Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi
id-IDPsikofusi: Jurnal Psikologi IntegratifHUBUNGAN ADIKSI GAME MOBILE LEGENDS DAN PERILAKU AGRESI VERBAL PADA REMAJA AKHIR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22305
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara adiksi Game Mobile Legends dan perilaku agresi verbal pada remaja akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Subjek penelitian merupakan remaja akhir pengguna Game Mobile Legends. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan pengumpulan data melalui kuesioner skala adiksi Game dan skala agresi verbal. Analisis data dilakukan menggunakan teknik Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara adiksi Game Mobile Legends dan perilaku agresi verbal pada remaja akhir dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,659 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat adiksi Game Mobile Legends, maka semakin tinggi pula kecenderungan perilaku agresi verbal pada remaja akhir. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa penggunaan Game Online secara berlebihan dapat mempengaruhi pengendalian emosi dan pola komunikasi remaja sehingga diperlukan pengawasan, pengendalian diri, serta edukasi mengenai penggunaan Game Online secara sehat.</p> <p><em>This study aimed to determine the relationship between Mobile Legends game addiction and verbal aggressive behavior in late adolescents. This research used a quantitative method with a correlational approach. The participants were late adolescents who played Mobile Legends. The sampling technique used purposive sampling, and the data were collected through questionnaires consisting of a game addiction scale and a verbal aggression scale. Data analysis was conducted using the Spearman Rank Correlation technique. The results showed a significant positive relationship between Mobile Legends game addiction and verbal aggressive behavior in late adolescents, with a correlation coefficient value of 0.659 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). These findings indicate that the higher the level of Mobile Legends game addiction, the higher the tendency of verbal aggressive behavior among late adolescents. This study implies that excessive online gaming can affect adolescents’ emotional control and communication patterns, therefore supervision, self-control, and education regarding healthy online game use are needed.</em></p>Gabriel Dicki HermawanEnjang Wahyuningrum
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085PERILAKU PROSOSIAL MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM TRADISI MARSIADAPARI DI DESA SIRINGORINGO SUMATERA UTARA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/21801
<p>Penelitian ini berfokus pada tradisi marsiadapari dalam masyarakat Batak Toba di Desa Siringoringo sebagai bentuk budaya gotong royong yang menumbuhkan perilaku prososial melalui aktivitas saling membantu dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku prososial masyarakat Batak Toba dalam tradisi marsiadapari serta memahami faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan masyarakat dalam tradisi tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif dan makna perilaku prososial yang dimaknai oleh partisipan. Partisipan penelitian terdiri dari tiga informan kunci masyarakat Batak Toba di Desa Siringoringo, Sumatera Utara, yaitu tokoh adat, petani, dan ketua pemuda desa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur, direkam dengan persetujuan partisipan, kemudian ditranskripsikan ke dalam bentuk verbatim untuk dianalisis. Analisis data dilakukan menggunakan analisis fenomenologis melalui proses membaca keseluruhan data, mengidentifikasi pernyataan penting, mengelompokkan tema-tema pengalaman partisipan, dan menyusun makna pengalaman terkait perilaku prososial dalam tradisi marsiadapari. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking dengan mengonfirmasi kembali hasil wawancara kepada partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku prososial dalam tradisi marsiadapari tercermin melalui tindakan saling membantu, bekerja sama, berbagi tenaga, dan memberikan dukungan sosial kepada sesama anggota masyarakat. Perilaku tersebut terbentuk melalui internalisasi nilai budaya Batak Toba, hubungan kekerabatan, solidaritas sosial, dan prinsip timbal balik dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan masyarakat dalam marsiadapari tidak sepenuhnya didasarkan pada motivasi altruistik, tetapi turut dipengaruhi oleh kewajiban moral, norma adat, harapan sosial, dan tekanan sosial dalam komunitas, seperti rasa sungkan, takut dinilai negatif, dan kekhawatiran dikucilkan dari lingkungan sosial. Selain itu, modernisasi mulai memengaruhi keberlangsungan tradisi marsiadapari melalui menurunnya partisipasi generasi muda dan bergesernya praktik gotong royong menjadi hubungan kerja berbasis upah. Dengan demikian, marsiadapari tidak hanya berfungsi sebagai sistem gotong royong masyarakat Batak Toba, tetapi juga menjadi fenomena sosial yang kompleks karena dipengaruhi oleh nilai budaya, relasi sosial, norma komunitas, dan perubahan sosial modern.</p>Hanna MarbunWahyuni Kristinawati
