AKUNTANSI TERSEMBUNYI DALAM TRADISI SISINGAAN HIDDEN ACCOUNTING IN THE SISINGAAN TRADITION

Penulis

  • Muthia Maharani Zahra Universitas Pasundan
  • Dhafa Alya Putri Universitas Pasundan
  • Suci Ramadani Universitas Pasundan
  • Dini Sopiya Putri Universitas Pasundan
  • Deskia Meisa Windi Santika Universitas Pasundan
  • Nayla Agezty Cahya Islami Universitas Pasundan

Kata Kunci:

Akuntansi Tersembunyi, Tradisi Sisingaan, Ekonomi Budaya, Kearifan Lokal Sunda, Stewardship Theory, Studi Kasus

Abstrak

Penelitian ini membedah praktik akuntansi informal dalam ekosistem ekonomi tradisi Sisingaan di Jawa Barat menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus eksploratif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan ketua sanggar, dan studi dokumentasi di Subang. Analisis data dilakukan secara tematik. Temuan utama menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan Sisingaan tidak mengandalkan pembukuan formal, melainkan berbasis pada kepercayaan, ingatan kolektif, dan norma budaya Sunda ("Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh"). Praktik ini berfungsi sebagai mekanisme adaptif yang menjaga harmoni sosial dan keberlanjutan ekonomi, meskipun memiliki potensi risiko ketidakakuratan. Secara teoretis, studi ini memperkenalkan konsep “akuntansi tersembunyi” dalam konteks budaya lokal dan mengintegrasikan Stewardship Theory dengan kearifan lokal. Secara praktis, temuan ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan model pencatatan keuangan yang sensitif budaya guna memperkuat ekonomi kreatif berbasis tradisi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemilihan Sisingaan sebagai objek studi akuntansi yang belum terjamah dan berhasil mengonstruksi konsep akuntansi yang hidup dalam ruang informal budaya Sunda.

This study examines informal accounting practices within the Sisingaan traditional economic ecosystem in West Java using a qualitative, exploratory case study approach. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with studio leaders, and documentation studies in Subang. Data analysis was conducted thematically. The main findings indicate that Sisingaan financial management does not rely on formal bookkeeping, but rather is based on trust, collective memory, and Sundanese cultural norms ("Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh"). This practice serves as an adaptive mechanism that maintains social harmony and economic sustainability, despite the potential risk of inaccuracy. Theoretically, this study introduces the concept of "hidden accounting" within the local cultural context and integrates Stewardship Theory with local wisdom. Practically, these findings can serve as a basis for developing a culturally sensitive financial recording model to strengthen the traditionbased creative economy. The novelty of this research lies in selecting Sisingaan as an unexplored object of accounting study and in successfully constructing accounting concepts that thrive within the informal space of Sundanese culture.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-30