PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CROSSOVER & CRITICAL THINKING TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS KELAS 5 SDN SERUNI 03 SEMESTER GENAP TAHUN PEMBELAJARAN 2024-2025

Penulis

  • Maskuratul Munawaroh SDN Seruni 03
  • Hariyanto Universitas PGRI Jember

Kata Kunci:

Crossover Learning, Critical Thinking, Hasil Belajar IPAS, Eksperimen Semu, Kurikulum Merdeka

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar IPAS siswa kelas 5 SDN Seruni 03 semester genap tahun pembelajaran 2024-2025 akibat dominasi metode pembelajaran konvensional yang monoton, keterbatasan ruang kelas formal, serta minimnya stimulasi terhadap kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Masalah ini menyebabkan tingginya kejenuhan, penurunan motivasi belajar, dan rendahnya kemampuan siswa dalam menghubungkan konsep ilmiah dengan realitas kehidupan sehari-hari. Sebagai solusi, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh model pembelajaran crossover learning dan tingkat critical thinking terhadap hasil belajar IPAS siswa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif eksperimen semu (quasi-experimental design) dengan factorial design 2 x 2. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas 5 SDN Seruni 03 dengan teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling yang dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui instrumen tes esai berpikir kritis dan tes objektif hasil belajar IPAS (pre-test dan post-test), lalu dianalisis menggunakan statistik inferensial Two-Way ANOVA setelah memenuhi uji prasyarat normalitas dan homogenitas. Hasil pembahasan konseptual menunjukkan bahwa penerapan model crossover learning secara signifikan mampu meningkatkan hasil belajar IPAS dibandingkan dengan model konvensional, karena berhasil mengintegrasikan lingkungan kelas formal dengan pengalaman luar ruang yang kontekstual. Variabel kemampuan critical thinking juga memberikan kontribusi independen yang kuat, di mana siswa dengan kemampuan berpikir kritis tinggi memperoleh capaian akademik yang lebih unggul. Lebih lanjut, ditemukan efek interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan tingkat berpikir kritis siswa; model crossover sangat efektif bagi siswa kritis untuk mengeksplorasi tantangan nyata, sekaligus menjadi stimulator konkret bagi siswa berkemampuan berpikir kritis rendah. Kesimpulannya, perpaduan strategi ini berhasil mengubah pola evaluasi hafalan tingkat rendah menjadi penguasaan keterampilan proses sains yang komprehensif, retentif, serta sejalan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-30