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085HUBUNGAN WORK-LIFE BALANCE DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA KARYAWAN RUMAH SAKIT AT-TIN BAWEN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22255
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Work-life Balance dengan Kinerja Karyawan pada karyawan Rumah Sakit At-Tin Bawen. Work-life Balance merupakan kemampuan individu dalam menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi secara proporsional, sedangkan Kinerja Karyawan merupakan hasil kerja yang dicapai individu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Rumah Sakit At-Tin Bawen yang berjumlah 135 orang dengan teknik satturation sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala Work-life Balance dari Fisher, Bulger, dan Smith (2009) serta skala Kinerja Karyawan menggunakan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) dari Koopmans (2014). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi non-parametrik Spearman’s Rank Correlation karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Work-life Balance dengan Kinerja Karyawan dengan nilai signifikansi sebesar p = 0,000 (p < 0,01) dan koefisien korelasi sebesar 0,563, dengan arah hubungan positif. Artinya, semakin tinggi Work-life Balance yang dimiliki karyawan, maka semakin tinggi pula Kinerja Karyawan yang ditunjukkan. Sebaliknya, semakin rendah Work-life Balance, maka Kinerja Karyawan cenderung menurun. Penelitian ini menunjukkan bahwa Work-life Balance merupakan salah satu faktor penting yang berkaitan dengan peningkatan Kinerja Karyawan. Oleh karena itu, organisasi disarankan untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi karyawan guna meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja secara optimal.</p>Annisa Martha WulandariMaria Prima Novita
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085PENGARUH SOCIAL COMPARISON TERHADAP FEAR OF MISSING OUT (FOMO) PADA GENERASI Z PENGGUNA MEDIA SOSIAL DI JAWA TENGAH
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22170
<p>Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh social comparison terhadap fear of missing out (FOMO) pada Generasi Z pengguna media sosial di Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengaan desain cross-sectional pada 275 mahasiswa Gen Z. Data dikumpulkan menggunakan skala INCOM dan ON-FoMO yang terbukti reliabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social comparison berpengaruh positif dan signifikan terhadap FOMO. Dengan kata lain, semakin kuat kecenderunan individu melakukan social comparison, semakin tinggi pula tingkat FOMO yang di alami. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran perbandingan sosial dalam memicu FOMO di era digital.</p> <p><em> This study aims to determine the effect of social comparison on fear of missing out (FOMO) among Generation Z social media users in Central Java. The method used was quantitative with a cross-sectional design on 275 Gen Z students. Data were collected using the INCOM and ON-FoMO scales, which have been proven reliable. The results show that social comparison has a positive and significant effect on FOMO. In other words, the stronger an individual's tendency to engage in social comparison, the higher the level of FOMO they experience. This study emphasizes the important role of social comparison in triggering FOMO in the digital era.</em></p>Listiana Lodasari
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085HUBUNGAN ANTARA ACTIVITIES OF DAILY LIVING DENGAN CAREGIVER BURDEN PADA ORANG TUA DENGAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH LUAR BIASA (SLB)
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22123
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami faktor-faktor yang mempengaruhi caregiver burden pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, khususnya yang berkaitan dengan tingkat kemandirian anak dalam aktivitas sehari-hari atau Activities of daily Living (ADL). penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ADL dengan caregiver burden. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan deskriptif korelasional. Subjek penelitian ini adalah orang tua dari anak berkebutuhan khusus di SLB YPAC Surakarta dan SLB Harmoni dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Barthel Index untuk mengukur ADL dan Zarit Burden Interview (ZBI) untuk mengukur caregiver burden. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ADL dengan caregiver burden (p > 0,05) dengan kekuatan hubungan yang sangat kemah. Selain itu, nilai koefisiensi determinasi menunjukan bahwa ADL hanya memberikan kontribusi sebesar 2,8% terhadap caregiver burden. Temuan ini mengindikasikan bahwa caregiver burden merupakan fenomena kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain diluar kemandirian aktivitas sehari-hari anak. Implikasi dari penelitian ini menunjukan pentingnya mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, dan lingkungan dalam upaya memahami dan mengurangi beban caregiver.