Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi
id-IDPsikofusi: Jurnal Psikologi IntegratifHUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL REMAJA-ORANGTUA DENGAN REGULASI EMOSI REMAJA DI KOTA SALATIGA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24604
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal remaja-orangtua dengan regulasi emosi remaja di Kota Salatiga. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya kemampuan regulasi emosi pada masa remaja serta peran komunikasi interpersonal dalam keluarga sebagai salah satu faktor yang mendukung perkembangan emosional remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 133 remaja berusia 15–17 tahun yang sedang menempuh pendidikan tingkat SMA di Kota Salatiga dan tinggal bersama orangtua. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Interpersonal Communication Inventory (ICI) untuk mengukur komunikasi interpersonal dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan program SPSS versi 24. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara komunikasi interpersonal remaja-orangtua dengan regulasi emosi remaja (r = 0,468; p < 0,05). Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal remaja-orangtua memberikan kontribusi sebesar 21,9% terhadap regulasi emosi remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik komunikasi interpersonal yang terjalin antara remaja dan orangtua, maka semakin baik pula kemampuan regulasi emosi yang dimiliki remaja. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka, hangat, dan suportif dalam keluarga guna mendukung perkembangan emosional remaja secara optimal.</p> <p><em>This study aimed to examine the relationship between adolescent-parent interpersonal communication and adolescents’ emotion regulation in Salatiga City. The study was motivated by the importance of emotion regulation during adolescence and the role of interpersonal communication within the family as a factor supporting adolescents’ emotional development. This research employed a quantitative approach with a correlational design. Participants consisted of 133 adolescents aged 15–17 years who were enrolled in senior high school and lived with their parents. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected using the Interpersonal Communication Inventory (ICI) to measure interpersonal communication and the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to assess emotion regulation. Data analysis was conducted using Pearson Product Moment correlation with the assistance of SPSS version 24. The results revealed a significant positive relationship between adolescent-parent interpersonal communication and adolescents’ emotion regulation (r = 0.468; p < 0.05). The coefficient of determination indicated that adolescent-parent interpersonal communication contributed 21.9% to adolescents’ emotion regulation. These findings suggest that better interpersonal communication between adolescents and their parents is associated with better emotion regulation abilities among adolescents. The implications of this study highlight the importance of fostering open, warm, and supportive communication within families to promote optimal emotional development among adolescents.</em></p>Maria Ranggadewi PuspitasariDewita Karema Sarajar
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087GAMBARAN RESILIENSI TERHADAP PEREMPUAN YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/23954
<p><em>Domestic Violence (KDRT) is a serious and increasingly prevalent issue in Indonesia, inflicting profound physical and emotional impacts on women. Despite facing highly stressful situations, some female victims of domestic violence are able to survive, adapt, and continue their lives through a process of adaptation known as resilience. Therefore, this study aims to explore in depth the resilience profile of women experiencing Domestic Violence. This study employs a qualitative approach with a phenomenological method. The research subjects consisted of two female victims of domestic violence selected using the criterion sampling technique, supported by two supporting informants. Data collection was conducted through a triangulation technique involving in-depth semi-structured interviews, non-participatory observation, and documentation. The obtained data were then analyzed using the Miles and Huberman analysis model, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. The results showed that both subjects were able to develop resilience through five aspects: personal competence, trust in one's instincts and tolerance of negative affect, positive acceptance of change and secure relationships, control, and spiritual influences. The most dominant aspects shaping their resilience were personal competence, where the presence of children served as the primary motivation to endure, and spiritual influences through prayer and surrender to God as the ultimate source of strength. In conclusion, female victims of domestic violence are able to recover, adapt, and maintain their life functioning through self-belief, adaptive coping strategies, and strong spirituality; thus, it is recommended for victims to strive to build economic independence and not hesitate to seek professional support.</em></p> <p>Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi masalah serius yang terus meningkat di Indonesia dan memberikan dampak fisik maupun emosional yang mendalam bagi perempuan. Meskipun berada dalam situasi penuh tekanan, sebagian perempuan korban KDRT mampu bertahan, menyesuaikan diri, dan melanjutkan kehidupan melalui proses adaptasi yang disebut resiliensi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam gambaran resiliensi pada perempuan yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjek penelitian terdiri dari dua perempuan korban KDRT yang dipilih menggunakan teknik criterion sampling, dan didukung oleh dua orang informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik triangulasi yang meliputi wawancara semi-terstruktur secara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan model analisis Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek mampu mengembangkan resiliensi melalui lima aspek, yaitu kemampuan pribadi (personal competence), kepercayaan pada insting dan toleransi emosi negatif (trust in one's instincts and tolerance of negative affect), penerimaan positif terhadap perubahan (positive acceptance of change and secure relationships), pengendalian diri (control), serta pengaruh spiritualitas (spiritual influences). Aspek yang paling dominan dalam membentuk ketangguhan subjek adalah kompetensi pribadi, di mana kehadiran anak menjadi motivasi utama untuk bertahan, serta pengaruh spiritualitas melalui doa dan kepasrahan kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan tertinggi. Kesimpulannya, perempuan korban KDRT mampu bangkit, beradaptasi, dan mempertahankan keberfungsian hidupnya melalui keyakinan diri, strategi coping yang adaptif, dan spiritualitas yang kuat, sehingga disarankan bagi korban untuk berupaya membangun kemandirian ekonomi serta tidak ragu mencari dukungan profesional.</p>Pia Xtepia HutaurukNancy Naomi Aritonang
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087PENGARUH SELF EFFICACY TERHADAP NIAT BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA DI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24597
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh self-efficacy terhadap niat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 200 mahasiswa aktif Fakultas Psikologi angkatan 2021–2025 yang pernah melakukan kegiatan wirausaha, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi sebanyak 418 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psikologis, yaitu skala self-efficacy dan skala niat berwirausaha. Data dianalisis menggunakan teknik regresi linear sederhana dengan bantuan program SPSS 20.0 for Windows. Hasil uji asumsi menunjukkan bahwa data kedua variabel berdistribusi normal dan memiliki hubungan yang linear, sehingga analisis regresi linear sederhana dapat digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil analisis regresi menunjukkan nilai F sebesar 21,237 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), nilai t sebesar 4,608 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), dan koefisien regresi sebesar 0,336. Nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,097 menunjukkan bahwa self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 9,7% terhadap niat berwirausaha, sedangkan 90,3% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Hasil ini menunjukkan bahwa self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat berwirausaha, sehingga hipotesis penelitian (H1) diterima dan hipotesis nol (H0) ditolak. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki mahasiswa, semakin tinggi pula niat berwirausaha yang dimilikinya. Temuan ini mendukung teori self-efficacy dari Bandura (1997) dan Theory of Planned Behavior dari Ajzen (1991).</p>Sumihar TambunanNenny Ika Putri
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087GAMBARAN RESILIENSI PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24829
<p>Memiliki anak berkebutuhan khusus merupakan pengalaman yang dapat memberikan tantangan emosional, psikologis, sosial, dan ekonomi bagi seorang ibu. Perbedaan diagnosis pada anak berkebutuhan khusus juga dapat memengaruhi cara ibu menghadapi berbagai tuntutan dalam pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan resiliensi pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus dengan diagnosa yang berbeda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan penelitian adalah ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus dengan diagnosis yang berbeda dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi ibu berkembang melalui proses adaptasi terhadap kondisi anak, penerimaan terhadap diagnosis, dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan, keyakinan religius, serta kemampuan dalam mengelola emosi dan menemukan makna positif dari pengalaman pengasuhan. Meskipun setiap ibu menghadapi tantangan yang berbeda sesuai dengan diagnosis anak, seluruh partisipan menunjukkan kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan mempertahankan fungsi pengasuhan secara optimal. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan intervensi psikologis dan program dukungan bagi ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus.</p> <p><em>Having a child with special needs presents emotional, psychological, social, and economic challenges for mothers. Differences in the child's diagnosis may also influence how mothers cope with the demands of caregiving. This study aims to describe the resilience of mothers who have children with special needs with different diagnoses. This research employed a qualitative approach using a case study method. Participants were mothers of children with different special needs diagnoses, selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and observations and analyzed using thematic analysis. The findings indicate that maternal resilience develops through a process of adapting to the child's condition, accepting the diagnosis, receiving social support from family and the surrounding environment, maintaining religious or spiritual beliefs, and managing emotions while finding positive meaning in the caregiving experience. Although each mother encountered different challenges depending on her child's diagnosis, all participants demonstrated the ability to recover, adapt, and maintain effective parenting. The findings are expected to provide a basis for developing psychological interventions and support programs for mothers of children with special needs.</em></p>Miranda SitumorangNancy Naomi G.P. Aritonang
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087HUBUNGAN ANTARA WORK-LIFE BALANCE DENGAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN DI PT.X THE RELATIONSHIP BETWEEN WORK-LIFE BALANCE AND JOB SATISFACTION OF EMPLOYEES AT PT.X
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24507
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara work-life balance dengan kepuasan kerja pada karyawan divisi marketing PT.X wilayah Sumater. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Responden penelitian berjumlah 100 karyawan yang di pilih melalui teknik sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala work-life balance yang disusun berdasarkan dimensi Fisher dkk. (2009) serta skala kepuasan kerja yang mengacu pada aspek-aspek yang dikemukakan oleh Spector (1997). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara work-life balance dengan kepuasan kerja (r = 0,376; p < 0,05) dengan tingkat keeratan hubungan yang tergolong rendah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan work-life balance cenderung diikuti oleh peningkatan kepuasan kerja karyawan. Dengan demikian, work-life balance merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kepuasan kerja, meskipun kepuasan kerja juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya.</p> <p><em>This study was conducted to analyze the relationship between work-life balance and job satisfaction among marketing division employees of PT. X in the Sumatra region. The research adopted a quantitative approach with a correlational method. The participants consisted of 100 employees selected through a saturated sampling technique. Data were collected using a work-life balance scale developed based on the dimensions proposed by Fisher et al. (2009) and a job satisfaction scale referring to the aspects introduced by Spector (1997). The data were analyzed using Spearman correlation analysis. The findings revealed a positive and statistically significant relationship between work-life balance and job satisfaction (r = 0.376; p < 0.05), indicating a low level of correlation. These results suggest that employees with higher levels of work-life balance tend to experience greater job satisfaction. Therefore, work-life balance can be considered one of the factors associated with job satisfaction, although other contributing factors also influence employees' job satisfaction.</em></p>Gabriel SilabanKarina Meriem Beru Brahmana
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN TIKTOK TERHADAP KECENDERUNGAN NARSISTIK PADA MAHASISWA DI KOTA MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24712
<p>TikTok merupakan salah satu media sosial yang banyak digunakan oleh mahasiswa sebagai sarana memperoleh hiburan, informasi, dan berinteraksi dengan pengguna lain. Tingginya intensitas penggunaan TikTok diduga dapat memengaruhi kecenderungan narsistik pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas penggunaan TikTok terhadap kecenderungan narsistik pada mahasiswa di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel sebanyak 348 mahasiswa aktif perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Medan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala intensitas penggunaan TikTok yang disusun berdasarkan aspek frekuensi dan durasi serta skala kecenderungan narsistik yang diadaptasi dari Narcissistic Personality Inventory (NPI-40) oleh Raskin dan Terry (1988). Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan TikTok berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kecenderungan narsistik pada mahasiswa di Kota Medan (F = 4,796; p = 0,029). Persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = 22,221 − 0,082X, yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan intensitas penggunaan TikTok diikuti dengan penurunan skor kecenderungan narsistik sebesar 0,082. Nilai koefisien korelasi sebesar R = 0,117 menunjukkan hubungan yang sangat rendah, sedangkan nilai koefisien determinasi (R² = 0,014) menunjukkan bahwa intensitas penggunaan TikTok memberikan kontribusi sebesar 1,4% terhadap kecenderungan narsistik, sementara 98,6% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti. Dengan demikian, intensitas penggunaan TikTok merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kecenderungan narsistik pada mahasiswa, namun besarnya pengaruh tersebut relatif kecil. </p> <p><em>TikTok is one of the most widely used social media platforms among university students for entertainment, information seeking, and social interaction. The high intensity of