and the reinforcement of religious culture within both the school and family environments. These values contribute to shaping students’ Islamic character, such as respect, responsibility, discipline, empathy, and social concern. Furthermore, synergy between schools, families, and the community is a crucial factor in the successful instillation of the value of birrul walidain. Thus, integrating the value of birrul walidain into Islamic Religious Education can serve as an effective strategy to strengthen students’ Islamic character amidst the challenges of modern times.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22371 PERKAWINAN ANAK DALAM TINJAUAN HUKUM KELUARGA ISLAM DAN HUKUM POSITIF 2026-05-30T08:10:04+00:00 Helma Dea Aulia helmaauliapky@gmail.com Zaskia Naisya Farnanda zaskiafarnanda@gmail.com <p><em>Child marriage continues to be a complex social and legal problem in Indonesia, particularly due to differences between Islamic family law and national positive law. In Islamic, marriage eligibility is generally associated with maturity (baligh) and personal readiness, whereas law Number 16 of 2019 sets the minimum marriage age at 19 years to strengthen child protection. This study uses a normative juridical method through statutory and conceptual approaches based on library research. The study finds that the coexistence of these two legal perspectives often leads to inconsistencies in practice, especially in the implementation of marriage dispensations by the courts. In several cases, the dispensation mechanism is considered to reduce the effectiveness of legal restrictions on underage marriage. This research offers a legal harmonization approach through contextual interpretation of Islamic family law and strengthening judicial supervision in dispensation cases. Therefore, harmonization between Islamic law and positive law is necessary to ensure legal certainty while maintaining the principle of child protection and the best interests of the child.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22625 STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN KESADARAN BELAJAR SISWA DI ERA DIGITAL 2026-06-06T11:24:13+00:00 Piola Lolita piolalolitaolaa@gmail.com Juliana julianajuli61767@gmail.com Abu Bakar abakarntx@gmail.com <p>Era digital telah membawa perubahan fundamental dalam lanskap pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Guru PAI dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang dalam meningkatkan kesadaran belajar siswa yang cenderung terdistraksi oleh gawai dan media sosial. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru PAI dalam meningkatkan kesadaran belajar siswa di era digital. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, mengkaji berbagai literatur ilmiah, buku, dan hasil penelitian terkait selama lima tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi guru PAI mencakup tiga dimensi utama: strategi berbasis teknologi (pemanfaatan platform digital, e-learning, aplikasi interaktif, dan media sosial Islami), strategi pedagogik inovatif (blended learning, flipped classroom, project-based learning, dan gamifikasi), serta strategi penguatan karakter dan nilai religius melalui keteladanan dan pembiasaan. Kesimpulannya, sinergi antara penguasaan teknologi, kompetensi pedagogik, dan keteladanan spiritual guru PAI menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan kesadaran belajar siswa di era digital.</p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/23457 PERAN KECERDASAN SPIRITUAL DALAM MENTRASFORMASI DAN INTERNALISASI AKHLAK MAHASISWA 2026-06-24T04:18:25+00:00 Sukring sukring69kd@gmail.com <p>Kecerdasan spiritual merupakan dimensi tertinggi dari kecerdasan manusia. Dalam konteks pendidikan tinggi, kecerdasan spiritual menjadi fondasi bagi transformasi dan internalisasi akhlak mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran kecerdasan spiritual dalam mentransformasi kesadaran eksistensial dan menginternalisasi akhlak mulia (al-akhlak al-karimah) di kalangan mahasiswa pada era disrupsi digital. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data primer dihimpun melalui teknik wawancara mendalam dengan informan kunci, observasi partisipatif terhadap aktivitas keagamaan, serta studi dokumentasi terhadap regulasi dan atmosfer akademik kampus. Teknik analisis data menerapkan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual berperan sebagai motor penggerak internal yang berhasil menggeser orientasi hidup mahasiswa dari tujuan pragmatis-akademis menjadi orientasi transendental bernilai ibadah. Proses internalisasi akhlak berkembang melalui tiga tahapan evolusi kesadaran, yakni kepatuhan, identifikasi, dan internalisasi sejati. Manifestasi dari kematangan spiritual ini terbukti efektif meningkatkan integritas akademik mahasiswa, yang ditandai dengan resistensi yang kuat terhadap tindakan plagiarisme dan kecurangan intelektual lainnya. Selain itu, kecerdasan spiritual berfungsi sebagai jangkar moral (moral anchor) yang meminimalisasi konflik horizontal dan membentengi mahasiswa dari dampak negatif dekadensi moral di dunia digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan ruang-ruang spiritualitas yang terintegrasi dalam manajemen pendidikan tinggi Islam sangat krusial untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga anggun dalam moralitas.