</p> <p><em>This study is motivated by the importance of understanding factors influencing caregiver burden among parents of children with special needs, particularly in relation to the child’s level of independence in Activities of Daily Living (ADL). The study aims to examine the relationship between ADL and caregiver burden. A quantitative method with a descriptive correlational design was employed. The participants were parents of children with special needs from SLB YPAC Surakarta and SLB Harmoni, selected using purposive sampling. The instruments used were the Barthel Index to measure ADL and the Zarit Burden Interview (ZBI) to assess caregiver burden. Data were analyzed using Spearman correlation. The results indicated that there was no significant relationship between ADL and caregiver burden (p > 0.05), with a very weak correlation strength. Furthermore, the coefficient of determination showed that ADL contributed only 2.8% to caregiver burden. These findings suggest that caregiver burden is a complex and multidimensional phenomenon influenced by various factors beyond the child’s functional independence. The implications highlight the importance of considering psychological, social, and environmental aspects in understanding and reducing caregiver burden.</em></p>Kevin Putra SetiawanDewita Karema Sarajar
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085PENGARUH LOCUS OF CONTROL INTERNAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN GEN Z DI PT.X
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/21982
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh locus of control internal terhadap kinerja karyawan Gen Z di PT. X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linier sederhana. Sampel penelitian berjumlah 133 karyawan Gen Z yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala kinerja karyawan berdasarkan Griffin et al. (2007) dan skala locus of control internal dari Levenson (1973), yang keduanya telah memenuhi uji reliabilitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa locus of control internal berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (β = 0,634; p < 0,01). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi locus of control internal, maka semakin tinggi pula kinerja karyawan. Temuan ini mengindikasikan bahwa keyakinan individu terhadap kendali diri berperan penting dalam meningkatkan tanggung jawab dan performa kerja, khususnya pada karyawan Gen Z.</p> <p><em> This study aims to examine the effect of internal locus of control on the performance of Generation Z employees at PT. X. This research used a quantitative approach with a simple linear regression design. The sample consisted of 133 Generation Z employees selected using purposive sampling. The instruments used were the employee performance scale based on Griffin et al. (2007) and the internal locus of control scale developed by Levenson (1973), both of which met reliability standards. The results showed that internal locus of control has a positive and significant effect on employee performance (β = 0.634; p < 0.01). This indicates that higher internal locus of control is associated with higher employee performance. These findings suggest that individuals’ belief in personal control plays an important role in enhancing responsibility and work performance, particularly among Generation Z employees.</em></p>Nadya Reza RenandaMaria Prima Novita
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085HUBUNGAN SELF-ESTEEM DAN IMPULSIVE BUYING PADA MAHASISWA PENGGUNA FITUR PAYLATER DI ONLINE SHOP
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22268
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan fitur paylater pada platform online shop yang memberikan kemudahan transaksi, namun juga berpotensi mendorong perilaku impulsive buying pada mahasiswa. Salah satu faktor psikologis yang diduga memengaruhi perilaku tersebut adalah self-esteem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dan impulsive buying pada mahasiswa pengguna fitur paylater di online shop. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 100 mahasiswa aktif berusia 18–25 tahun di Indonesia yang menggunakan fitur paylater minimal satu kali dalam tiga bulan terakhir. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode snowball sampling. Data dikumpulkan menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia untuk mengukur self-esteem dan Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia untuk mengukur impulsive buying. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 24. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-esteem dan impulsive buying (r = -0,220; p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi self-esteem mahasiswa, maka kecenderungan impulsive buying semakin rendah, dan sebaliknya. Self-esteem memberikan sumbangan efektif sebesar 4,84% terhadap impulsive buying, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Temuan ini menunjukkan bahwa self-esteem berperan sebagai faktor internal yang bersifat protektif dengan kontribusi yang relatif kecil dalam mengurangi perilaku impulsive buying pada mahasiswa pengguna fitur paylater. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan edukasi pengelolaan keuangan dan penguatan aspek psikologis mahasiswa agar lebih bijak dalam menggunakan layanan kredit digital.</p> <p><em>This study is motivated by the increasing use of the paylater feature in online shopping platforms, which provides convenience in transactions but also has the potential to encourage impulsive buying behavior among university students. One psychological factor that is assumed to influence this behavior is self-esteem. This study aims to examine the relationship between self-esteem and impulsive buying among students who use the paylater feature in online shopping platforms. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 100 active university students aged 18–25 years in Indonesia who had used the paylater feature at least once within the last three months. The sampling technique used was non-probability sampling with a snowball sampling method. Data were collected using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), which has been adapted into Indonesian, to measure self-esteem and the Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS), which has also been adapted into Indonesian, to measure impulsive buying. Data analysis was conducted using the Pearson Product Moment correlation with the assistance of SPSS version 24. The results showed a significant negative relationship between self-esteem and impulsive buying (r = -0.220; p < 0.05). These findings indicate that higher levels of self-esteem are associated with lower tendencies of impulsive buying among students, and vice versa. Self-esteem contributed 4.84% to impulsive buying behavior, while the remaining variance was influenced by other factors beyond the scope of this study. These findings suggest that self-esteem functions as an internal protective factor with a relatively small contribution in reducing impulsive buying behavior among students who use paylater services. This study is expected to contribute to the development of financial education and psychological empowerment programs to encourage more responsible use of digital credit services among students.</em></p>FatimatuzzahraMargaretta Erna Setianingrum
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085HUBUNGAN ANTARA MENTAL TOUGHNESS DENGAN KECEMASAN BERTANDING PADA ATLET BELA DIRI KARATE
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22245
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tuntutan psikologis yang tinggi pada atlet bela diri karate, khususnya pada tingkat sabuk coklat yang berada pada fase transisi menuju tingkat yang lebih tinggi, sehingga sering mengalami kecemasan bertanding. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara mental toughness dengan kecemasan bertanding pada atlet bela diri karate sabuk coklat yang pernah mengikuti pertandingan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Subjek penelitian berjumlah 99 atlet karate sabuk coklat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Mental Toughness Index (MTI) untuk mengukur mental toughness dan Sport Anxiety Scale (SAS) untuk mengukur kecemasan bertanding. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara mental toughness dengan kecemasan bertanding dengan nilai korelasi r = -0,267 dan signifikansi p = 0,008 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi mental toughness yang dimiliki atlet, maka semakin rendah kecemasan bertanding yang dialami, dan sebaliknya. Secara umum, mental toughness dan kecemasan bertanding pada subjek penelitian berada pada kategori sedang. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa mental toughness memiliki peran penting dalam membantu atlet mengelola tekanan psikologis saat menghadapi pertandingan. Oleh karena itu, peningkatan mental toughness perlu menjadi perhatian dalam pembinaan atlet untuk membantu mengurangi kecemasan bertanding dan meningkatkan performa atlet.</p> <p><em> This study was conducted due to the high psychological demands experienced by karate athletes, particularly brown belt athletes who are in a transitional stage toward higher levels and often experience competitive anxiety. The aim of this study was to examine the relationship between mental toughness and competitive anxiety among brown belt karate athletes who have participated in competitions. This research used a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 99 brown belt karate athletes. Data were collected using the Mental Toughness Index (MTI) to measure mental toughness and the Sport Anxiety Scale (SAS) to measure competitive anxiety. Data analysis was conducted using Pearson correlation analysis with SPSS software. The results revealed a significant negative relationship between mental toughness and competitive anxiety, with a correlation coefficient of r = -0.267 and a significance value of p = 0.008 (p < 0.05). These findings indicate that higher levels of mental toughness are associated with lower levels of competitive anxiety, and vice versa. Overall, both mental toughness and competitive anxiety among the participants were in the moderate category. The results suggest that mental toughness plays an important role in helping athletes manage psychological pressure during competitions. Therefore, developing mental toughness should be considered an essential aspect of athlete training programs to reduce competitive anxiety and improve athletic performance.</em></p>Nova Elisa FitriWahyuni Kristinawati
