https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/issue/feedPsikofusi: Jurnal Psikologi Integratif2026-04-29T15:53:06+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/21244HUBUNGAN KUALITAS KELEKATAN DENGAN PENGASUH DAN KEMANDIRIAN REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN2026-04-22T11:59:58+00:00Septiva Akila Keishaakilakeisha19@gmail.comRatriana Yuliastuti Endang Kusumiatiratriana.kusumiati@uksw.edu<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas kelekatan dengan pengasuh dan kemandirian remaja yang tinggal di panti asuhan. Subjek penelitian berjumlah 53 remaja berusia 12-18 tahun yang telah tinggal di panti asuhan minimal satu tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Likert, yaitu Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) untuk mengukur kualitas kelekatan dan Emotional Autonomy Scale (EAS) untuk mengukur kemandirian remaja. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata kualitas kelekatan sebesar 72,96 dan kemandirian remaja sebesar 62,43, yang keduanya berada pada kategori sedang. Hasil analisis korelasi Product Moment Pearson menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,547 dengan signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya hubungan positif yang signifikan antara kualitas kelekatan dengan kemandirian remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas kelekatan dengan pengasuh, maka semakin tinggi pula tingkat kemandirian remaja. Oleh karena itu, kualitas hubungan emosional antara remaja dan pengasuh menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan kemandirian remaja di lingkungan panti asuhan.</p> <p><em>This study aims to examine the relationship between caregiver attachment quality and adolescents’ independence in an orphanage setting. The participants consisted of 53 adolescents aged 12–18 years who had resided in the orphanage for at least one year. This research employed a quantitative method with a correlational design. Data were collected using Likert-type scales, namely the Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) to measure attachment quality and the Emotional Autonomy Scale (EAS) to assess adolescents’ independence. Descriptive analysis indicated that the mean score of attachment quality was 72.96 and the mean score of independence was 62.43, both of which were categorized as moderate. The results of the Pearson Product Moment correlation analysis revealed a correlation coefficient of r = 0.547 with a significance value of p = 0.000 (p < 0.05), indicating a significant positive relationship between attachment quality and adolescents’ independence. These findings suggest that higher levels of attachment quality are associated with higher levels of independence. Therefore, the emotional bond between adolescents and caregivers plays a crucial role in fostering adolescents’ independence within orphanage settings. </em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/20778PENGARUH GROWTH MINDSET TERHADAP STRES AKADEMIK PADA SISWA KELAS 12 DI SMA NEGERI 7 BALIKPAPAN2026-04-02T07:55:13+00:00Karin Jelita Sianturikarinjelitaa@gmail.comDewita Karema Sarajardewita.sarajar@uksw.edu<p><em>Academic stress is a common phenomenon experienced by senior high school students, particularly twelfth-grade students who face increasing academic demands, graduation requirements, and preparation for university entrance examinations. One internal psychological factor that is assumed to influence academic stress is growth mindset, defined as an individual’s belief that abilities can be developed through effort and learning processes. This study aimed to examine the effect of growth mindset on academic stress among twelfth-grade students at SMA Negeri 7 Balikpapan. This study employed a quantitative approach using a simple linear regression design. The participants consisted of 165 twelfth-grade students, selected through purposive sampling. Data were collected using a growth mindset scale and an academic stress scale, both of which demonstrated acceptable reliability with Cronbach’s Alpha values in the reliable range. Data analysis was conducted using simple regression analysis with the assistance of SPSS. The results indicated that growth mindset had a significant effect on academic stress, with a significance value of 0.005 (p < 0.05), indicating that the alternative hypothesis was accepted. The regression coefficient showed a positive direction (B = 0.146), suggesting a positive relationship between growth mindset and academic stress. In addition, the coefficient of determination (R² = 0.047) revealed that growth mindset accounted for 4.7% of the variance in academic stress. These findings suggest that growth mindset plays a role in shaping academic stress; however, its contribution is partial and influenced by other factors that collectively affect students’ academic stress experiences.</em></p> <p>Stres Akademik merupakan fenomena yang umum dialami oleh siswa sekolah menengah atas, khususnya pada siswa kelas 12 yang dihadapkan pada tuntutan akademik, evaluasi kelulusan, serta persiapan seleksi masuk perguruan tinggi. Salah satu faktor psikologis internal yang diduga berperan dalam memengaruhi stres akademik adalah growth mindset, yaitu keyakinan individu bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh growth mindset terhadap stres akademik pada siswa kelas 12 di SMA Negeri 7 Balikpapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana. Subjek penelitian berjumlah 165 siswa kelas 12 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa skala growth mindset dan skala stres akademik yang telah diuji reliabilitasnya, dengan nilai Cronbach’s Alpha masing-masing berada pada kategori reliabel. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi sederhana dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa growth mindset berpengaruh secara signifikan terhadap stres akademik, dengan nilai signifikansi 0,005 (p < 0,05) sehingga hipotesis alternatif (H1) diterima. Koefisien regresi bernilai positif (B = 0,146) menunjukkan hubungan searah antara growth mindset dan stres akademik. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R² = 0,047) mengindikasikan bahwa growth mindset memberikan kontribusi sebesar 4,7% terhadap variasi stres akademik. Temuan ini menunjukkan bahwa growth mindset memiliki peran dalam pembentukan stres akademik, namun pengaruhnya bersifat parsial dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang turut membentuk pengalaman stres akademik siswa.</p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/21114PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP REGULASI EMOSI ANAK USIA DINI2026-04-17T11:05:04+00:00Yulita Sandra Muliatisandramiati26@gmail.com<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan regulasi emosi pada anak usia dini yang masih dalam tahap perkembangan dan memerlukan stimulasi yang tepat serta berkesinambungan. Regulasi emosi merupakan kemampuan anak dalam mengenali, memahami, serta mengelola emosi secara tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah melalui permainan tradisional yang sarat akan nilai sosial, budaya, dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan tradisional terhadap regulasi emosi anak usia dini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen menggunakan one group pretest-posttest design. Subjek penelitian berjumlah 20 anak usia 5–6 tahun di KB Bintang Kejora Poco. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi menggunakan lembar penilaian (rating scale). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan regulasi emosi anak dari kategori cukup menjadi kategori baik setelah diberikan perlakuan berupa permainan tradisional. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap regulasi emosi anak usia dini.</p> <p><em>This study is motivated by the importance of emotional regulation in early childhood, which is still developing and requires appropriate and continuous stimulation. Emotional regulation refers to the ability of children to recognize, understand, and manage emotions appropriately according to situations. One effective approach to support this development is through traditional games that contain social, cultural, and emotional values. This study aims to determine the effect of traditional games on emotional regulation in early childhood. This research used a quantitative approach with a quasi-experimental design (one group pretest-posttest). The subjects were 20 children aged 5–6 years at KB Bintang Kejora Poco. Data were collected through observation using a rating scale. The results showed a significant improvement in children's emotional regulation ability from moderate to good category. The paired sample t-test showed a significance value (p < 0.05), indicating that traditional games have a significant effect on emotional regulation in early childhood.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/21111HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN PERNIKAHAN DENGAN COUPLE BURNOUT PADA PEREMPUAN YANG BEKERJA2026-04-17T09:07:00+00:00Ravika Andinta Dwi Lestariravikaandinta292@gmail.comRatriana Yuliastuti Endang Kusumiatiratriana.kusumiati@uksw.edu<p><em>Working women face demands from their jobs and families that can affect the quality of their marriages and increase the risk of couple burnout. Marital satisfaction is thought to be one of the factors related to this condition. This study aims to determine the relationship between marital satisfaction and couple burnout among working women. The study uses a quantitative approach with a correlational method. The respondents consisted of 100 working women who had been married for at least 5 years and had at least one child, using snowball sampling technique. Data collection used the ENRICH: Marital Satisfaction Scale developed by Fowers & Olson in 1989 with a reliability of 0.94 and the Couple Burnout Measure developed by Pines in 1996 with a reliability of 0.96. Data analysis using Pearson Product Moment correlation showed a significant negative relationship between marital satisfaction and couple burnout (r = -0.356; p = 0.000), which means that the higher the marital satisfaction, the lower the couple burnout. This study is expected to contribute theoretically to the field of psychology and serve as a consideration in efforts to improve the quality of marital relationships among working women.