</p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22606 PERAN TAUHID SEBAGAI LANDASAN MORAL DAN IBADAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI- HARI 2026-06-06T03:32:02+00:00 Giska Effriyanti efriyantigiska@gmail.com Liyra Vanessa liyravanessa4@gmail.com Lia Marlinda liamarlinda422@gmail.com Widya Wulandari widyawulandari201299@gmail.com <p>Artikel ini membahas konsep dasar tauhid dalam Islam yang menjadi fondasi utama dalam membentuk keimanan, akhlak, dan ibadah seorang Muslim. Tauhid dipahami sebagai keyakinan akan keesaan Allah SWT dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya, yang kemudian diklasifikasikan ke dalam tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Pembahasan dalam artikel ini menunjukkan bahwa tauhid tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga berperan dalam membentuk kesadaran moral melalui konsep muraqabah yang mendorong perilaku akhlak mulia. Selain itu, tauhid menjadi landasan utama dalam pelaksanaan ibadah, di mana seluruh aktivitas yang dilakukan dengan niat karena Allah dapat bernilai ibadah. Lebih lanjut, tauhid juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek pribadi maupun sosial, sehingga membentuk karakter Muslim yang bertanggung jawab, jujur, dan beretika. Dengan demikian, tauhid memiliki peran sentral dalam membangun kehidupan yang selaras antara dimensi spiritual dan sosial.</p> <p>&nbsp;</p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22936 FENOMENA OVERTHINKING PADA GENERASI MUDA DAN KONSEP KETENANGAN JIWA DALAM PERADABAN ISLAM 2026-06-12T08:26:08+00:00 Jamilah 2410631110123@student.unsika.ac.id Kalisya Salsabila 2410631110125@student.unsika.ac.id Fernanda Cikal 2410631110134@student.unsika.ac.id Indra Lesmana 2410631110141@student.unsika.ac.id Nazwa Khaira 2410631110152@student.unsika.ac.id Afiyatun Kholifah afiyatun.kholifah@fai.unsika.ac.id <p>Penelitian ini mengkaji fenomena overthinking yang semakin meluas di kalangan generasi muda dan relevansinya dengan konsep ketenangan jiwa dalam peradaban islam. Overthinking yakni kecendrungan berpikir berlebihan, repetitif, dan tidak produktif yang telah menjadi satu persoalan psikologis yang signifikan di era modern, dipicuboleh tekanan akademik, sosial, ekonomi, serta paparan media sosial yang masif. Dampak yang ditimbulkan meliputi gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, penurunan fungsi emosional, hingga disrupsi dalam relasi sosial generasi muda. Di sisi lain, peradaban Islam menawarkan kerangka konseptual yang komprehensif tentang ketenangan jiwa, sebagaimana termasuk dalam Al-Qur'an (Q.S. Ar-Ra'd: 28, Q.S. Al-Fajr: 27-30) dan diperkuat oleh hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Konsep ini mencakup nilai-nilai zikir, tawakkal, syukur, sabar, dan muraqabah yang secara holistik membentuk kedamaian batin. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka (library research), penelitian ini menganalisis bagaimana nilai-nilai Islam tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari generasi muda sebagai solusi terhadap overthinking. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan spiritualitas Islam secara konsisten melalui praktik ibadah, mindfulness Islami, dan penguatan literasi keagamaan mampu menjadi terapi preventif dan kuratif yang efektif dalam mengatasi overthinking, serta mewujudkan keseimbangan psikospiritual yang bermakna bagi generasi muda di era modern.</p> <p><em>This study examines the increasingly widespread phenomenon of overthinking among young people and its relevance to the concept of tranquility of the soul in Islamic civilization. Overthinking the tendency to think excessively, repetitively, and unproductively-has become a significant psychological issue in the modern era, triggered by academic, social, economic pressures, and massive social media exposure. Its impacts include mental health disorders such as anxiety and depression, emotional dysfunction, and disruptions in the social relationships of young people. On the other hand, Islamic civilization offers a comprehensive conceptual framework regarding the tranquility of the soul, as contained in the Qur'an (Q.S. Ar-Ra'd: 28, Q.S. Al-Fajr: 27-30) and reinforced by the hadiths of the Prophet Muhammad SAW. This concept encompasses values of dhikr, tawakkul, gratitude, patience, and muraqabah, which holistically form inner peace. Using a qualitative approach based on library research, this study analyzes how these Islamic values can be integrated into the daily lives of young people as a solution to overthinking. The findings indicate that the consistent application of Islamic spirituality through worship practices, Islamic mindfulness, and strengthening religious literacy can serve as an effective preventive and curative therapy in overcoming overthinking, and realizing a meaningful psycho-spiritual balance for the younger generation in the modern era.