TikTok use is presumed to influence narcissistic tendencies among students. This study aimed to examine the effect of TikTok usage intensity on narcissistic tendencies among university students in Medan City. This study employed a quantitative approach involving 348 active students from public and private universities in Medan City, selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the TikTok Usage Intensity Scale, developed based on the aspects of frequency and duration, and the Narcissistic Personality Inventory (NPI-40) adapted from Raskin and Terry (1988). The results showed that TikTok usage intensity had a negative and statistically significant effect on narcissistic tendencies among university students in Medan City (F = 4.796; p = 0.029). The regression equation obtained was <strong data-start="1098" data-end="1121">Y = 22.221 − 0.082X</strong>, indicating that each one-unit increase in TikTok usage intensity was associated with a decrease of 0.082 points in narcissistic tendency scores. The correlation coefficient (R = 0.117) indicated a very weak relationship, while the coefficient of determination (R² = 0.014) revealed that TikTok usage intensity accounted for only 1.4% of the variance in narcissistic tendencies, whereas the remaining 98.6% was influenced by other factors not examined in this study. Therefore, TikTok usage intensity is one of the factors associated with narcissistic tendencies among university students, although its effect is relatively small.</em></p>Angelia Stephani Br GintingFreddy Butarbutar
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087GAMBARAN REGULASI EMOSI PRIA DEWASA MUDA YANG MENJADI PECANDU JUDI SLOT ONLINE
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24431
<p>Kecanduan judi slot online di kalangan pria dewasa muda kerap dipicu oleh ketidakmampuan meregulasi emosi negatif, namun sebagian besar penelitian terdahulu masih berfokus pada pendekatan kuantitatif sehingga belum menggambarkan secara mendalam bagaimana proses regulasi emosi tersebut dialami dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran empiris regulasi emosi serta faktor-faktor yang memengaruhinya pada pria dewasa muda pecandu judi slot online. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, melibatkan dua subjek pria dewasa muda berusia 18–35 tahun berdomisili di Kota Medan yang menunjukkan indikasi kecanduan judi slot online, ditambah dua informan dari lingkungan terdekat subjek. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara induktif berdasarkan lima aspek regulasi emosi (situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, response modulation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecanduan judi slot online mengganggu kapasitas regulasi emosi kedua subjek, dengan pola siklis: tekanan akademik memicu perilaku berjudi, kekalahan memperburuk kondisi emosional, dan kondisi emosional yang memburuk kembali mendorong perilaku berjudi. Meski demikian, kedua subjek menunjukkan upaya pemulihan aktif berupa pembatasan akses judi, pengalihan aktivitas, reinterpretasi kognitif, serta pemanfaatan dukungan sosial. Faktor akademik teridentifikasi sebagai pemicu utama, sedangkan dukungan sosial dari keluarga dan teman dekat berperan sebagai faktor protektif dalam pemulihan regulasi emosi.</p> <p><em>Online slot gambling addiction among young adult men is often driven by an inability to regulate negative emotions, yet most prior studies have relied on quantitative approaches that fail to capture in depth how this regulatory process is experienced and enacted in daily life. This study aimed to obtain an empirical picture of emotion regulation and the factors influencing it among young adult men addicted to online slot gambling. A qualitative method with a phenomenological approach was employed, involving two young adult male subjects aged 18–35 residing in Medan who showed indications of online slot gambling addiction, along with two informants from their immediate social environment. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed inductively based on five aspects of emotion regulation (situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, response modulation). The results showed that gambling addiction disrupted both subjects' capacity for emotion regulation, following a cyclical pattern: academic pressure triggered gambling behavior, losses worsened emotional states, and worsening emotional states in turn re-triggered gambling. Nonetheless, both subjects demonstrated active recovery efforts, including restricting access to gambling, engaging in alternative activities, reinterpreting cognitions, and drawing on social support. Academic pressure was identified as the primary trigger, while social support from family and close friends served as a protective factor in the recovery of emotion regulation.</em></p>Ramot ManurungNancy Naomi G. P Aritonang
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087GAMBARAN SELF-COMPASSION PADA PEREMPUAN KRISTEN DEWASA AWAL YANG PERNAH MELAKUKAN SEKS PRANIKAH
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24657
