Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi
id-IDPsikofusi: Jurnal Psikologi IntegratifHUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN RESILIENSI AKADEMIK SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22264
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan resiliensi akademik pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tuntutan pendidikan vokasional yang mengharuskan siswa tidak hanya menguasai kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan vokasional, sehingga siswa perlu mampu mengelola emosi dalam menghadapi tekanan dan tantangan akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 141 siswa SMK kelas X sampai XII. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu Skala Kecerdasan Emosional dan Skala Resiliensi Akademik. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan resiliensi akademik dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,397 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional siswa maka semakin tinggi pula resiliensi akademiknya. Kecerdasan emosional memberikan sumbangan efektif sebesar 15,76% terhadap resiliensi akademik, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam pengembangan aspek emosional siswa guna meningkatkan kemampuan menghadapi tekanan akademik.</p> <p><em>This study aimed to determine the relationship between emotional intelligence and academic resilience among vocational high school (SMK) students. This study was motivated by the demands of vocational education which require students not only to master academic competencies but also vocational skills, so students need the ability to manage emotions in dealing with academic pressures and challenges. This study used a quantitative approach with a correlational method. The sampling technique used purposive sampling involving 141 vocational high school students from grades X to XII. The research instruments used were the Emotional Intelligence Scale and the Academic Resilience Scale. Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation technique with the assistance of SPSS version 26. The results showed a significant positive relationship between emotional intelligence and academic resilience with a correlation coefficient value of r = 0.397 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). These findings indicate that the higher the students emotional intelligence, the higher their academic resilience. Emotional intelligence contributed effectively by 15.76% to academic resilience, while the remaining percentage was influenced by other factors outside this study. The findings of this study are expected to provide benefits in developing students emotional aspects to improve their ability to cope with academic pressure.</em></p>Dewi Nur FaizahEnjang Wahyuningrum
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-06-292026-06-2986PENERAPAN KONSELING KELOMPOK TEKNIK EXPRESSIVE WRITING DALAM MENINGKATKAN REGULASI EMOSI SISWA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/23549
<p>Masa remaja merupakan fase transisi krusial dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan yang ditandai oleh dinamika perubahan kompleks pada dimensi biologis, psikologis, dan sosial-emosional. Ketidakmampuan remaja dalam mengelola ketidakstabilan emosi sering kali memicu kegagalan adaptasi tugas perkembangan dan berujung pada perilaku maladjustment di sekolah, seperti tindakan agresi, pembangkangan, tawuran, hingga perundungan (bullying). Oleh karena itu, diperlukan intervensi bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien untuk memperkuat kompetensi regulasi emosi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengetahui pengaruh dari penerapan layanan konseling kelompok dengan teknik expressive writing dalam meningkatkan regulasi emosi siswa. Penelitian ini menggunakan metode Pre-experimental design melalui model rancangan one group pre-test and post-test design tanpa melibatkan kelompok pembanding atau kelompok kontrol. Subjek penelitian dipilih sebanyak 8 siswa yang berada pada kategori regulasi emosi rendah. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji statistik Paired Sample t-Test. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan skor regulasi emosi pada seluruh subjek penelitian setelah diberikan perlakuan. Sebelum intervensi diberikan, seluruh subjek berada pada kategori regulasi emosi rendah dengan rentang skor 41–48. Setelah mengikuti layanan, seluruh subjek mengalami peningkatan ke arah positif dan berhasil mencapai kategori tinggi dengan rentang skor post-test sebesar 49–60, di mana variasi peningkatan skor individu berkisar antara 8 hingga 19 poin. Berdasarkan analisis statistik inferensial menggunakan uji Paired Sample t-Test, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,01 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan dan peningkatan yang signifikan secara statistik pada kemampuan regulasi emosi siswa antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi.</p> <p><em>Adolescence is a crucial transition phase from childhood to adulthood marked by complex dynamics of change in biological, psychological, and socio-emotional dimensions. The inability of adolescents to manage emotional instability often triggers failure to adapt to developmental tasks and leads to maladjustment behavior at school, such as aggression, defiance, brawls, and bullying. Therefore, effective and efficient guidance and counseling interventions are needed to strengthen students' emotional regulation competencies. This study aims to test and determine the effect of implementing group counseling services with the expressive writing technique in improving students' emotional regulation. This study used a pre-experimental design method through a one-group pre-test and post-test design model without involving a comparison group or control group. The research subjects were 8 students who were in the low emotional regulation category. The data analysis technique used was the Paired Sample t-Test statistical test. The results of the study showed an increase in emotional regulation scores in all research subjects after being given treatment. Before the intervention was given, all subjects were in the low emotional regulation category with a score range of 41–48. After participating in the service, all subjects experienced a positive increase and successfully reached the high category with a post-test score range of 49–60, where the variation in individual score increases ranged from 8 to 19 points. Based on inferential statistical analysis using the Paired Sample t-Test, a significance value of 0.01 (p < 0.05) was obtained, which means there is a statistically significant difference and increase in students' emotional regulation abilities between before and after the intervention.</em></p>Himmah RosyidahBudi PurwokoBakhrudin All Habsy
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-06-292026-06-2986HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN SERVANT LEADERSHIP PADA PEREMPUAN PENGURUS ORGANISASI DI KOTA MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/23280
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan servant leadership pada perempuan yang menjadi pengurus organisasi di Kota Medan. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu dalam mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara efektif, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Sementara itu, servant leadership merupakan gaya kepemimpinan yang menekankan pelayanan kepada anggota, empati, pemberdayaan, serta komitmen terhadap pengembangan individu dalam organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian adalah perempuan yang aktif sebagai pengurus organisasi di Kota Medan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui skala kecerdasan emosional dan skala servant leadership yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dengan servant leadership pada perempuan pengurus organisasi di Kota Medan. Semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional yang dimiliki, maka semakin tinggi pula kemampuan servant leadership yang ditunjukkan dalam menjalankan peran kepemimpinan organisasi. Temuan ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor penting yang mendukung penerapan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan, pengembangan anggota, dan pencapaian tujuan organisasi secara efektif.</p>Rut Claristin SihalohoNenny Ika Putri Simarmata
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-06-292026-06-2986RESILIENSI PSIKOLOGIS DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING KARYAWAN DI PT KIYOKUNI INDONESIA BEKASI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22498
<p>Psychological well-being merupakan aspek penting yang mendukung kesehatan mental dan kualitas kerja karyawan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam meningkatkan psychological well-being adalah resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dan psychological well-being pada karyawan operator Stamping Press Produksi PT Kiyokuni Indonesia Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 123 karyawan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan Google Form. Resiliensi diukur menggunakan Resilience Scale (RS-25) yang dikembangkan oleh Wagnild dan Young (1993), sedangkan psychological well-being diukur menggunakan Psychological Well-Being Scale yang dikembangkan oleh Ryff (1989). Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal (p = 0,200), sedangkan uji linearitas menunjukkan hubungan linear antara kedua variabel (p = 0,000). Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara resiliensi dan psychological well-being (r = 0,497; p = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat resiliensi yang dimiliki karyawan, maka semakin tinggi pula psychological well-being yang dimiliki. Sebaliknya, rendahnya resiliensi diikuti oleh rendahnya psychological well-being. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa resiliensi merupakan faktor psikologis yang berperan penting dalam membantu karyawan menghadapi tekanan kerja dan mempertahankan kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu, perusahaan perlu mendukung pengembangan resiliensi karyawan melalui berbagai program yang menunjang kesehatan mental dan kemampuan adaptasi kerja.