KETIMPANGAN PENDIDIKAN DI DAERAH TERPENCIL: ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN DAN HAMBATANNYA

Penulis

  • Adhienda Syarafina Ghaisani Universitas Negeri Surabaya
  • Prabu Gilang Hununggalan Universitas Negeri Surabaya

Kata Kunci:

Kesenjangan Pendidikan, Pelaksanaan Kebijakan, Daerah Terpencil, Pemerataan Pendidikan, Studi Pustaka

Abstrak

Kesenjangan pendidikan di wilayah terpencil tetap menjadi isu krusial dalam pembangunan pendidikan di Indonesia. Perbedaan akses, kualitas, dan ketersediaan sarana pendidikan antara daerah perkotaan dan terpencil menunjukkan bahwa usaha pemerataan pendidikan masih jauh dari kata berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan kebijakan pemerataan pendidikan serta mengidentifikasi berbagai tantangan yang memengaruhi keberhasilannya di lokasi terpencil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, yang mengeksplorasi beragam sumber seperti jurnal ilmiah, buku, dan dokumen kebijakan terkait pendidikan. Analisis dilakukan secara deskriptif berdasarkan teori pelaksanaan kebijakan dari George Edward III serta Van Meter dan Van Horn.Temuan kajian mengindikasikan bahwa pelaksanaan kebijakan pemerataan pendidikan masih menghadapi berbagai hambatan, antara lain kurangnya infrastruktur, distribusi tenaga pengajar yang tidak merata, keterbatasan sarana pendidikan, serta faktor sosial dan ekonomi masyarakat. Selain itu, aspek komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi juga memengaruhi efektivitas pelaksanaan kebijakan. Faktor eksternal seperti kondisi geografis dan kesenjangan teknologi turut mempertegas rintangan implementasi kebijakan. Dalam Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun banyak kebijakan telah disusun untuk mengatasi kesenjangan pendidikan, pelaksanaannya di lapangan belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan komunitas dalam memperbaiki efektivitas pelaksanaan kebijakan, guna mewujudkan pemerataan pendidikan yang lebih adil dan merata di seluruh penjuru Indonesia.

The disparity in education within remote regions remains a significant challenge for educational advancement in Indonesia. Variations in access, quity, and the presence of educational resources between urban centers and isolated locales highlight that endeavors to secure educational equity are still unsuccessful. This research intends to examine the execution of educational equity policies and pinpoint various obstacles that hinder their effectiveness in remote settings. Utilizing a qualitative methodology with a literature review approach, this study investigates a range of sources, including academic journals, books, and documents related to educational policy. The analysis was conducted descriptively, drawing upon the policy implementation frameworks of George Edward III and Van Meter and Van Horn. The results of the study reveal that the enforcement of educational equity policies continues to encounter numerous challenges, such as inadequate infrastructure, uneven allocation of teaching personnel, limited educational resources, and socio-economic influences. Additionally, factors like communication, resource availability, the disposition of mplementers, and bureaucratic organization also impact the success of policy execution. External aspects such as geographical positioning and technological disparities further intensify the difficulties related to policy implementation. This study concludes that despite the formulation of numerous policies aimed at addressing educational inequities, their practical application remains suboptimal. Hence, cooperation among the central government, regional authorities, and local communities is essential to enhance the efficacy of policy enactment, striving for a more just and equitable distribution of education across Indonesia.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-29