POTRET DINAMIKA POLA ASUH ORANG TUA DALAM MEMBENTUK CRITICAL THINKING PADA BUDAYA BATAK

Penulis

  • Sandy Manginut Universitas Kristen Satya Wacana
  • Heru Astikasari Setya Murti Universitas Kristen Satya Wacana

Kata Kunci:

Berpikir Kritis, Budaya Batak, Dinamika Pengasuhan, Nilai Budaya, Perkembangan Kognitif

Abstrak

This study explores the dynamics of parental patterns in shaping critical thinking abilities among children within Batak cultural contexts. Employing a qualitative phenomenological approach, the research involved three Batak parents whose children have reached early adulthood, examining their lived experiences in integrating cultural values with cognitive development practices. Data collection through semi-structured interviews via Zoom revealed that Batak parents navigate complex tensions between traditional values particularly hasangapon (honor), hamoraon (prosperity), and hagabeon (progeny) and contemporary educational demands. The findings indicate that while authoritarian tendencies persist, influenced by hierarchical structures like Dalihan Na Tolu, there is an emerging shift toward more democratic approaches that create spaces for dialogue and reflection. Parents utilize umpasa (traditional proverbs) as indirect guidance tools, functioning both as moral compasses and cognitive scaffolding for developing analytical capabilities. The study reveals that critical thinking development occurs through a dialectical process where children negotiate between cultural expectations and personal autonomy. This research contributes to understanding how indigenous parenting practices can be leveraged to foster 21st-century thinking skills while maintaining cultural identity. The implications suggest that effective cultivation of critical thinking in culturally-rooted contexts requires balancing respect for traditional wisdom with openness to questioning and exploration.

Penelitian ini mengeksplorasi dinamika pola asuh orang tua dalam membentuk kemampuan berpikir kritis anak dalam konteks budaya Batak. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian melibatkan tiga orang tua Batak yang memiliki anak berusia dewasa awal, menggali pengalaman hidup mereka dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya dengan praktik pengembangan kognitif. Pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur via Zoom mengungkap bahwa orang tua Batak menavigasi ketegangan kompleks antara nilai-nilai tradisional khususnya hasangapon (kehormatan), hamoraon (kemakmuran), dan hagabeon (keturunan) dengan tuntutan pendidikan kontemporer. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kecenderungan otoriter masih bertahan yang dipengaruhi struktur hierarkis seperti Dalihan Na Tolu, terdapat pergeseran yang muncul menuju pendekatan lebih demokratis yang membuka ruang dialog dan refleksi. Orang tua memanfaatkan umpasa (petuah tradisional) sebagai instrumen bimbingan tidak langsung, berfungsi sebagai kompas moral sekaligus perancah kognitif untuk mengembangkan kapasitas analitis. Penelitian mengungkap bahwa pengembangan berpikir kritis terjadi melalui proses dialektis di mana anak menegosiasikan ekspektasi budaya dengan otonomi personal. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana praktik pengasuhan berbasis kearifan lokal dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan keterampilan berpikir abad 21 sambil mempertahankan identitas budaya. Implikasinya menunjukkan bahwa kultivasi efektif berpikir kritis dalam konteks berakar budaya memerlukan keseimbangan antara penghormatan terhadap kebijaksanaan tradisional dengan keterbukaan terhadap pertanyaan dan eksplorasi.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30