</p> <p><em>Psychological well-being is an important aspect that supports employees’ mental health and work quality. One factor that is assumed to contribute to psychological well-being is resilience. This study aimed to examine the relationship between resilience and psychological well-being among Stamping Press Production employees at PT Kiyokuni Indonesia Bekasi. A quantitative approach with a correlational design was employed. The participants consisted of 123 employees selected through purposive sampling. Data were collected online using Google Forms. Resilience was measured using the Resilience Scale (RS-25) developed by Wagnild and Young (1993), while psychological well-being was measured using the Psychological Well-Being Scale developed by Ryff (1989). Data were analyzed using Pearson Product-Moment Correlation with SPSS version 25. The normality test indicated that the data were normally distributed (p = 0.200), and the linearity test showed a linear relationship between the variables (p = 0.000). The results revealed a significant positive relationship between resilience and psychological well-being (r = 0.497; p = 0.000). These findings indicate that employees with higher resilience tend to have higher levels of psychological well-being. Conversely, lower resilience is associated with lower psychological well-being. The results suggest that resilience plays an important role in helping employees cope with work-related pressures and maintain psychological well-being. Therefore, organizations are encouraged to implement programs that strengthen employee resilience and support mental health in the workplace.</em></p>Risya Alifiani ArifahSutarto Wijono
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-06-292026-06-2986PENGARUH SELF EFFICACY TERHADAP KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA MAHASISWA YANG BERGABUNG ORGANISASI RESMI DI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/23500
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh self-efficacy terhadap komunikasi interpersonal pada mahasiswa yang bergabung dalam organisasi resmi di Universitas HKBP Nommensen Medan. Self-efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam melaksanakan tugas dan menghadapi berbagai situasi, sedangkan komunikasi interpersonal merupakan kemampuan individu dalam menjalin hubungan, bertukar informasi, serta membangun interaksi yang efektif dengan orang lain. Mahasiswa yang aktif dalam organisasi dituntut memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk mendukung pelaksanaan program kerja dan kerja sama antaranggota. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada mahasiswa yang tergabung dalam organisasi resmi di Universitas HKBP Nommensen Medan. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh self-efficacy terhadap komunikasi interpersonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap komunikasi interpersonal mahasiswa. Semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki mahasiswa, maka semakin baik pula kemampuan komunikasi interpersonalnya. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan keyakinan diri dan kompetensi personal guna meningkatkan kualitas komunikasi serta efektivitas interaksi dalam lingkungan organisasi mahasiswa.</p> <p><em>This study aims to analyze the influence of self-efficacy on interpersonal communication among students who participate in official organizations at HKBP Nommensen University Medan. Self-efficacy refers to an individual's belief in their ability to perform tasks and face various situations, while interpersonal communication refers to the ability to establish relationships, exchange information, and build effective interactions with others. Students involved in organizational activities are required to possess strong communication skills to support program implementation and cooperation among members. This study employs a quantitative approach using a correlational method. Data were collected through questionnaires distributed to students who are members of official organizations at HKBP Nommensen University Medan. Data analysis was conducted using simple linear regression to determine the effect of self-efficacy on interpersonal communication. The results indicate that self-efficacy has a positive and significant influence on students' interpersonal communication. Higher levels of self-efficacy are associated with better interpersonal communication skills. These findings highlight the importance of developing self-confidence and personal competence to enhance communication quality and interaction effectiveness within student organizations.</em></p>Ikhlas Waruwu
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-06-292026-06-2986MEMBONGKAR "PENJARA INTELEKTUAL": MENGAPA LAYANAN ANAK BERBAKAT KITA MASIH TERTINGGAL?
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/23037
<p>Anak Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CIBI) di Indonesia sering kali mengalami underachievement akibat sistem pendidikan yang cenderung generalis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kondisi layanan pendidikan anak berbakat di Indonesia saat ini serta menawarkan solusi pengembangannya di masa depan. Dengan menggunakan metode kajian pustaka, artikel ini membedah realita lapangan melalui kacamata teori keberbakatan Three Ring Conception dari Joseph Renzulli dan Differentiated Model of Giftedness and Talent (DMGT) dari Françoys Gagné. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem identifikasi di Indonesia masih berat sebelah pada aspek intelektual (skor IQ/rapor) dan mengabaikan aspek kreativitas serta komitmen tugas. Selain itu, pendekatan one-size-fits-all memicu frustrasi akademik dan asinkroni perkembangan pada anak berbakat. Sebagai solusi, artikel ini merekomendasikan penerapan Differentiated Instruction berbasis Problem Based Learning (PBL), penguatan kolaborasi ekosistem antara sekolah dan orang tua, serta perluasan kebijakan manajemen talenta nasional yang didukung payung hukum yang kuat.</p>Nuri Fadlilah A'malina
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-06-292026-06-2986