</em></p> <p>Perempuan yang bekerja menghadapi tuntutan peran pekerjaan dan keluarga yang dapat memengaruhi kualitas hubungan pernikahan serta meningkatkan risiko couple burnout. Kepuasan pernikahan diduga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan pernikahan dengan couple burnout pada perempuan yang bekerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Responden berjumlah 100 perempuan yang bekerja, telah menikah minimal 5 tahun, dan memiliki setidaknya satu orang anak, dengan teknik snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan ENRICH: Marital Satisfaction Scale yang dikembangkan oleh Fowers & Olson pada tahun 1989 dengan reliabilitas sebesar 0.94 dan Couple Burnout Measure yang dikembangkan oleh Pines pada tahun 1996 yang memiliki reliabilitas 0.96. Analisis data menggunakan korelasi Pearson Product Moment menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kepuasan pernikahan dan couple burnout (r = -0,356; p = 0,000), yang berarti semakin tinggi kepuasan pernikahan maka semakin rendah couple burnout. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam bidang psikologi serta menjadi bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kualitas hubungan pernikahan pada perempuan yang bekerja.</p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/20909PENGARUH POLA ASUH OTORITER TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN JURUSAN PERGURUAN TINGGI SISWA KELAS 12 SMA DI KOTA CIREBON2026-04-09T11:33:31+00:00 Cynthia Fransiscacynthiafransisca535@gmail.comDewita Karema Sarajardewita.sarajar@uksw.edu<p>Pengambilan keputusan dalam pemilihan jurusan perguruan tinggi merupakan proses penting yang dihadapi siswa pada masa remaja akhir dan dapat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Salah satu gaya pengasuhan yang diduga berpengaruh adalah pola asuh otoriter, yang ditandai dengan kontrol tinggi dan tuntutan kepatuhan dari orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoriter terhadap pengambilan keputusan dalam pemilihan jurusan perguruan tinggi pada siswa kelas 12 SMA di Kota Cirebon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana. Subjek penelitian berjumlah 257 siswa kelas 12 SMA yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Nilai Cronbach’s Alpha yang diperoleh pada skala Pola Asuh Otoriter (PAQ) sebesar (α = 0,945) dan pada skala Pengambilan Keputusan (MDMQ) sebesar (α = 0,904), yang menunjukkan bahwa kedua alat ukur memiliki reliabilitas yang sangat baik. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan keputusan, dengan nilai t-hitung sebesar 11,374 dan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05). Selain itu, hasil uji F menunjukkan nilai 129,367 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa model regresi secara keseluruhan signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola asuh otoriter orang tua berperan penting dalam membentuk pengambilan keputusan siswa dalam pemilihan jurusan perguruan tinggi, sehingga keterlibatan orang tua perlu diarahkan secara tepat agar dapat mendukung keputusan pendidikan siswa yang lebih terarah.</p> <p><em>Decision making in the selection of college majors is a crucial process faced by students in late adolescence and may be influenced by parental parenting styles. One parenting style assumed to have an influence is authoritarian parenting, which is characterized by high levels of control and strict demands for obedience. This study aims to examine the effect of authoritarian parenting on decision making in the selection of college majors among twelfth-grade senior high school students in Cirebon City. This study employed a quantitative approach using a simple linear regression design. The participants consisted of 257 twelfth-grade senior high school students selected through random sampling techniques. The reliability analysis showed that the Authoritarian Parenting Scale (PAQ) obtained a Cronbach’s Alpha coefficient of (α = 0.945) and the Decision Making Scale (MDMQ) obtained a coefficient of (α = 0.904), indicating excellent reliability. Data were analyzed using regression analysis with the assistance of SPSS software. The results indicated that authoritarian parenting has a positive and significant effect on decision making, with a t-value of 11.374 and a significance level of 0.000 (p < 0.05). Furthermore, the F-test results revealed an F-value of 129.367 with a significance level of 0.000 (p < 0.05), indicating that the regression model was statistically significant. These findings suggest that authoritarian parenting plays an important role in shaping students’ decision-making processes in selecting college majors, highlighting the need for appropriate parental involvement to support students’ educational decisions.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/21335HUBUNGAN SELF-EFFICACY TERHADAP PROKRASTINASI MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN TUGAS PERKULIAHAN2026-04-25T03:04:42+00:00Zyafira Nurmalita Syahranurmalitazyafira02@gmail.comMaria Prima Novitamaria.novita@uksw.edu<p>Prokrastinasi akademik merupakan perilaku menunda penyelesaian tugas akademik yang masih banyak dialami oleh mahasiswa dan dapat berdampak negatif terhadap prestasi serta kesejahteraan psikologis. Salah satu faktor psikologis yang diduga berkaitan dengan prokrastinasi akademik adalah self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa aktif Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 113 mahasiswa UKSW angkatan 2022–2024 yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan skala <em>self-efficacy</em> berdasarkan teori Bandura dan Tuckman Procrastination Scale untuk mengukur prokrastinasi akademik. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa (r = −0,112; p > 0,05), meskipun arah hubungan bersifat negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat self-efficacy yang dimiliki mahasiswa belum tentu berhubungan secara langsung dengan kecenderungan menunda tugas akademik. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan faktor psikologis lain di luar self-efficacy dalam upaya memahami dan mengurangi prokrastinasi akademik pada mahasiswa.</p> <p><em>Academic procrastination is a common behavior among university students and may negatively affect academic performance and psychological well-being. One psychological factor that is often assumed to be related to academic procrastination is self-efficacy. This study aimed to examine the relationship between self-efficacy and academic procrastination among active students of Satya Wacana Christian University (UKSW). This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 113 undergraduate students from the 2022–2024 cohorts, selected using accidental sampling. Data were collected through online questionnaires using a self-efficacy scale based on Bandura’s theory and the Tuckman Procrastination Scale to measure academic procrastination. Data analysis was conducted using Spearman’s rho correlation with SPSS. The results indicated that there was no significant relationship between self-efficacy and academic procrastination (r = −0.112; p > 0.05), although the direction of the relationship was negative. These findings suggest that higher self-efficacy does not necessarily correspond to lower levels of academic procrastination among students. The results imply that other psychological or contextual factors may play a more prominent role in influencing academic procrastination and should be considered in future research and intervention programs.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/20784PENGARUH EFIKASI DIRI AKADEMIK TERHADAP RESILIENSI AKADEMIK PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA2026-04-02T10:27:35+00:00Angela Wignya Si Elsaangelawignyasielsa14@gmail.comHeru Astikasari Setya Murtiheru.astikasari@uksw.edu<p><em>First-year students are in a transitional phase from secondary education to higher education that is accompanied by various academic demands and pressures, thereby requiring the ability to endure and adapt, known as academic resilience. Academic resilience refers to an individual’s ability to cope with pressure, challenges, and failure in an academic context, which is influenced by academic self efficacy defined as an individual’s belief in their capability to complete tasks and achieve learning goals. This study aims to examine the effect of academic self efficacy on academic resilience among first year students at Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. A quantitative approach with a simple linear regression design was employed involving 241 first-year students selected through purposive sampling. The research instruments used were The Indonesian Academic Self-Efficacy Scale (α = 0.861) and The Academic Resilience Scale–Indonesia Version (α = 0.867). Data were analyzed using simple linear regression with the assistance of SPSS software. The results indicate that academic self efficacy has a positive and significant effect on academic resilience, as evidenced by a t-value of 0.710 with a significance level of 0.000 (p < 0.05) and an F-value of 243.220 with a significance level of 0.000 (p < 0.05). These findings highlight the importance of developing mentoring programs for first-year students that focus on enhancing academic self efficacy as a strategy to strengthen academic resilience.</em></p> <p>Mahasiswa tahun pertama berada pada masa transisi dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi yang disertai dengan berbagai tuntutan dan tekanan akademik, sehingga memerlukan kemampuan bertahan dan beradaptasi yang dikenal sebagai resiliensi akademik. Resiliensi akademik merupakan kemampuan individu dalam menghadapi tekanan, tantangan, dan kegagalan dalam konteks akademik, yang salah satunya dipengaruhi oleh efikasi diri akademik, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efikasi diri akademik terhadap resiliensi akademik pada mahasiswa tahun pertama Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana terhadap 241 mahasiswa tahun pertama yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan The Indonesian Academic Self-Efficacy Scale (α = 0,861) dan The Academic Resilience Scale–Indonesia Version (α = 0,867). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linear sederhana dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri akademik berpengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi akademik, dengan nilai t-hitung sebesar 0,710 dan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05), serta nilai uji F sebesar 243,220 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan program pendampingan mahasiswa baru yang berfokus pada peningkatan efikasi diri akademik sebagai strategi untuk memperkuat resiliensi akademik</p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/21123HUBUNGAN ANTARA INTIMACY TERHADAP MARITAL SATISFACTION PADA PASANGAN EMPTY NEST2026-04-18T02:34:09+00:00Winka Wijayantiwinkawijayanti29@gmail.comRatriana Yuliastuti Endang Kusumiatiratriana.kusumiati@uksw.edu<p>Fase empty nest merupakan masa transisi dalam kehidupan keluarga ketika anak-anak telah hidup mandiri dan tidak lagi tinggal bersama orang tua, sehingga pasangan suami istri kembali berfokus pada hubungan pernikahan mereka. Kondisi ini menuntut penyesuaian relasional yang dapat memengaruhi tingkat kepuasan pernikahan. Salah satu faktor yang diperkirakan berperan penting dalam menjaga kepuasan pernikahan pada fase ini adalah intimacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intimacy dan marital satisfaction pada pasangan empty nest. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 100 orang dengan rentang usia 44-63 tahun yang diperoleh melalui teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Personal Assessment of Intimacy in Relationship (PAIR) dan ENRICH Marital Satisfaction Scale. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s rho yang menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara intimacy dan marital satisfaction dengan nilai koefisien sebesar r = 0,553 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menujukkan bahwa semakin tingkat intimacy yang dimiliki pasangan empty nest, semakin tinggi pula tingkat kepuasan pernikahan yang dirasakan. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan intimacy dalam menjaga kualitas dan kepuasan hubungan pernikahan pada pasangan yang berada dalam fase empty nest.</p> <p><em>Students face various academic demands during their studies that require confidence in their abilities. One factor that is thought to play a role in shaping this confidence is a growth mindset. This study aims to determine the relationship between growth mindset and academic self-efficacy among undergraduate students enrolled in 2022 in Central Java. This study uses a quantitative approach with a correlational research design. The research subjects consisted of 112 students. The research instruments were the Growth Mindset Scale to measure growth mindset and the Academic Self-Efficacy to measure academic self-efficacy. Data analysis was performed using Spearman’s rho correlation because the data were not normally distributed. The results showed a significant positive relationship between growth mindset and academic self-efficacy (r = 0,373; p < 0,01). These findings indicate that students with a higher growth mindset tend to have better self-efficacy.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/21112HUBUNGAN GROWTH MINDSET TERHADAP EFIKASI DIRI AKADEMIK PADA MAHASISWA S1 ANGKATAN 20222026-04-17T10:10:13+00:00Shelia Putri Padmasheliaputripadma@gmail.comHeru Astikasari Setya Murtiheru.astikasari@uksw.edu<p>Mahasiswa menghadapi berbagai tuntutan akademik selama masa perkuliahan yang menuntut adanya keyakinan terhadap kemampuan diri. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam membentuk keyakinan tersebut adalah growth mindset. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara growth mindset dan efikasi diri akademik pada mahasiswa S1 angkatan 2022 di wilayah Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Subjek penelitian berjumlah 112 mahasiswa. Instrumen penelitian berupa skala Growth Mindset Scale untuk mengukur growth mindset dan skala Efikasi Diri Akademik untuk efikasi diri akademik. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Spearman’s rho karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara growth mindset dan efikasi diri akademik (r = 0,373; p < 0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan growth mindset yang lebih tinggi cenderung memiliki efikasi diri yang lebih baik.</p> <p><em>Students face various academic demands during their studies that require confidence in their abilities. One factor that is thought to play a role in shaping this confidence is a growth mindset. This study aims to determine the relationship between growth mindset and academic self-efficacy among undergraduate students enrolled in 2022 in Central Java. This study uses a quantitative approach with a correlational research design. The research subjects consisted of 112 students. The research instruments were the Growth Mindset Scale to measure growth mindset and the Academic Self-Efficacy to measure academic self-efficacy. Data analysis was performed using Spearman’s rho correlation because the data were not normally distributed. The results showed a significant positive relationship between growth mindset and academic self-efficacy (r = 0,373; p < 0,01). These findings indicate that students with a higher growth mindset tend to have better self-efficacy.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/20910PENGARUH SELF REGULATED LEARNING TERHADAP STUDENT WELL-BEING PADA SISWA SMA KRISTEN 1 SALATIGA2026-04-09T11:44:25+00:00Stevanny Grisellastevannygrisella29@gmail.com Heru Astikasari Setya Murtiheru.astikasari@uksw.edu<p>Student well-being merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan karena berkaitan dengan kondisi emosional, psikologis, dan sosial siswa dalam menjalani proses belajar di sekolah. Namun, masih banyak siswa SMA yang menghadapi tekanan akademik sehingga berpotensi menurunkan tingkat kesejahteraan mereka. Salah satu faktor internal yang diduga berpengaruh terhadap student well-being adalah self regulated learning, yaitu kemampuan siswa dalam mengelola proses belajarnya secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self regulated learning terhadap student well-being pada siswa SMA Kristen 1 Salatiga. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif asosiatif melalui regresi linear sederhana. Subjek penelitian berjumlah 173 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Nilai Cronbach’s Alpha yang diperoleh pada data skala Self Regulated Learning (α = 0,935) dan skala Student Well-Being (SWBQ) (α = 0,900). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self regulated learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap student well-being, dengan nilai t-hitung sebesar 0,821 dan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05). Selain itu, hasil uji F menunjukkan nilai 354,558 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa model regresi secara keseluruhan signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan siswa dalam mengatur proses belajarnya secara mandiri berperan penting dalam meningkatkan student well-being, sehingga penguatan self regulated learning perlu menjadi perhatian dalam upaya peningkatan kesejahteraan siswa di lingkungan sekolah.</p> <p><em>Student well-being is an important aspect of education as it is closely related to students’ emotional, psychological, and social conditions in the learning process at school. However, many high school students continue to experience academic pressure that may reduce their level of well-being. One internal factor assumed to influence student well-being is self-regulated learning, defined as students’ ability to manage their learning processes independently. This study aims to examine the effect of self-regulated learning on student well-being among students of SMA Kristen 1 Salatiga. This research employed an associative quantitative design using simple linear regression analysis. The research participants consisted of 173 students selected through purposive sampling techniques. The reliability analysis showed that the Self-Regulated Learning Scale (α = 0,935) and the Student Well-Being Scale (SWBQ) (α = 0,900) demonstrated high internal consistency. Data were analyzed using regression analysis with the assistance of SPSS. The results indicated that self-regulated learning has a positive and significant effect on student well-being, as evidenced by a t-value of 0.821 with a significance level of 0.000 (p < 0.05). Furthermore, the F-test results revealed an F-value of 354.558 with a significance level of 0.000 (p < 0.05), indicating that the regression model was statistically significant. These findings suggest that students’ ability to regulate their learning processes independently plays an important role in enhancing student well-being, highlighting the need to strengthen self-regulated learning as a key strategy to improve students’ well-being in school settings.</em></p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/20889HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DAN SOCIAL LOAFING PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS2026-04-08T10:37:41+00:00Leony Anastasya Paathleonypaath@gmail.comDewita Karema Sarajardewita.sarajar@uksw.edu<p><em>This study aimed to examine the relationship between self-efficacy and social loafing among senior high school students. A quantitative correlational design was employed in this research. The participants consisted of 388 senior high school students from various schools in Indonesia, selected using accidental sampling. Data were collected through online questionnaires using the General Self-Efficacy Scale-12 (GSES-12) and a modified social loafing scale based on George’s theory. Data analysis was conducted using Spearman Rank Order Correlation. The results indicated a significant relationship between self-efficacy and social loafing, with a correlation coefficient of 0.642 (p < 0.01), indicating a strong and positive relationship. This finding suggests that higher self-efficacy is associated with higher levels of social loafing in group work, which contradicts the initial hypothesis proposing a negative relationship. The findings imply that collaborative learning should be supported by clear role distribution and individual assessment to reduce social loafing among senior high school students.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan social loafing pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 388 siswa SMA dari berbagai sekolah di Indonesia yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan General Self-Efficacy Scale-12 (GSES-12) dan skala social loafing yang dimodifikasi berdasarkan teori George. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank Order Correlation. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self-efficacy dan social loafing dengan koefisien korelasi sebesar 0,642 (p < 0,01) yang berada pada kategori kuat dan bersifat positif. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-efficacy siswa, semakin tinggi pula kecenderungan social loafing dalam kerja kelompok. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yang menyatakan adanya hubungan negatif. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pembelajaran kolaboratif yang disertai dengan pembagian peran dan evaluasi kontribusi individu untuk mengurangi social loafing pada siswa SMA.</p>2026-04-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif