Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi id-ID Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif HUBUNGAN SELF-DISCLOSURE DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SUAMI DENGAN USIA PERNIKAHAN 1-2 TAHUN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/18974 <p><em>This study aims to determine the relationship between self-disclosure and marital satisfaction among husbands with a marriage duration of 1–2 years. The research employed a quantitative approach with a correlational design. Participants consisted of 352 husbands selected using the snowball sampling technique. The instruments used were the Marital Self-Disclosure Questionnaire (MSDQ) and the ENRICH Marital Satisfaction Scale (EMS). Data were analyzed using Spearman’s Rho correlation test, which showed a correlation coefficient of r = 0.758 with p = 0.000 (p &lt; 0.05). This indicates a positive and significant relationship between self-disclosure and marital satisfaction. In other words, the higher the level of self-disclosure, the higher the marital satisfaction experienced. Self-disclosure contributes 68.39% to marital satisfaction, while the remaining 31.61% is influenced by other factors not examined in this study.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-disclosure dengan kepuasan pernikahan pada suami dengan usia pernikahan 1–2 tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 352 orang suami yang dipilih dengan teknik snowball sampling. Instrumen yang digunakan adalah Marital Self-Disclosure Questionnaire (MSDQ) dan ENRICH Marital Satisfaction Scale (EMS). Hasil analisis menggunakan uji Spearman’s Rho menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,758 dengan p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara keterbukaan diri dan kepuasan pernikahan. Artinya, semakin tinggi keterbukaan diri, maka semakin tinggi pula kepuasan pernikahan yang dirasakan. Keterbukaan diri memberikan kontribusi sebesar 68,39% terhadap kepuasan pernikahan, sedangkan 31,61% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.</p> Dina Tessalonika Sitorus Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif 2026-01-30 2026-01-30 8 1 HUBUNGAN KEMATANGAN EMOSIONAL DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SUAMI GENERASI Z YANG BEKERJA DI PTPN IV KEBUN TAMORA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/19331 <p><em>This study aims to examine the relationship between emotional maturity and marital satisfaction among Generation Z husbands working at PTPN IV Tamora Plantation. The research involved 218 married male participants born between 1995 and 2003. Using a quantitative correlational approach and an accidental sampling technique, data were collected through two standardized instruments: the Emotional Maturity Scale (EMS) by Singh and Bhargava (1990) and the ENRICH Marital Satisfaction Scale (EMSS) by Olson and Flowers (1993). The results of the Spearman’s rho correlation test showed a significant positive relationship between emotional maturity and marital satisfaction (ρ = 0.471, p &lt; 0.001). This indicates that the higher the level of emotional maturity, the higher the marital satisfaction experienced by Generation Z husbands. Emotional maturity contributed 22.2% to marital satisfaction, while the remaining 77.8% was influenced by other factors. These findings highlight the importance of emotional maturity in maintaining harmony and satisfaction in marriage, particularly among Generation Z individuals working in demanding environments such as palm oil plantations.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosional dengan kepuasan pernikahan pada suami generasi Z yang bekerja di PTPN IV Kebun Tamora. Penelitian ini melibatkan 218 partisipan laki-laki yang telah menikah dan lahir antara tahun 1995 hingga 2003. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional serta teknik pengambilan sampel dengan <em>accidental sampling. </em>Instrumen yang digunakan adalah <em>Emotional Maturity Scale </em>(EMS) yang dikembangkan oleh Singh dan Bhargava (1990) untuk mengukur kematangan emosional, serta ENRICH <em>Marital Satisfaction Scale </em>(EMSS) dari Olson dan Flowers (1993) untuk mengukur kepuasan pernikahan. Hasil uji korelasi <em>Spearman’s rho </em>menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kematangan emosional dan kepuasan pernikahan ρ = 0.471 (p &lt; 0.001). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kematangan emosional, maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan pernikahan yang dirasakan. Kematangan emosional memberikan kontribusi sebesar 22,2% terhadap kepuasan pernikahan, sedangkan 77,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kematangan emosional memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan dan kepuasan pernikahan, khususnya pada suami generasi Z yang bekerja di lingkungan kerja dengan tuntutan tinggi seperti perkebunan sawit.</p> Nadelia Br Hutabarat Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif 2026-01-30 2026-01-30 8 1 POTRET DINAMIKA POLA ASUH ORANG TUA DALAM MEMBENTUK CRITICAL THINKING PADA BUDAYA BATAK https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/19611 <p><em>This study explores the dynamics of parental patterns in shaping critical thinking abilities among children within Batak cultural contexts. Employing a qualitative phenomenological approach, the research involved three Batak parents whose children have reached early adulthood, examining their lived experiences in integrating cultural values with cognitive development practices. Data collection through semi-structured interviews via Zoom revealed that Batak parents navigate complex tensions between traditional values particularly hasangapon (honor), hamoraon (prosperity), and hagabeon (progeny) and contemporary educational demands. The findings indicate that while authoritarian tendencies persist, influenced by hierarchical structures like Dalihan Na Tolu, there is an emerging shift toward more democratic approaches that create spaces for dialogue and reflection. Parents utilize umpasa (traditional proverbs) as indirect guidance tools, functioning both as moral compasses and cognitive scaffolding for developing analytical capabilities. The study reveals that critical thinking development occurs through a dialectical process where children negotiate between cultural expectations and personal autonomy. This research contributes to understanding how indigenous parenting practices can be leveraged to foster 21st-century thinking skills while maintaining cultural identity. The implications suggest that effective cultivation of critical thinking in culturally-rooted contexts requires balancing respect for traditional wisdom with openness to questioning and exploration.</em></p> <p>Penelitian ini mengeksplorasi dinamika pola asuh orang tua dalam membentuk kemampuan berpikir kritis anak dalam konteks budaya Batak. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian melibatkan tiga orang tua Batak yang memiliki anak berusia dewasa awal, menggali pengalaman hidup mereka dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya dengan praktik pengembangan kognitif. Pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur via Zoom mengungkap bahwa orang tua Batak menavigasi ketegangan kompleks antara nilai-nilai tradisional khususnya hasangapon (kehormatan), hamoraon (kemakmuran), dan hagabeon (keturunan) dengan tuntutan pendidikan kontemporer. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kecenderungan otoriter masih bertahan yang dipengaruhi struktur hierarkis seperti Dalihan Na Tolu, terdapat pergeseran yang muncul menuju pendekatan lebih demokratis yang membuka ruang dialog dan refleksi. Orang tua memanfaatkan umpasa (petuah tradisional) sebagai instrumen bimbingan tidak langsung, berfungsi sebagai kompas moral sekaligus perancah kognitif untuk mengembangkan kapasitas analitis. Penelitian mengungkap bahwa pengembangan berpikir kritis terjadi melalui proses dialektis di mana anak menegosiasikan ekspektasi budaya dengan otonomi personal. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana praktik pengasuhan berbasis kearifan lokal dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan keterampilan berpikir abad 21 sambil mempertahankan identitas budaya. Implikasinya menunjukkan bahwa kultivasi efektif berpikir kritis dalam konteks berakar budaya memerlukan keseimbangan antara penghormatan terhadap kebijaksanaan tradisional dengan keterbukaan terhadap pertanyaan dan eksplorasi.</p> Sandy Manginut Heru Astikasari Setya Murti Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif 2026-01-30 2026-01-30 8 1