AYAT RAQABAH DALAM AL-QUR'AN (STUDI MUQARRAN TAFSIR ATH-THABARI DAN TAFSIR AL-MISBAH)

Penulis

  • Budiman UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
  • Muhammad Taufiq UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Kata Kunci:

Ayat Raqabah, Perbudakan, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Misbah, Hermeneutika Al-Qur'an, Studi Muqarran

Abstrak

Latar Belakang: Praktik perbudakan merupakan salah satu entitas sosiologis yang membingkai ruang historis ketika wahyu Al-Qur'an diturunkan. Pemilihan diksi raqabah dalam Al-Qur'an mencerminkan rancangan epistemologis serta kebahasaan yang mendalam untuk merestrukturisasi tatanan sosial dan mengikis bentuk-bentuk subordinasi kemanusiaan secara gradual (tadriji). Tujuan: Riset ini ditujukan guna menguraikan dan membandingkan secara kritis (studi muqarran) penafsiran atas ayat-ayat raqabah dalam dua literatur tafsir monumental yang lahir dari horizon zaman berbeda: Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an karya Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari (mewakili era klasik-formatif) serta Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab (mewakili era kontemporer).Metode: Penelitian kualitatif jenis studi pustaka (library research) ini mengaplikasikan metode tafsir komparatif (muqarran) dengan pendekatan semantik-filosofis. Data primer diekstraksi secara cermat dari teks penafsiran kedua mufassir atas ayat-ayat Al-Qur'an yang mengusung term raqabah maupun riqab.Hasil kajian mengindikasikan adanya pergeseran paradigma epistemologis yang mendasar. Imam Ath-Thabari menitikberatkan penafsirannya pada aspek legal-yuridis (jurisprudential approach) berbasis metode tafsir bi al-ma'tsur, dengan mengonstruksi raqabah sebagai objek syariat dalam pembayaran denda (kafarat) serta memperdebatkan syarat keimanan hamba sahaya (raqabah mu'minah vs muthlaqah). Sebaliknya, M. Quraish Shihab mendayagunakan corak adabi ijtima'i berpijak pada analisis semantik metaforis (majaz mursal juz'iyyah), yang memaknai raqabah (leher) sebagai lambang kemerdekaan fisik dan kedaulatan eksistensial manusia. Shihab juga menegaskan metanarasi sosiologis terkait strategi Al-Qur'an dalam menyumbat pintu masuk perbudakan (inflow) serta memperlebar pintu keluar pembebasan (outflow).Perbedaan hermeneutis di antara kedua ulama tersebut berakar dari latar belakang sosio-historis pada zaman masing-masing. Walau demikian, keduanya berkonvergensi pada satu prinsip teologis yang fundamental: Al-Qur'an secara berangsur-angsur menegakkan visi kemerdekaan manusia dan kesetaraan martabat (human dignity) secara universal di hadapan Allah SWT

Background: The institution of slavery constituted a fundamental sociological entity surrounding the socio-historical space of Quranic revelation. The strategic deployment of the term raqabah signifies a profound epistemological and linguistic approach toward gradually dismantling human subordination (tadriji). Objective: This study aims to comparative-hermeneutically analyze the interpretation of raqabah verses in two landmark exegetical works: Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an by Ibn Jarir Ath-Thabari (classical-formative era) and Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab (contemporary era). Methodology: This qualitative library research applies a comparative tafsir method (studi muqarran) combined with semantic-philosophical analysis. Primary data were extracted from the exegetical texts of both scholars on Quranic verses containing the terms raqabah and riqab. Findings: The results reveal a significant shift in epistemological paradigms: Ath-Thabari focuses his interpretation on a jurisprudential-formalistic framework using the tafsir bi al-ma'tsur method, conceptualizing raqabah as a legal object for expiation (kafarat) while debating the necessity of faith qualifications (raqabah mu'minah vs muthlaqah). Conversely, M. Quraish Shihab utilizes an adabi ijtima'i (socio-literary) approach embedded with metaphorical semantic analysis (majaz mursal juz'iyyah), interpreting raqabah (neck) as a symbol of physical autonomy and human sovereignty. Shihab articulates a sociological rationale regarding the Quranic dual policy of restricting slave inflows and expanding emancipation outflows. While their hermeneutical divergences stem from contrasting socio-historical paradigms, both scholars converge on a fundamental theological principle: the Quran universally asserts human emancipation and equal dignity before Allah

Unduhan

Diterbitkan

2026-08-31