HUBUNGAN ANTARA SOSIAL BUDAYA DAN PERSEPSI IBU DENGAN PEMBERIAN IMUNISASI DPT-HB-HiB PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MUARA ANCALONG
Kata Kunci:
Sosial Budaya, Persepsi Ibu, Imunisasi Dpt-Hb-Hib, BayiAbstrak
Latar Belakang: Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib (DPT3) secara nasional pada tahun 2023 baru mencapai 67%, masih di bawah target global sebesar 90%. Di wilayah kerja BLUD Puskesmas Muara Ancalong, cakupan imunisasi DPT-HB-Hib pada tahun 2024 hanya mencapai 59,46%, yang merupakan angka terendah dibandingkan jenis imunisasi lainnya. Rendahnya cakupan ini diduga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti norma sosial budaya serta faktor internal berupa persepsi ibu mengenai manfaat dan efek samping vaksin. Tujuan: Diketahuinya hubungan antara sosial budaya dan persepsi ibu dengan pemberian imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi di wilayah kerja BLUD Puskesmas Muara Ancalong. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasional analitik. Populasi penelitian adalah ibu yang memiliki bayi usia 11-18 bulan di wilayah kerja BLUD Puskesmas Muara Ancalong, dengan pengambilan sampel 66 orang menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, serta verifikasi catatan imunisasi. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada dalam lingkungan sosial budaya yang tidak mendukung (53,0%) dan mayoritas memiliki persepsi positif (54,5%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sosial budaya dengan pemberian imunisasi (p-value < 0,05) dan hubungan yang signifikan antara persepsi ibu dengan pemberian imunisasi DPT-HB-Hib (p-value = 0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor sosial budaya dan persepsi ibu dengan pemberian imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi. Saran diperlukan pendekatan berbasis kearifan lokal, pelibatan tokoh masyarakat, serta edukasi yang lebih intensif untuk memperbaiki persepsi negatif dan hambatan budaya guna meningkatkan cakupan imunisasi.
Background: National DPT-HB-Hib (DPT3) immunization coverage in 2023 reached only 67%, remaining below the global target of 90%. In the working area of BLUD Muara Ancalong Public Health Center, DPT-HB-Hib immunization coverage in 2024 was only 59.46%, the lowest among all immunization types. This low coverage is suspected to be influenced by external factors such as sociocultural norms, as well as internal factors including maternal perceptions of vaccine benefits and side effects. Objective: This study aimed to determine the relationship between sociocultural factors and maternal perception with DPT-HB-Hib immunization administration in infants in the working area of BLUD Muara Ancalong Public Health Center. Methods: This quantitative study employed an observational analytic design. The study population consisted of mothers with infants aged 11–18 months in the working area of BLUD Muara Ancalong Public Health Center. A sample of 66 mothers was selected using purposive sampling. Data were collected using a validated and reliable questionnaire, along with verification of immunization records. Bivariate analysis was performed using the Chi-Square test. Results: The findings showed that the majority of respondents were in an unsupportive sociocultural environment (53.0%), while most mothers had positive perceptions (54.5%). Statistical analysis revealed a significant relationship between sociocultural factors and immunization administration (p-value < 0.05), as well as a significant relationship between maternal perception and DPT-HB-Hib immunization administration (p-value = 0.000). Conclusion: There is a significant relationship between both sociocultural factors and maternal perception with DPT-HB-Hib immunization administration in infants. A culturally sensitive approach involving community leaders, along with more intensive health education, is needed to address negative perceptions and cultural barriers in order to improve immunization coverage.