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22523 PERKEMBANGAN ISLAM DI ASIA TENGGARA 2026-06-04T04:55:53+00:00 Serli Mita Audri sherlymitaaudry@gmail.com Wafiq Azizah wafiqazzh024@gmail.com Mustika Sari'ah Siagian hananmustikasariahsiagian@gmail.com <p>Perkembangan Islam di Asia Tenggara merupakan proses historis yang berlangsung secara bertahap, damai, dan adaptif melalui berbagai jalur, seperti perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. Masuknya Islam di kawasan ini tidak terlepas dari peran pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan India yang menjalin interaksi sosial dan budaya dengan masyarakat lokal. Proses islamisasi di Asia Tenggara berlangsung melalui pendekatan kultural sehingga Islam mampu berakulturasi dengan budaya setempat tanpa menghilangkan identitas lokal. Perkembangan Islam kemudian diperkuat oleh munculnya kesultanan-kesultanan Islam seperti Samudera Pasai, Malaka, Demak, Ternate, dan Tidore yang menjadi pusat penyebaran agama sekaligus kekuasaan politik. Selain itu, jaringan ulama Timur Tengah dan Nusantara turut berperan dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam melalui pendidikan pesantren dan penyebaran karya-karya keagamaan. Islam juga memiliki pengaruh besar dalam pembentukan identitas budaya Melayu yang tercermin dalam sistem sosial, budaya, dan politik masyarakat. Dengan demikian, Islam di Asia Tenggara berkembang tidak hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan budaya yang membentuk karakter masyarakat yang moderat, toleran, dan adaptif terhadap perubahan zaman</p> <h2><em>The development of Islam in Southeast Asia was a historical process that occurred gradually, peacefully, and adaptively through various channels such as trade, marriage, Sufism, education, arts, and politics. The spread of Islam in this region was closely related to the role of Muslim traders from Arabia, Persia, and India who established social and cultural interactions with local communities. The Islamization process in Southeast Asia was carried out through a cultural approach, enabling Islam to adapt to local traditions without eliminating indigenous identities. The growth of Islam was further strengthened by the emergence of Islamic sultanates such as Samudera Pasai, Malacca, Demak, Ternate, and Tidore, which became centers of religious dissemination as well as political power. In addition, the network of scholars between the Middle East and the Nusantara played an important role in strengthening Islamic intellectual traditions through pesantren education and the dissemination of religious works. Islam also had a significant influence on the formation of Malay cultural identity, reflected in the social, cultural, and political systems of society. Therefore, Islam in Southeast Asia developed not only as a religion but also as a social and cultural force that shaped a moderate, tolerant, and adaptive society in facing changing times.</em></h2> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22834 REAKTUALISASI NILAI ISLAM NUSANTARA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBALISASI PADA GENERASI Z 2026-06-10T09:18:46+00:00 Nabiilah Zahra Rizka Subiyakto nabiilah.zahra@mhs.unj.ac.id Safira Azzahra safira.azzahra@mhs.unj.ac.id Tsani Luthfia tsani.luthfia@mhs.unj.ac.id Abdul Fadhil abdul_fadhil@unj.ac.id <p>Perkembangan Globalisasi dan majunya teknologi membuat banyaknya perubahan baik dalam pola pikir, gaya hidup dan juga perilaku atau sikap Generasi Z. Di satu sisi, Globalisasi juga menjadikan dunia lebih terbuka dan lebih mudah dalam mengakses informasi dan pengetahuan, namun di sisi lain juga dapat mempengaruhi pemahaman dan juga menimbulkan tantangan terhadap nilai budaya dan keagamaan. Oleh karena itu, nilai-nilai islam nusantara yang menekankan modernisasi, toleransi, dan juga menghargai suatu budaya lokal perlu ditekankan kembali agar dapat membentuk karakter generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya reaktualisasi nilai islam nusantara dalam menghadapi tantangan globalisasi pada Generasi Z. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai literatur yang berkaitan dengan nilai islam, islam nusantara, globalisasi, dan Generasi Z. Hasil kajian menunjukkan bahwa reaktualisasi nilai Islam Nusantara dapat dilakukan melalui pendidikan, pemanfaatan media digital secara positif, dan juga penguatan pemahaman moderasi beragama. Upaya tersebut dapat membantu Generasi Z dalam menyaring pengaruh globalisasi tanpa kehilangan identitas keislaman dan budaya lokal. Dengan demikian, Islam Nusantara tetap relevan sebagai landasan nilai bagi Generasi Z dalam menghadapi tantangan era global.