Perspektif Agama dan Identitas
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai
id-IDPerspektif Agama dan IdentitasPEMBAHARUAN MAKNA ISTIWA’ TERHADAP KETAUHITAN PERSPEKTIF WAHBAH AZ-ZUHAILI DALAM KITAB TAFSIR AL-MUNIR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/20853
<p>Kajian mengenai lafaz istiwa’ dalam al-Qur’an merupakan pembahasan penting dalam studi tafsir, karena berkaitan langsung dengan pemahaman tentang sifat-sifat Allah dan kekuasaan Allah Swt. Perbedaan cara memahami istiwa’ sering kali memunculkan kesalahpahaman yang berpotensi mengganggu kemurnian tauhid. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna istiwa’ menurut Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsir al-Munir serta menjelaskan relevansinya dengan konsep tauhid yang terkandung dalam Q.S. al-Baqarah ayat 29. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), dengan sumber utamanya ialah tafsir al-Munir dan didukung oleh literatur tafsir serta buku-buku akidah atau tauhid yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wahbah az-Zuhaili memahami istiwa’ sebagai bentuk kekuasaan dan pengaturan Allah Swt atas alam semesta tanpa menisbatkan sifat fisik atau menyerupakan Allah Swt dengan makhluknya. Penafsiran ini menegaskan bahwa Allah Swt Maha Suci dari keterikatan ruang dan waktu. Relevansi istiwa’ dengan tauhid terlihat jelas dalam penguatan tauhid rububiyah melalui pengakuan atas kekuasaan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam, tauhid uluhiyah melalui penegasan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, serta tauhid asma wa sifat dengan penetapan sifat Allah secara benar. Dengan demikian, penafsiran istiwa’ menurut Wahbah az-Zuhaili memberikan kontribusi penting dalam membangun pemahaman tauhid yang lurus bagi umat Islam.</p> <p><em>The study of the word istiwa' in the Qur'an is an important discussion in the study of tafsir, because it is directly related to the understanding of the attributes of Allah SWT and the power of Alla. Differences in the way of understanding istiwa' often lead to misunderstandings that have the potential to disrupt the purity of monotheism. This research aims to analyze the meaning of istiwa' according to Wahbah az-Zuhaili in the book of tafsir al-Munir and explain its relevance to the concept of monotheism contained in Q.S. al-Baqarah verse 29. This research uses a qualitative method with a library research approach, with the main source being tafsir al-Munir and supported by the literature of tafsir and relevant books of aqidah or monotheism. The results of the research show that Wahbah az-Zuhaili understands istiwa' as a form of power and regulation of Allah SWT over the universe without attributing physical properties or likening Allah to His creatures. This interpretation emphasizes that Allah is Most Holy from the bonds of space and time. The relevance of istiwa' with monotheism is clearly seen in the strengthening of monotheism of Rububiyah through the recognition of the power of Allah as the creator and regulator of the universe, monotheism of uluhiyah through the affirmation that only Allah has the right to be worshipped, and monotheism of names and attributes by correctly determining the attributes of Allah. Thus, the interpretation of istiwa' according to Wahbah az-Zuhaili makes an important contribution in building a straight understanding of monotheism for Muslims.</em></p>Muhamad RandiNunu Burhanudin
Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas
2026-04-292026-04-29114KRISIS BATAS MORAL DALAM KEBEBASAN BEREKSPRESI DI MEDIA SOSIAL: ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMAHAMAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/20968
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena krisis batas moral dalam praktik kebebasan berekspresi di media sosial di Indonesia. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana hukum Islam memandang kebebasan berekspresi serta bagaimana batasan moral yang seharusnya diterapkan dalam penggunaannya di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kebebasan berekspresi dalam perspektif Hak Asasi Manusia dan hukum Islam, menganalisis praktiknya di media sosial dalam konteks masyarakat Indonesia, serta menelaah krisis batas moral tersebut dari sudut pandang hukum Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan normatif-teologis melalui studi kepustakaan, dengan mengkaji literatur hukum Islam, jurnal ilmiah, serta sumber hukum positif yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi dalam hukum Islam diakui sebagai hak, namun tidak bersifat absolut karena dibatasi oleh nilai etika, tanggung jawab moral, dan tujuan kemaslahatan. Krisis batas moral di media sosial disebabkan oleh lemahnya internalisasi nilai etika, sehingga kebebasan sering disalahgunakan menjadi sarana penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan pelanggaran privasi. Oleh karena itu, pendekatan maqashid syariah menjadi penting untuk menyeimbangkan antara kebebasan dan tanggung jawab dalam membangun etika bermedia sosial yang beradab.</p> <p><em>This study is motivated by the phenomenon of a moral boundary crisis in the practice of freedom of expression on social media in Indonesia. The main issue addressed in this research is how Islamic law perceives freedom of expression and what moral boundaries should be applied in its use within digital spaces. This study aims to examine the concept of freedom of expression from the perspectives of Human Rights and Islamic law, analyze its practice on social media within the Indonesian context, and explore the moral boundary crisis from an Islamic legal perspective. This research employs a qualitative method with a descriptive-analytical and normative-theological approach through a literature study, examining Islamic legal sources, academic journals, and relevant legal materials. The findings indicate that freedom of expression in Islamic law is recognized as a right but is not absolute, as it is bounded by ethical values, moral responsibility, and the principle of public welfare (maslahah). The moral crisis in social media arises from the weak internalization of ethical values, leading to the misuse of freedom as a means of spreading misinformation, hate speech, and privacy violations. Therefore, the maqashid sharia approach is essential in balancing freedom and responsibility to establish ethical and civilized digital interactions.</em></p>Ayu Rahayu. HKurniatiMusyfikah Ilyas
Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas
2026-04-292026-04-29114PENGARUH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI PERADABAN ISLAM DI BARAT (SMPN 1 JALANCAGAK)
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pai/article/view/21489
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya kemampuan berfikir kreatif pada siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Jalancagak. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa hanya 45,32% siswa yang mampu menunjukkan kemampuan baik dalam menghasilkan banyak ide. Hanya 43,09% siswa yang mampu mengemukakan ide dari berbagai sudut pandang yang berbeda dalam menyelesaikan masalah.Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen. Teknik pengumpulan data menggunakan tes pretest dan posttest. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon, uji Mann-Whitney, Uji N gain dan Uji Regresi sederhana. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan berfikir kreatif siswa sebelum dan sesudah perlakuan di kelas eksperimen (Z hitung = 2,78). Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol (Z hitung = -2,53). Hasil uji N-Gain menunjukkan bahwa mayoritas siswa di kelas eksperimen berada pada kategori peningkatan sedang (32%) dan tinggi (47%), sedangkan siswa di kelas kontrol mayoritas berada pada kategori rendah (69%).Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi efektif dalam meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Jalancagak.</p>Marsyah FadillahEndah Robiatul AdawiahCasini
Hak Cipta (c) 2026 Perspektif Agama dan Identitas
2026-04-302026-04-30114