PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BAHASA BALI MELALUI KEGIATAN LES UNTUK INTERNALISASI NILAI BUDAYA LOKAL PADA ANAK USIA SEKOLAH DI SD NEGERI 4 SULAHAN
Kata Kunci:
Bahasa Bali, Pembelajaran Dasar, Balai Banjar, Permainan Edukatif, Peningkatan Kemampuan MembacaAbstrak
Kegiatan les Bahasa Bali yang dilaksanakan di Balai Banjar Alisbintang bertujuan untuk membantu siswa sekolah dasar meningkatkan kemampuan dasar dalam membaca dan menulis Bahasa Bali melalui pendekatan pembelajaran yang sederhana, menyenangkan, dan tidak membebani. Pada tahap awal, siswa masih memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dalam mengenali huruf serta menuliskan kosa kata dasar. Namun melalui kegiatan ceramah interaktif, latihan (drill), dan permainan edukatif, siswa menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Mereka mulai lebih lancar membaca, mampu menyebutkan kosa kata baru, serta lebih percaya diri dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Suasana belajar yang santai di balai banjar turut memberikan kenyamanan bagi siswa sehingga mereka lebih mudah memahami materi. Selain peningkatan kemampuan akademik, kegiatan ini juga berdampak positif pada keaktifan, kerja sama, dan motivasi belajar siswa. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman dan lingkungan sekitar dapat menjadi alternatif efektif dalam pengajaran Bahasa Bali bagi siswa sekolah dasar. Kegiatan ini juga berperan dalam menumbuhkan minat siswa terhadap bahasa dan budaya daerah.
The Balinese language tutoring program conducted at Balai Banjar Alisbintang aimed to support elementary school students in improving their basic reading and writing skills in Balinese through simple, enjoyable, and non-burdensome learning activities. In the initial stages, students required time to adjust to recognizing letters and writing basic vocabulary. However, through interactive lectures, drill practices, and educational games, students showed significant progress. They became more fluent in reading, were able to recall new vocabulary, and demonstrated greater confidence in participating in learning activities. The relaxed learning atmosphere at the balai banjar also contributed to students’ comfort, making it easier for them to understand the material. Beyond academic improvement, the program positively influenced students’ activeness, cooperation, and motivation to learn. The results indicate that an experiential and environment-based approach can serve as an effective alternative in teaching the Balinese language to elementary students. Moreover, this activity plays a role in fostering students’ interest in local language and culture.