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22376 KITAB SHALAT DAN WAKTU-WAKTU SHALAT LITERASI FIKIH SHALAT DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: TELAAH KONSEP WAKTU SHALAT SEBAGAI SARANA PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN 2026-05-30T12:22:43+00:00 Az-Zahra Dien Adzellina 23051070379@radenfatah.ac.id Rahma Tazkia 23051070364@radenfatah.ac.id Ulil Albab ulil45890@gmail.com M. Dzaki Almaulidi dzkiunvrsty@gmail.com Pinky Hendika Pratama pratamafingkyhendika@gmail.com Alihan Satra alihansatra_uin@radenfatah.ac.id <p><em>Prayer is an obligatory act of worship that holds a very important position in Islamic teachings as the second pillar of Islam and a cornerstone of the faith. This act of worship not only serves as a means of communication between the servant and Allah SWT, but also has a significant influence on character development, inner peace, and the social life of a Muslim. This article aims to examine the concept of prayer from a fiqh perspective, covering its definition, status, wisdom, conditions, pillars, invalidators, and a discussion of prayer times according to the four schools of jurisprudence. The method employed is library research, involving the analysis of various relevant classical and contemporary fiqh literature. The results of the study indicate that prayer possesses very broad spiritual, moral, and social dimensions. In addition to being a form of submission to Allah SWT, prayer also plays a role in fostering discipline, improving moral character, strengthening social solidarity, and providing psychological peace. A correct understanding of the conditions, pillars, and times of prayer is a crucial factor in maintaining the perfection of worship. Therefore, the study of prayer remains relevant as a guide for practicing religious life correctly in accordance with the teachings of Islamic law.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22626 PEMBAGIAN HARTA GONO GINI DALAM PERKAWINAN POLIGAMI: PROSPEKTIF SYARIAH DAN HUKM ISLAM 2026-06-06T11:38:34+00:00 Rizky Ramadhan rizkyramadhanida@gmail.com Siti Rabiah sitirabisit99@gmail.com <p>Artikel ini membahas pembagian harta gono gini dalam perkawinan poligami ditinjau dari prespektif Syarian dan hukum islam. Penelitian ini menggunaam metode kualitatif dengan pendekatan normatif. Hasil pembahasan menunjukan bahwa prinsip pembagian harta tetap berlandaskan keadilan dan keseimbangan, di mana setiap istri berhak atas bagian harta yang di peroleh selama masa perkawinan masing-masing, sesuai ketentuan dan kaidah hukum islam yang berlaku.</p> <p><em>This article discusses the division of joint martial property (gono-gini) in polygamous marriages from the perspective of sharia and Islamic law. This research employs a qualitative method with a normative appoarch. The findings reveal that the division is based on principles of justice and balance, where each wife is entitled to a share of assets acquired during her respective marriage period, in accordance with established Islamic legal provisions and rules.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22608 KONSEP TAUHID DALAM QS. AL-IKHLAS: ANALISIS TEOLOGIS TERHADAP FONDASI AKIDAH ISLAM 2026-06-06T04:28:40+00:00 Owen Rivaldi rivaldiowen@gmail.com Zisa Zabira zisazabira@gmail.com Hasna Nadila Arahman hasnanadilaar@gmail.com Widya Wulandari widyawulandari201299@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep tauhid dalam QS. Al-Ikhlas melalui pendekatan teologis yang sistematis dan komprehensif. Surat yang hanya terdiri dari empat ayat ini diyakini mengandung inti doktrin ketauhidan Islam secara menyeluruh. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan, kajian ini menelaah penafsiran para mufasir klasik dan kontemporer untuk menggali makna teologis yang terkandung dalam setiap ayatnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa QS. Al-Ikhlas memuat tiga dimensi pokok tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan asmaʾ wa sifat yang saling bertautan membentuk bangunan akidah yang utuh. Konsep Ahad menegaskan keesaan ontologis Allah yang bersifat mutlak dan tidak tertandingi, sementara Shamad mengukuhkan posisi Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung bagi seluruh alam. Adapun negasi biologis dan penolakan terhadap segala kesetaraan menutup rapat setiap celah antropomorfisme dalam memahami Tuhan. Kajian ini juga menemukan bahwa pemahaman yang mendalam atas QS. Al-Ikhlas memiliki implikasi luas, mulai dari pembentukan karakter Muslim yang merdeka secara teologis hingga penguatan nilai moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat.</p> <p>This study aims to examine the concept of tawhid in QS. Al-Ikhlas through a systematic and comprehensive theological approach. Comprising only four verses, this surah is widely regarded as encapsulating the entirety of Islamic monotheistic doctrine. Employing a qualitative-descriptive method based on library research, this study examines interpretations from both classical and contemporary exegetes to uncover the theological meanings embedded in each verse. The findings reveal that QS. Al-Ikhlas contains three core dimensions of tawhid rububiyyah, uluhiyyah, and asma' wa sifatwhich are mutually reinforcing and together form a complete structure of Islamic creed. The concept of Ahad affirms the absolute ontological oneness of Allah, while Shamad establishes Allah as the sole source of all dependence. The negation of biological relations and the rejection of any equivalence firmly closes every avenue to anthropomorphism. The study further finds that a deep understanding of QS. Al-Ikhlas carries broad implications, from shaping theologically liberated Muslim character to strengthening the values of religious moderation in social life.</p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/23071 AKTUALISASI NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI PEDOMAN KEHIDUPAN YANG ADAPTIF DAN KONTEKSTUAL 2026-06-16T03:41:21+00:00 Abu Bakar abakarntx@gmail.com Rengga Tila Wahyu renggarengga555@gmail.com <p>Pendidikan Agama Islam memiliki posisi strategis dalam membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku manusia dalam menjalani kehidupan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran Pendidikan Agama Islam sebagai pedoman kehidupan individu maupun masyarakat dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks.Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif melalui analisis berbagai buku,jurnal ilmiah, dan dokumen pendidikan Islam di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Islam tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan keagamaan,tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, moral, spiritual, dan sosial peserta didik. Nilai-nilai Islam yang diajarkan melalui aqidah,ibadah, akhlak, dan muamalah menjadi dasar dalam membangun kehidupan yang harmonis,berkeadaban, dan berorientasi pada kebaikan. Pendidikan Agama Islam juga memiliki relevansi kuat dalam menghadapi tantangan globalisasi, krisis moral, dan perkembangan teknologi modern. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam harus terus dikembangkan secara adaptif agar mampu menjadi pedoman kehidupan yang aktual dan kontekstual.</p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22593 DAKWAH TAUHID MEDIA SOSIAL (PELUANG DAN TANTANGAN DI ERA DIGITAL) 2026-06-05T13:01:23+00:00 Najwa Ghibthiyah ghibthiyahnajwa@gmail.com Cecilia Agustin agustinsesilia16@gmail.com Sausan Azizah sausan.azizah21@gmail.com Widya Wulandari widyawulandari201299@gmail.com <p>Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada era digital telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, hingga keagamaan. Kehadiran internet dan media sosial telah menciptakan pola komunikasi baru yang lebih cepat, praktis, dan luas sehingga memudahkan masyarakat dalam memperoleh serta menyebarkan informasi. Media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media pendidikan dan dakwah Islam. Dalam konteks kehidupan masyarakat modern, media sosial seperti YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, Telegram, dan WhatsApp menjadi platform yang sangat berpengaruh terhadap pola pikir, perilaku, dan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda. Kondisi ini menjadikan media sosial sebagai sarana strategis dalam penyampaian dakwah tauhid yang merupakan inti ajaran Islam. Dakwah tauhid merupakan aktivitas mengajak manusia untuk meyakini dan mengesakan Allah SWT serta menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Dakwah tauhid memiliki tujuan untuk membentuk keimanan, memperbaiki akhlak, dan membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik sesuai syariat Islam. Seiring dengan perkembangan zaman, metode dakwah juga mengalami perubahan dan penyesuaian. Jika sebelumnya dakwah lebih banyak dilakukan secara konvensional melalui ceramah di masjid, pengajian, dan majelis taklim, maka saat ini dakwah dapat dilakukan secara digital melalui media sosial yang mampu menjangkau masyarakat luas tanpa batas ruang dan waktu. Melalui media sosial, para da’i dapat menyampaikan pesan-pesan tauhid dalam bentuk video, podcast, tulisan, gambar, infografis, maupun siaran langsung yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai peluang dan tantangan dakwah tauhid melalui media sosial di era digital. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dokumen, dan referensi lain yang berkaitan dengan dakwah Islam, media sosial, serta perkembangan teknologi digital. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memahami fenomena dakwah tauhid di media sosial serta pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memberikan peluang yang sangat besar dalam pengembangan dakwah tauhid. Media sosial mampu memperluas jangkauan dakwah hingga ke berbagai daerah bahkan lintas negara, mempercepat penyebaran informasi keagamaan, serta mempermudah akses masyarakat terhadap materi-materi dakwah. Selain itu, media sosial juga memberikan kemudahan bagi para da’i untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui fitur komentar, diskusi, maupun siaran langsung sehingga tercipta komunikasi dua arah yang lebih efektif. Dakwah melalui media sosial juga dinilai lebih efisien dari segi waktu dan biaya karena dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja hanya dengan memanfaatkan perangkat digital dan koneksi internet. Kreativitas dalam pembuatan konten dakwah juga menjadi nilai tambah dalam menarik perhatian masyarakat, terutama generasi muda yang cenderung lebih aktif menggunakan media sosial dibandingkan media konvensional. Namun demikian, di balik peluang tersebut terdapat berbagai tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan dakwah tauhid di era digital. Salah satu tantangan terbesar adalah maraknya penyebaran informasi palsu (hoaks), ujaran kebencian, dan konten provokatif yang mengatasnamakan agama sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Selain itu, munculnya paham radikal dan intoleran melalui media sosial juga menjadi ancaman serius terhadap nilai-nilai Islam yang damai dan moderat. Rendahnya literasi digital masyarakat menyebabkan banyak pengguna media sosial mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Di sisi lain, dakwah tauhid juga harus bersaing dengan berbagai konten hiburan yang lebih menarik perhatian masyarakat sehingga pesan-pesan dakwah sering kali kurang diminati. Budaya media sosial yang lebih mengutamakan popularitas, sensasi, dan jumlah pengikut juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas dan substansi dakwah Islam. Oleh karena itu, diperlukan strategi dakwah yang tepat, bijaksana, kreatif, dan inovatif agar dakwah tauhid tetap relevan dengan perkembangan zaman. Para da’i dituntut untuk mampu memanfaatkan teknologi digital secara positif dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keislaman, etika komunikasi, serta prinsip dakwah yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin. Penguatan literasi digital, penyajian konten yang edukatif dan menarik, serta penggunaan bahasa yang santun menjadi langkah penting dalam meningkatkan efektivitas dakwah tauhid melalui media sosial. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi sarana yang efektif dalam menyebarkan nilai-nilai tauhid, memperkuat keimanan masyarakat, dan membentuk karakter umat Islam yang berakhlak mulia di era digital.</p> <p><em>The development of information and communication technology in the digital era has brought very significant changes in various aspects of human life, including social, cultural, educational, economic, and religious fields. The presence of the internet and social media has created a new pattern of communication that is faster, more practical, and wider in scope, making it easier for people to obtain and disseminate information. Social media is not only used as a means of entertainment and communication, but is also utilized as a medium for education and Islamic preaching (dakwah). In the context of modern society, social media platforms such as YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, Telegram, and WhatsApp have become highly influential in shaping people’s mindsets, behavior, and lifestyles, especially among the younger generation. This condition makes social media a strategic medium for delivering dakwah tauhid, which is the core teaching of Islam.Dakwah tauhid is an activity of inviting people to believe in and affirm the oneness of Allah SWT and to live according to Islamic teachings based on the Qur’an and Hadith. The purpose of dakwah tauhid is to strengthen faith, improve morality, and guide people toward a better life in accordance with Islamic law. Along with the development of the times, methods of dakwah have also undergone changes and adjustments. Previously, dakwah was mostly carried out conventionally through sermons in mosques, religious gatherings, and Islamic study assemblies. However, today dakwah can be conducted digitally through social media, which is capable of reaching a broad audience without limitations of space and time. Through social media, Islamic preachers (da’i) can convey messages of tauhid in the form of videos, podcasts, writings, images, infographics, and live broadcasts that are more engaging and easier for society to understand. This study aims to analyze in depth the opportunities and challenges of dakwah tauhid through social media in the digital era. The research method used is qualitative research with a library research approach. Research data were obtained from various sources such as books, scientific journals, articles, documents, and other references related to Islamic preaching, social media, and the development of digital