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085PERBEDAAN RENTANG ATENSI ANTARA SISWA SMP KOTA KUDUS DAN SALATIGA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22133
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rentang atensi siswa usia 12–15 tahun menggunakan Digit Span Test. Rentang atensi penting dalam proses pembelajaran karena berkaitan dengan kemampuan memori kerja dan fokus siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Subjek penelitian adalah siswa usia 12–13 tahun dan 14–15 tahun. Data dikumpulkan menggunakan Digit Span Test dan dianalisis dengan statistik deskriptif serta uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang sebesar 70,0%, diikuti kategori tinggi 24,5% dan kategori rendah 5,5%. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,046 (p < 0,05) yang mengindikasikan adanya perbedaan rentang atensi antar kelompok yang diteliti. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan perhatian siswa masih berada pada tingkat moderat serta dipengaruhi oleh faktor perkembangan usia dan lingkungan belajar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pembelajaran yang mendukung peningkatan fokus siswa.</p> <p><em>This study aimed to determine differences in attention span among students aged 12–15 years using the Digit Span Test. Attention span plays an important role in learning as it relates to working memory and students’ focus. This research used a quantitative approach with a comparative design. The participants were students aged 12–13 years and 14–15 years. Data were collected using the Digit Span Test and analyzed using descriptive statistics and the Mann-Whitney test. The results showed that most students were in the moderate category (70.0%), followed by high (24.5%) and low (5.5%) categories. The Mann-Whitney test showed a significance value of 0.046 (p < 0.05), indicating a difference in attention span between the groups studied. These findings indicate that students’ attention abilities are at a moderate level and influenced by developmental age and learning environment. The results are expected to provide a basis for developing learning strategies to improve students’ focus.</em></p>Felicia Stella AngelitaRudangta Arianti Sembiring
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA PADA KARYAWAN DI PT X
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/pjpi/article/view/22023
<p>Kinerja karyawan merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan organisasi, khususnya pada industri manufaktur yang memiliki tuntutan kerja tinggi. Salah satu faktor psikologis yang berperan dalam meningkatkan kinerja karyawan adalah kecerdasan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja karyawan di PT X, perusahaan manufaktur garmen yang berlokasi di Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap karyawan bagian produksi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa skala kecerdasan emosional dan skala kinerja karyawan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja karyawan. Temuan ini mengindikasikan bahwa karyawan dengan kecerdasan emosional yang baik mampu mengelola emosi, beradaptasi terhadap tekanan kerja, serta menunjukkan kinerja yang optimal. Dengan demikian, kecerdasan emosional menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya manusia di industri manufaktur.</p> <p><em> Employee performance is an important factor in supporting organizational success, especially in the manufacturing industry which has high work demands. One of the psychological factors that plays a role in improving employee performance is emotional intelligence. This research aims to determine the effect of emotional intelligence on employee performance at PT X, a garment manufacturing company located in Semarang Regency. This research uses a quantitative approach with a survey method of production employees selected using a purposive sampling technique. The research instruments are an emotional intelligence scale and an employee performance scale. Data analysis was carried out using simple linear regression with the help of the SPSS program. The research results show that emotional intelligence has a significant and positive effect on employee performance. These findings indicate that employees with good emotional intelligence are able to manage emotions, adapt to work pressure, and show optimal performance. Thus, emotional intelligence is an important factor that needs to be considered in managing human resources in the manufacturing industry.</em></p>Burhanudin FahmiMaria Prima Novita
Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif
2026-05-302026-05-3085