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran self-compassion pada perempuan Kristen dewasa awal yang pernah melakukan seks pranikah. Fenomena seks pranikah sering kali menimbulkan berbagai konsekuensi psikologis, seperti rasa bersalah, penyesalan, malu, serta kekhawatiran terhadap penilaian sosial dan nilai-nilai keagamaan yang dianut. Dalam kondisi tersebut, self-compassion berperan sebagai kemampuan individu untuk memperlakukan diri dengan kebaikan, memahami bahwa pengalaman sulit merupakan bagian dari kehidupan manusia, serta mampu menghadapi emosi negatif secara seimbang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan merupakan perempuan Kristen dewasa awal yang memiliki pengalaman melakukan seks pranikah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap partisipan memiliki gambaran self-compassion yang berbeda, dipengaruhi oleh proses penerimaan diri, pemaknaan pengalaman, dukungan sosial, serta penghayatan terhadap nilai-nilai spiritual. Individu yang mampu mengembangkan self-compassion cenderung lebih mudah menerima pengalaman masa lalu, mengurangi kecenderungan menghakimi diri sendiri, serta memiliki motivasi untuk memperbaiki kualitas hidup. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian psikologi, khususnya mengenai self-compassion pada perempuan Kristen dewasa awal yang memiliki pengalaman seks pranikah.</p>Anggi Br ManjorangTogi Fitri Afriani Ambarita
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087EKSPLORASI PENGALAMAN CINTA PADA PEREMPUAN DALAM RELASI POLIGAMI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24131
<p><em>The phenomenon of polygamy presents complex psychological dynamics for women, particularly in how they interpret love, emotional closeness, passion, and commitment within marital relationships. This study aims to explore the experience of love among women in polygamous relationships. The research employed a qualitative approach with a descriptive phenomenological design to gain an in-depth understanding of the participants' subjective experiences. The participants were two women currently in polygamous marriages, the first wife and the second wife, selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and non-participant observation, and the data were analyzed using thematic analysis. The findings reveal that the experience of love among women in polygamous relationships undergoes complex changes and adjustments, with four main themes identified: (1) love as self-adjustment in polygamy, characterized by emotional conflicts such as disappointment, jealousy, loss of exclusivity, and the process of adapting to the marital situation; (2) reconstruction of love toward relational commitment, in which love is no longer understood solely as romance but as responsibility, acceptance, and an effort to maintain family integrity; (3) psychological resilience through spiritual coping, indicating that religiosity serves as a source of strength in dealing with emotional distress; and (4) maternal love as the foundation for sustaining the marital relationship, where the presence of children becomes the primary reason participants remain in the marriage. Based on the study, women in polygamous relationships tend to face complex and evolving love dynamics shaped by relational experience, religious values, and processes of self-adjustment.</em></p> <p>Fenomena poligami menghadirkan dinamika psikologis yang kompleks bagi perempuan, terutama dalam memaknai cinta, kedekatan emosional, gairah, dan komitmen dalam hubungan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman cinta yang dialami oleh perempuan dalam relasi poligami. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif untuk memahami secara mendalam pengalaman subjektif partisipan. Partisipan penelitian ini adalah dua perempuan yang sedang menjalani pernikahan poligami, yaitu istri pertama dan istri kedua, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam semi terstruktur dan observasi non-partisipan, sedangkan analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman cinta pada perempuan dalam relasi poligami mengalami perubahan dan penyesuaian yang kompleks, dengan empat tema utama yang ditemukan: (1) cinta sebagai penyesuaian diri dalam poligami, yang ditandai oleh munculnya konflik emosional seperti kekecewaan, cemburu, hilangnya eksklusivitas, serta proses adaptasi terhadap kondisi pernikahan; (2) rekonstruksi cinta menuju komitmen relasional, di mana cinta tidak lagi dipahami semata sebagai romantisme, melainkan sebagai tanggung jawab, penerimaan, dan upaya mempertahankan keutuhan keluarga; (3) resiliensi psikologis melalui coping spiritual, yang menunjukkan bahwa religiusitas merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi tekanan emosional; dan (4) cinta keibuan sebagai dasar bertahannya relasi pernikahan, di mana keberadaan anak menjadi alasan utama partisipan mempertahankan pernikahan. Berdasarkan temuan tersebut, perempuan yang berada dalam hubungan poligami cenderung menghadapi dinamika cinta yang kompleks, yang berkembang seiring waktu, pengalaman hidup, nilai religius, dan proses penyesuaian diri.</p>Salsabil Ajrina WibowoEmmanuel Satyo Yuwono
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087PENGARUH PARENTAL OVERPROTECTION TERHADAP PERILAKU DISRUPTIF PADA REMAJA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24601
