PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS IV SDN KRANJINGAN 01 SEMESTER GENAP TAHUN PEMBELAJARAN 2024-2025
Kata Kunci:
Advance Organizer, Berpikir Kritis, Hasil Belajar, IPAS, Eksperimen FaktorialAbstrak
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas IV Kurikulum Merdeka dihadapkan pada tantangan lompatan konsep abstrak yang sering memicu hafalan jangka pendek (rote learning). Penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi-experimental design) melalui rancangan faktorial $2 \times 2$ ini bertujuan untuk menguji pengaruh model pembelajaran advance organizer dan kemampuan berpikir kritis secara mandiri maupun simultan (efek interaksi) terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SDN Kranjingan 01 pada semester genap tahun pembelajaran 2024-2025. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling atau cluster random sampling yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui instrumen tes kemampuan berpikir kritis (indikator Robert Ennis) serta tes hasil belajar kognitif (pre-test dan post-test), yang kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Analysis of Variance Dua Jalan (Two-Way ANOVA) setelah memenuhi uji asumsi klasik normalitas dan homogenitas. Secara teoretis dan metodologis, model pembelajaran advance organizer terbukti efektif berfungsi sebagai jangkar kognitif (scaffolding) luar yang mengorganisasikan informasi baru ke dalam struktur skema awal siswa. Di sisi lain, kemampuan berpikir kritis bertindak sebagai kapasitas internal yang kuat dalam menentukan ketajaman analisis siswa saat memecahkan masalah fenomena ilmiah. Integrasi kedua variabel ini memberikan pengaruh interaksi (interaction effect) yang sangat kuat dan positif dalam mengakselerasi pemahaman konsep IPAS yang utuh meliputi dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendekatan kombinasi ini terbukti sangat relevan dengan karakteristik perkembangan psikologis siswa usia 9–10 tahun yang berada pada fase transisi menuju pemikiran abstrak awal, sekaligus memberikan landasan ilmiah bagi praktisi pendidikan untuk merancang strategi pengajaran Kurikulum Merdeka yang adaptif di sekolah dasar.




