PENGARUH UPAH MINIMUM, RATA-RATA LAMA SEKOLAH, DAN STATUS KEWILAYAHAN TERHADAP JUMLAH PENDUDUK MISKIN KABUPATEN/KOTA DI TIGA PROVINSI JAWA TAHUN 2025

Penulis

  • Dina Safirah Universitas Negeri Yogyakarta

Kata Kunci:

Kemiskinan, Upah Minimum, Rata-Rata Lama Sekolah, Status Kewilayahan, Regresi Logaritmik

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Upah Minimum Kabupaten/Kota, Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), dan status kewilayahan terhadap persentase penduduk miskin di 100 kabupaten/kota pada Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur tahun 2025. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder cross-section, studi ini membandingkan dua spesifikasi model ekonometrika, yakni Ordinary Least Squares (OLS) dengan robust standard error dan model fungsional logaritmik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model logaritmik memberikan estimasi yang lebih baik dengan nilai koefisien determinasi (R-Squared) sebesar 67,59% serta terbebas dari masalah heteroskedastisitas dibandingkan model dasar OLS (62,48%). Berdasarkan analisis pada kedua model, RLS terbukti secara konsisten memiliki pengaruh negatif dan signifikan dalam menurunkan persentase penduduk miskin. Sementara itu, upah minimum belum memberikan pengaruh yang signifikan secara nominal pada model OLS, namun menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan ketika diestimasi menggunakan pendekatan persentase elastisitas pada model logaritmik. Di sisi lain, variabel dummy status kewilayahan tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan pada seluruh model. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa akumulasi modal manusia melalui pendidikan formal merupakan instrumen paling krusial dalam pengentasan kemiskinan, sedangkan pembagian administratif antara wilayah kabupaten dan kota sudah tidak lagi menjadi pengaruh utama variasi kemiskinan di tiga provinsi utama Pulau Jawa pada tahun 2025.

This study aims to analyze the effect of the Regency/City Minimum Wage, Mean Years of Schooling (RLS), and regional status on the percentage of the poor population across 100 regencies/cities in West Java, Central Java, and East Java Provinces in 2025. Employing a quantitative approach with cross-sectional secondary data, this study compares two econometric specifications: Ordinary Least Squares (OLS) with robust standard errors and a logarithmic functional model. The empirical results demonstrate that the logarithmic model provides a better estimation with a coefficient of determination (R-Squared) of 67.59% and is free from heteroskedasticity issues compared to the baseline OLS model (62.48%). Based on both models, RLS consistently exhibits a significant negative effect on reducing the poverty percentage. Meanwhile, the minimum wage does not show a significant effect nominally in the OLS model, but it demonstrates a significant negative impact when estimated using the elasticity percentage approach in the logarithmic model. On the other hand, the regional status dummy variable is proven to be insignificant in affecting the poverty level across all models. This study concludes that the accumulation of human capital through formal education is the most crucial instrument for poverty alleviation, while the administrative dichotomy between regencies and urban cities is no longer a primary determinant of poverty variation in the three main provinces of Java Island in 2025.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-30