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perilaku disruptif pada remaja yang dapat berdampak negatif terhadap perkembangan sosial, emosional, dan akademik. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi munculnya perilaku disruptif adalah parental overprotection, yaitu pola asuh yang ditandai dengan kontrol dan perlindungan yang berlebihan dari orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parental overprotection terhadap perilaku disruptif pada remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana. Partisipan penelitian berjumlah 310 remaja berusia 13–16 tahun yang merupakan siswa salah satu SMP Negeri di Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Parental Bonding Instrument (PBI) pada subskala overprotection dan Eyberg Child Behavior Inventory (ECBI). Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa parental overprotection berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku disruptif pada remaja (β = 0,112; t = 1,984; p = 0,048). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat parental overprotection yang dirasakan remaja, maka semakin tinggi pula kecenderungan munculnya perilaku disruptif. Meskipun demikian, besarnya pengaruh yang ditemukan tergolong rendah, sehingga perilaku disruptif juga dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil penelitian ini mengindikasikan pentingnya penerapan pola asuh yang seimbang antara pengawasan dan pemberian kesempatan kepada remaja untuk mengembangkan kemandirian.</p> <p><em>This study was motivated by the increasing prevalence of disruptive behavior among adolescents, which may negatively affect their social, emotional, and academic development. One factor assumed to contribute to disruptive behavior is parental overprotection, a parenting style characterized by excessive control and protection from parents. This study aimed to examine the effect of parental overprotection on disruptive behavior among adolescents. A quantitative approach with a simple linear regression design was employed. The participants consisted of 310 adolescents aged 13–16 years from a public junior high school in Sidorejo District, Salatiga City, selected using purposive sampling. Data were collected using the overprotection subscale of the Parental Bonding Instrument (PBI) and the Eyberg Child Behavior Inventory (ECBI). The results of the simple linear regression analysis revealed that parental overprotection had a positive and significant effect on disruptive behavior among adolescents (β = 0.112; t = 1.984; p = 0.048). These findings indicate that higher levels of perceived parental overprotection are associated with higher levels of disruptive behavior. However, the magnitude of the effect was relatively low, suggesting that disruptive behavior is also influenced by other factors. The findings highlight the importance of implementing a balanced parenting approach that combines appropriate supervision with opportunities for adolescents to develop autonomy and independence</em></p>Yohana Dwi ValentinaDewita Karema Sarajar
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087HUBUNGAN ANTARA SELF-ACCEPTANCE DENGAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA GAP YEAR DI KOTA MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24545
<p>Mahasiswa yang menjalani gap year rentan mengalami tekanan psikologis berupa perbandingan sosial, insecurity akademik, dan stigma sosial yang dapat menurunkan penilaian terhadap dirinya sendiri. Self-acceptance diduga menjadi salah satu faktor yang berperan penting dalam membentuk self-esteem pada kelompok mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-acceptance dengan self-esteem pada mahasiswa yang pernah menjalani gap year di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 364 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan ukuran sampel minimal ditentukan melalui tabel Isaac dan Michael. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua skala Likert, yaitu skala self-acceptance yang disusun berdasarkan sembilan aspek dari Berger (2003) dan skala self-esteem yang diadaptasi dari Rosenberg Self-Esteem Scale (Rosenberg, 1965). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi sebesar r = 0,575 dengan signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan dan tergolong cukup kuat antara self-acceptance dengan self-esteem. Artinya, semakin tinggi self-acceptance mahasiswa gap year, semakin tinggi pula self-esteem yang dimilikinya. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan penerimaan diri sebagai landasan psikologis bagi mahasiswa gap year dalam membangun harga diri yang lebih stabil.</p> <p><em>Students undergoing a gap year are vulnerable to psychological pressure in the form of social comparison, academic insecurity, and social stigma that may lower their self-evaluation. Self-acceptance is presumed to be an important factor shaping self-esteem in this group. This study aims to determine the relationship between self-acceptance and self-esteem among students who have undergone a gap year in Medan City. A quantitative correlational design was used. The sample consisted of 364 students selected through purposive sampling, with the minimum sample size determined using the Isaac and Michael table. Data were collected using two Likert-type scales: a self-acceptance scale developed from Berger's (2003) nine aspects and a self-esteem scale adapted from the Rosenberg Self-Esteem Scale (Rosenberg, 1965). Data were analyzed using Spearman's correlation because the data were not normally distributed. Results showed a correlation coefficient of r = 0.575 with a significance of p = 0.000 (p < 0.05), indicating a significant, moderately strong positive relationship between self-acceptance and self-esteem. This means that the higher the self-acceptance of gap year students, the higher their self-esteem. These findings underscore the importance of strengthening self-acceptance as a psychological foundation for gap year students in building more stable self-esteem.</em></p>Angel Agustina SimanjuntakFreddy Butarbutar