technology. The collected data were then analyzed descriptively to understand the phenomenon of dakwah tauhid on social media and its influence on modern society.The results of the study indicate that social media provides enormous opportunities for the development of dakwah tauhid. Social media is capable of expanding the reach of dakwah across regions and even across countries, accelerating the dissemination of religious information, and facilitating public access to Islamic preaching materials. In addition, social media also makes it easier for da’i to interact directly with the public through comment features, discussions, and live broadcasts, thereby creating more effective two-way communication. Dakwah through social media is also considered more efficient in terms of time and cost because it can be carried out anytime and anywhere simply by utilizing digital devices and internet connections. Creativity in producing dakwah content has also become an added value in attracting public attention, especially among young people who tend to be more active on social media than on conventional media.However, behind these opportunities, there are various challenges faced in implementing dakwah tauhid in the digital era. One of the greatest challenges is the widespread dissemination of false information (hoaxes), hate speech, and provocative content in the name of religion, which can lead to misunderstandings within society. In addition, the emergence of radical and intolerant ideologies through social media also poses a serious threat to the peaceful and moderate values of Islam. The low level of digital literacy among society causes many social media users to be easily influenced by information whose truth is unclear. On the other hand, dakwah tauhid must also compete with entertainment content that attracts greater public attention, causing religious messages to often receive less interest. The culture of social media, which prioritizes popularity, sensationalism, and the number of followers, also presents its own challenge in maintaining the quality and substance of Islamic preaching. Therefore, appropriate, wise, creative, and innovative dakwah strategies are needed so that dakwah tauhid remains relevant to the development of the times. Da’i are required to utilize digital technology positively while continuing to uphold Islamic values, communication ethics, and the principles of moderate and rahmatan lil ‘alamin preaching. Strengthening digital literacy, presenting educational and engaging content, and using polite language are important steps in increasing the effectiveness of dakwah tauhid through social media. Thus, social media can become an effective means of spreading the values of tauhid, strengthening people’s faith, and shaping the character of Muslims with noble morals in the digital era.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22892 SINTAKSIS DHAMĪR MUTTAṢIL DALAM PUISI RISĀLAH MIN TAḤT AL-MĀ’: KONSTRUKSI MAKNA KETERIKATAN DAN KETERASINGAN PSIKOLOGIS 2026-06-11T08:48:52+00:00 Aang Saeful Milah aang.saefulmillah@uinbanten.ac.id Siti Nurpadilah stnurpadilah836@gmail.com Sayida Nazwa sayidanazwa13@gmail.com Berti Ramadanti Pohan bertiramadanti67@gmail.com Ulfah Mutia Rahman ulfahmutia37@gmail.com <p>Kajian kritik sastra Arab modern acap kali terbelenggu dalam subjektivitas impresionistik yang memisahkan tataran lahiriah struktur gramatikal (Nahwu) dari dinamika psikologis penulis yang lebih dalam. Penelitian ini bertujuan mengungkap mekanisme sintaksis-semantis <em>dhamīr mutta</em><em>ṣ</em><em>il</em> (pronomina melekat) dalam membangun kondisi psikologis subjek lirik pada puisi <em>Risālah Min Ta</em><em>ḥ</em><em>t al-Mā'</em> karya Nizar Qabbani. Dengan memanfaatkan metode kualitatif deskriptif berbasis pendekatan stilistika Arab (<em>Al-U</em><em>ṣ</em><em>lūbiyyah</em>) yang bersifat lintas disiplin, penelitian ini mengidentifikasi secara sistematis 20 unit data dominan yang mengandung pronomina persona tunggal (<em>Yā al-Mutakallim</em> [ـي] dan <em>Kāf al-Mukhā</em><em>ṭ</em><em>abah</em> [ـك]) melalui pembedahan i'rāb formal. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa posisi pelekatan pronomina paling dominan terjadi pada kelas nomina (isim) sejumlah 45% (9 data) yang menempati kedudukan genitif (<em>fī ma</em><em>ḥ</em><em>alli jarrin bil-i</em><em>ḍ</em><em>āfah</em>), diikuti oleh verba (fi'il) sebesar 30% (6 data) yang berkonfigurasi akusatif (<em>fī ma</em><em>ḥ</em><em>alli na</em><em>ṣ</em><em>bin</em>), serta partikel sebesar 25% (5 data). Melalui data tersebut, tersingkap dualisme pola teks: "Pola Kelekatan Teks-Makna" yang membelenggu agensi subjek dalam keterikatan obsesif-fatalistik melalui verba perintah, serta "Pola Paradoks Distansi" di mana keterikatan fisik pronomina pada partikel jer eksklusif (<em>'an</em> dan <em>min</em>) justru menghasilkan alienasi psikologis yang mendalam di balik kesunyian batin. Implikasi teoretis riset ini merevisi perspektif reduksionis atas Nahwu dengan memperluas fungsi i'rāb menjadi penanda kondisi eksistensial manusia, sementara implikasi praktisnya menawarkan model pedagogi bahasa Arab yang aplikatif-apresiatif berbasis teks sastra di perguruan tinggi.