EKSPLORASI GENRE MUSIK UNTUK LITERASI AUDITORI SISWA KELAS 10 DKV SMK NEGERI 4 KUPANG
Kata Kunci:
Literasi Auditori, Genre Musik, Nol Basis Musik, Pembelajaran Audio-Visual, Kurikulum Merdeka, DKV SMKAbstrak
Penelitian ini mendeskripsikan dan merefleksikan implementasi pembelajaran eksplorasi genre musik sebagai strategi meningkatkan literasi auditori siswa kelas 10 jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Negeri 4 Kupang yang awalnya belum memiliki pengetahuan dasar seni musik (Kemdikbud, 2023). Kondisi kelas yang didominasi oleh siswa yang hanya mengenal lagu-lagu viral secara pasif menjadi latar penting bagi inovasi pembelajaran (Septiani, 2024). Metode pembelajaran menggunakan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan audio-visual yang mengintegrasikan praktik analisis bertahap selama enam pertemuan (90 menit/pertemuan) (Sugiyono, 2018). Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, dokumentasi aktivitas kelas, penugasan reflektif satu kali untuk presentasi, serta asesmen standar kualitatif (Sari & Anggraeni, 2025). Contoh lagu dari berbagai genre musik Indonesia seperti Manusia Kuat oleh Tulus (pop inspiratif), Januari oleh Glenn Fredly (R&B/soul melankolis), Terlalu Manis oleh Slank (rock alternatif), dan Dunia Tipu-Tipu oleh Yura Yunita (pop kontemporer) digunakan sebagai bahan latihan dan analisis. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa hingga pertemuan ke-6 sekitar 80% siswa mampu mengidentifikasi genre musik hanya dengan mendengar audio tanpa melihat judul lagu, dengan peningkatan keaktifan, kolaborasi, serta kepercayaan diri saat presentasi (Shah et al., 2024). Kendala awal berupa keterbatasan fasilitas audio berhasil diatasi dengan kolaborasi perangkat sekolah dan laptop mahasiswa PPL (Kusuma et al., 2023). Disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis audio-visual yang dilengkapi refleksi dan presentasi merupakan model efektif memperkuat literasi auditori lintas genre bagi siswa SMK dengan profil nol basis musik (Wahyudi & Nuraini, 2025). Rekomendasi penguatan fasilitas audio serta pengembangan proyek seni berbasis budaya lokal Nusa Tenggara Timur diajukan untuk pengayaan pembelajaran selanjutnya.
This study describes and reflects on the implementation of music genre exploration learning as a strategy to improve the auditory literacy of 10th grade students majoring in Visual Communication Design (DKV) at SMK Negeri 4 Kupang who initially had no basic knowledge of music (Kemdikbud, 2023). The class conditions, dominated by students who only passively knew viral songs, became an important backdrop for learning innovation (Septiani, 2024). The learning method used the Merdeka Curriculum with an audio-visual approach that integrated step-by-step analysis practices during six meetings (90 minutes/meeting) (Sugiyono, 2018). Data collection techniques included participatory observation, documentation of classroom activities, a one-time reflective assignment for presentation, and a qualitative standard assessment (Sari & Anggraeni, 2025). Examples of songs from various Indonesian music genres, such as Manusia Kuat by Tulus (inspirational pop), Januari by Glenn Fredly (melancholic R&B/soul), Terlalu Manis by Slank (alternative rock), and Dunia Tipu-Tipu by Yura Yunita (contemporary pop), were used as practice and analysis materials. The evaluation results showed that by the sixth meeting, around 80% of students were able to identify music genres just by listening to the audio without seeing the song titles, with increased activity, collaboration, and confidence during presentations (Shah et al., 2024). Initial obstacles in the form of limited audio facilities were overcome through collaboration between school equipment and PPL students' laptops (Kusuma et al., 2023). It was concluded that audio-visual-based learning supplemented with reflection and presentations is an effective model for strengthening cross-genre auditory literacy for vocational high school students with zero musical background (Wahyudi & Nuraini, 2025). Recommendations for strengthening audio facilities and developing art projects based on the local culture of East Nusa Tenggara were proposed for further learning enrichment.