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA DRIVER OJEK ONLINE PEREMPUAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24782
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan pengambilan keputusan pada driver ojek online perempuan. Self-efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengorganisasi dan melaksanakan tindakan guna mencapai suatu tujuan, sedangkan pengambilan keputusan merupakan proses kognitif dan perilaku individu dalam memilih salah satu alternatif terbaik dari beberapa pilihan yang tersedia. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 50 driver ojek online perempuan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua alat ukur, yaitu General Self-Efficacy Scale (GSE) yang dikembangkan oleh Schwarzer dan Jerusalem (1995) untuk mengukur self-efficacy, dan General Decision-Making Style (GDMS) yang dikembangkan oleh Scott dan Bruce (1995) untuk mengukur pengambilan keputusan. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, uji linearitas, dan uji hipotesis menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi r = 0,426 dengan signifikansi p = 0,002 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-efficacy dengan pengambilan keputusan pada driver ojek online perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki, maka semakin baik pula kemampuan pengambilan keputusan, dan sebaliknya. Sebagian besar partisipan berada pada kategori self-efficacy sedang (96%) dan pengambilan keputusan sedang (98%). Hasil ini mendukung hipotesis penelitian (H1) yang menyatakan adanya hubungan positif antara self-efficacy dengan pengambilan keputusan pada driver ojek online perempuan.</p> <p style="margin: 0in; text-align: justify; text-indent: -.1pt;"><em>This study aims to examine the relationship between self-efficacy and decision-making among female online motorcycle taxi drivers. Self-efficacy refers to an individual’s belief in their ability to organize and carry out actions to achieve a goal, while decision-making is the cognitive and behavioral process by which an individual selects the best alternative from several available options. This study employs a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 50 female online motorcycle taxi drivers selected using purposive sampling. Data collection was conducted using two measurement instruments: the General Self-Efficacy Scale (GSE), developed by Schwarzer and Jerusalem (1995) to measure self-efficacy, and the General Decision-Making Style (GDMS), developed by Scott and Bruce (1995) to measure decision-making. Data analysis was performed through normality tests, linearity tests, and hypothesis testing using Pearson’s Product-Moment correlation. The results of the study showed a correlation coefficient of r = 0.426 with a significance level of p = 0.002 (p < 0.05), indicating a significant positive relationship between self-efficacy and decision-making among female online motorcycle taxi drivers. This suggests that the higher the level of self-efficacy, the better the decision-making ability, and vice versa. Most participants fell into the moderate self-efficacy (96%) and moderate decision-making (98%) categories. These results support research hypothesis (H1), which states that there is a positive relationship between self-efficacy and decision-making among female online motorcycle taxi drivers.</em></p>Muhammad Luthfi Bachrul IlmiEmmanuel Satyo Yuwono
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087HUBUNGAN ANTARA INSOMNIA DENGAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF PADA MAHASISWA UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24471
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi insomnia pada mahasiswa yang berpotensi memengaruhi fungsi kognitif, konsentrasi, daya ingat, dan aktivitas akademik sehari-hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa insomnia diduga berkaitan dengan capaian akademik mahasiswa yang direpresentasikan melalui Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara insomnia dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 128 mahasiswa aktif Universitas Kristen Satya Wacana yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Insomnia Severity Index (ISI) yang dikembangkan oleh Morin dan telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia untuk mengukur tingkat keparahan insomnia, sedangkan data IPK diperoleh dari laporan IPK terakhir yang dicantumkan oleh responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan bantuan SPSS versi 27 karena salah satu variabel tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara insomnia dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pencapaian akademik mahasiswa kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti motivasi belajar, kemampuan akademik, manajemen waktu, strategi belajar, dan regulasi diri.</p> <p><em>This study was motivated by the high prevalence of insomnia among university students, which may affect cognitive functioning, concentration, memory, and daily academic activities. Previous studies have suggested that insomnia may be associated with academic achievement, as reflected in Grade Point Average (GPA). This study aimed to examine the relationship between insomnia and Grade Point Average (GPA) among students at Satya Wacana Christian University. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The participants consisted of 128 active students at Satya Wacana Christian University selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Insomnia Severity Index (ISI), developed by Morin and adapted into Indonesian to measure the severity of insomnia, while GPA data were obtained from the participants' most recent self-reported GPA. Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test with SPSS version 27 because one of the variables was not normally distributed. The findings indicated that there was no significant relationship between insomnia and Grade Point Average (GPA) among students at Satya Wacana Christian University. These findings suggest that students' academic achievement is likely influenced by factors other than insomnia, such as learning motivation, academic ability, time management, learning strategies, and self-regulation. </em></p>Nathasya Aurelia Kirana WilliamMaria Prima Novita
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087HUBUNGAN ANTARA SOCIAL COMPARISON DAN SELF-ESTEEM PADA SISWA SMA PENGGUNA MEDIA SOSIAL TIKTOK
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24696
<p>Meningkatnya penggunaan media sosial TikTok di kalangan remaja memungkinkan terjadinya social comparison melalui paparan konten penampilan, prestasi, dan gaya hidup orang lain. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan tingkat self-esteem remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison dan self-esteem pada siswa SMA pengguna media sosial TikTok. Pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional diterapkan dalam penelitian ini. Sampel berjumlah 88 siswa SMA yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Social Comparison dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Analisis data menggunakan teknik korelasi Spearman Rank karena hasil uji asumsi menunjukkan hubungan antarvariabel tidak linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara social comparison dan self-esteem pada siswa SMA pengguna media sosial TikTok (r = 0,079; p = 0,463; p > 0,05), sehingga hipotesis penelitian ditolak. Temuan ini menunjukkan bahwa social comparison tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan self-esteem pada siswa SMA pengguna media sosial TikTok. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa self-esteem remaja kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. </p>Dwi Angel Grace Natalia SihombingKarina Meriem Beru Brahmana
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087WORK ENGAGEMENT DAN KINERJA KARYAWAN TOKO PADA PT. X
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/24317
<p><em>The modern retail industry in Indonesia faces intense competition, making the quality of human resources a key factor in business sustainability. One issue identified among store employees at PT. X is suboptimal performance, reflected in operational errors such as stock discrepancies, inaccuracies in product display, and lack of friendliness toward customers, which is presumed to be related to employees' level of work engagement. This study aims to examine the relationship between work engagement and employee performance among store employees at PT. X. This study used a quantitative method with a correlational design. The participants consisted of 172 store employees of PT. X selected through purposive sampling technique. Data were collected using the Utrecht Work Engagement Scale (UWES) to measure work engagement and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) to measure employee performance. Data analysis was conducted using Pearson Product Moment correlation with the assistance of IBM SPSS Statistics version 27. The results showed a significant positive relationship between work engagement and employee performance among store employees at PT. X. These findings indicate that the higher the work engagement possessed by employees, the higher their performance tends to be. </em></p> <p>Industri retail modern di Indonesia menghadapi persaingan yang ketat, sehingga kualitas sumber daya manusia menjadi hal penting keberlangsungan perusahaan. Salah satu permasalahan yang ditemukan pada karyawan toko PT. X adalah rendahnya kinerja yang ditunjukkan melalui kesalahan operasional seperti selisih stock opname, ketidaktelitian display barang, dan kurangnya keramahan terhadap pelanggan, yang memiliki kaitan dengan tingkat keterikatan kerja (work engagement) karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara work engagement dan kinerja karyawan toko pada PT. X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 172 karyawan toko PT. X yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Utrecht Work Engagement Scale (UWES) untuk mengukur work engagement dan skala Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) untuk mengukur kinerja karyawan. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan program IBM SPSS Statistics versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara work engagement dan kinerja karyawan toko PT. X. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi work engagement yang dimiliki karyawan, maka semakin tinggi pula kinerja yang ditunjukkan.</p>Dwi Natalie Priscilla Margareth TurnipMaria Prima Novita
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-07-302026-07-3087