</p> <p><em>Contemporary Arabic literary criticism frequently falls into subjective impressionistic tendencies that divorce the surface-level grammatical structure (Nahwu) from the author's deeper psychological dynamics. This study endeavors to unpack the syntactic-semantic mechanisms of dhamīr mutta</em><em>ṣ</em><em>il (attached pronouns) in constructing the lyrical subject's psychological state within Nizar Qabbani's poem Risālah Min Ta</em><em>ḥ</em><em>t al-Mā'. Employing a descriptive qualitative method grounded in an interdisciplinary Arabic stylistics (Al-U</em><em>ṣ</em><em>lūbiyyah) framework, this study systematically identifies 20 dominant data units containing singular personal pronouns (Yā al-Mutakallim [</em><em>ـي</em><em>] and Kāf al-Mukhā</em><em>ṭ</em><em>abah [</em><em>ـك</em><em>]) through formal i'rāb parsing. The results reveal that pronoun attachment positions are predominantly found in the nominal (isim) category at 45% (9 data) occupying the genitive case (fī ma</em><em>ḥ</em><em>alli jarrin bil-i</em><em>ḍ</em><em>āfah), followed by verbs (fi'il) at 30% (6 data) in the accusative case (fī ma</em><em>ḥ</em><em>alli na</em><em>ṣ</em><em>bin), and particles at 25% (5 data). These findings expose a dualism in the text's structural patterns: the "Text-Meaning Attachment Pattern," which constrains the subject's agency into a fatalistic obsessive attachment through imperative verbs, and the "Distance Paradox Pattern," wherein the physical attachment of pronouns to exclusive prepositions ('an and min) paradoxically produces acute psychological alienation within inner isolation. The theoretical implication of this research revises the reductionist perspective on Nahwu by extending the function of i'rāb as a marker of the human existential condition, while its practical implication offers an applicable-appreciative Arabic language pedagogy model grounded in literary texts at the university level.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/22518 EVALUASI INPUT, PROSES, DAN OUTPUT PADA MANAJEMEN PENDIDIKAN DI TINGKAT SEKOLAH MENENGAH 2026-06-04T03:56:48+00:00 Lolia Purnama Sari loliapurnamasari@gmail.com Najwa Al Fachrani najwaalfachrani27@gmail.com Ahmad Zaki zaki.ahmad@uinsu.ac.id <h2 style="text-align: justify; line-height: normal; margin: 0in 6.7pt .0001pt 0in;"><span lang="EN-ID" style="font-size: 11.0pt; font-family: 'Garamond',serif; color: windowtext;">Manajemen pendidikan di tingkat sekolah menengah perlu dievaluasi untuk mengetahui efektivitas penyelenggaraan pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis evaluasi input, proses, dan output pada manajemen pendidikan di tingkat sekolah menengah serta mengetahui keterkaitan ketiga komponen tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Data diperoleh melalui kajian berbagai buku, jurnal ilmiah, dan sumber literatur yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas input berupa tenaga pendidik, peserta didik, kurikulum, sarana prasarana, dan pembiayaan memengaruhi efektivitas proses pendidikan. Proses pendidikan yang berjalan dengan baik berdampak pada peningkatan kualitas output berupa prestasi akademik, karakter, dan kompetensi lulusan. Dengan demikian, keberhasilan manajemen pendidikan ditentukan oleh keterpaduan antara input, proses, dan output dalam mencapai mutu pendidikan yang optimal.</span></h2> <h2 style="text-align: justify; line-height: normal; margin: 0in 6.7pt .0001pt 0in;"><em><span lang="EN-ID" style="font-size: 11.0pt; font-family: 'Garamond',serif; color: windowtext;">Educational management at the secondary school level needs to be evaluated to determine the effectiveness of educational implementation in achieving its objectives. This study aims to analyze the evaluation of input, process, and output in educational management at the secondary school level and to identify the relationship among these components. The study employed a qualitative approach using a library research method. Data were collected from books, scientific journals, and other relevant literature and analyzed using descriptive qualitative techniques. The findings show that the quality of inputs, including teachers, students, curriculum, facilities, and funding, influences the effectiveness of the educational process. An effective educational process contributes to better outputs in terms of academic achievement, character development, and graduate competencies. Therefore, successful educational management is determined by the integration of input, process, and output in achieving optimal educational quality.</span></em></h2> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas